
Jason lekas menelpon, Rose dengan panggilan video.
"Hallo, siapa ini?"
"Rose, ini aku. Kamu lihat kan, siapa yang telah aku sandera?"
Jason menunjukkan Siska dan Merry yang tertutup matanya dan terikat tangannya.
"Hhaaa, untuk apa pula kamu mengancamku dengan menyandera mereka? apa masih kurang yakin dengan apa yang aku katakan padamu? aku sama sekali tidak peduli dengan mereka! meskipun kamu habisi mereka saat ini juga di hadapanku, aku tidak akan merasa kehilangan mereka!"
Rose malah tertawa terbahak-bahak.
"Aku serius, Rose! aku tidak main-main dengan ancamanku!"
Jason mencoba menggertak Rose.
"Silahkan saja, aku juga serius dengan apa yang aku katakan. Habisi saja mamah tiri dan adik tiriku itu sekarang juga. Sama saja kamu telah membalaskan dendamku pada mereka dengan begitu aku tidak perlu mengotori tanganku ini."
"Baiklah, Rose. Kamu lihat saja aku akan benar-benar menyiksa Mamah tirimu dulu di hadapanmu, lihatlah baik-baik apa yang aku akan lakukan terhadapnya!"
Saat itu juga, Jason menarik paksa Merry. Diapun menggoreskan pisau di pipi, Merry. Hingga Merry berteriak histeris.
"Aaauuuuhhhh sakitttt...apa yang kamu lakukan padaku!"
"Diam, kamu wanita tua!" bentak Jason kesal.
Rose melihat hal itu dari balik ponselnya, akan tetapi dia sama sekali tak tergerak hatinya atau iba pada mamah tirinya.
"Kamu lihat kan, Rose. Apa yang aku lakukan barusan terhadap mamah tirimu?"
Jason tersenyum lebar.
"Iya aku melihatnya, tapi aku tidak merasa iba sedikitpun pada dia. Untuk apa kamu mengancam aku dengan hal seperti ini, percuma saja. Aku tetap akan memperkarakan kejahatanmu terhadap aparat polisi. Sudah ya aku tutup ponselnya, silahkan kalian menambah dosa kalian dengan menyiksa atau membunuh Mamah tiri dan adik tiriku."
Saat itu juga Rose menutup ponselnya.
Sementara Jason semakin kesal karena ancamannya sana sekali tak berpengaruh pada, Rose.
"Sialan, Rose benar-benar tak terpengaruh dengan ancamanku ini! Hem, lihat saja Rose. Aku benar-benar akan membunuh mamah tirimu ini! dan besok pagi kamu akan dengar kabar dukanya! aku ingi tahu apa reaksi dirimu jika aku benar-benar membunuh mamah tirimu! masa iya kamu nggak ada rasa iba sedikitpun!" batin Jason.
Tanpa ada rasa belas kasihan sama sekali, saat itu juga Jason membunuh Merry dengan posisi mata Merry tertutup dan tangan terikat.
"Aahhhh....tidak....aku...belummm... ingin.... mati...."
Jason menghunuskan pisau ke perut dan leher Merry. Siska yang mendengar teriakkan mamahnya berubah menjadi panik.
"Mamah....hey apa yang kalian lakukan pada mamahku." Teriak Siska ketakutan.
Jason menghampiri Siska dan membisikkan kata-kata ke telinganya.
"Aku telah mengirim mamahmu ke akhirat, kamu jangan salahkan aku. Tapi salahkan kakak tirimu yang tak peduli dengan ancaman yang telah aku katakan padanya. Bahkan dia membiarkan aku untuk membunuh kalian!" bisiknya.
"Siapa kamu? sepertinya aku mengenal suaramu." tanya Siska menajamkan pendengarannya.
"Kamu tak perlu tahu siapa aku, intinya aku adalah musuh besar kakak tirimu! jika kamu ingin balas dendam, balaslah kematian mamahmu pada, Rose!" bisik Jason lagi pada Siska.
Jason memerintah anak buahnya untuk mengirimkan mayat Merry ke rumahnya dan juga membebaskan Siska pula.
"Siska, apa yang terjadi padamu dan Merry?" Paman Sam langsung saja membuka penutup mata dan ikatan di tangan Siska.
Siska begitu histeris pada saat melihat mamahnya sudah tak bernyawa.
"Mamah..... kenapa orang itu begitu kejam! dia dendam pada, Ka Rose tetapi mamahku yang jadi korban!"
Paman Sam memicingkan matanya mendengar apa yang barusan di katakan oleh, Siska.
"Apa maksud perkataanmu, Siska?" tanya Paman Sam penasaran.
Siska menceritakan semuanya bahwa dirinya dan Merry baru saja di culik oleh seseorang dan mamahnya di bunuh oleh orang tersebut.
"Jadi yang melakukan pembunuhan ini adalah orang yang benci pada, Rose? lalu kenapa mamahmu yang menjadi sasarannya?" Paman Sam semakin tak mengerti.
"Intinya kami di sandera olehnya, supaya Ka Rose menyerah padanya. Tapi Ka Rose justru tak menyerah sama sekali, dan membiarkan kami tetap di sandera. Masih untung orang itu membebaskan aku tidak membunuh aku sekalian." Tukas Siska menjelaskan di sela Isak tangisnya.
"Aneh, memangnya kenapa orang itu bermusuhan dengan Rose?" kembali lagi Paman Sam bertanya.
"Paman, sudahlah jangan bertanya terus-menerus. Tolong bantu urus pemakaman, mamah."
"Tunggu dulu, kita harus minta pertanggung jawaban pada, Rose. Semua ini kan karena ulah dia, jika tidak pasti saat ini mamahmu masih hidup!"
"Biar Paman yang kerumah, Rose sekarang juga! kamu tetap di sini tungguin jazad mamahmu!"
Saat itu juga Paman Sam pergi menyambangi Mension Michelson yang sangat megah dan mewah. Di depan pintu gerbangnya, dia berteriak histeris memanggil nama, Rose.
"Rose, keluar kamu sekarang juga! kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kamu perbuat!"
Teriakan tersebut terdengar hingga ke ruang makan, dimana Rose dan suaminya serta Paman Mike dan Tuan Rangga sedang menyantap makan malamnya.
"Mom, siapa itu memanggil namamu seperti itu?"
"Entahlah, Daddy. Sebaiknya biar aku yang keluar."
"Jangan sendiri, mom. Biar aku temani. Paman Mike dan Tuan Rangga, kalian jangan keluar rumah ya. Khawatir ini juga ancaman untuk kalian."
"Baiklah." Jawab keduanya serentak.
Sementara Michelson dan Rose melangkah keluar halaman di ikuti oleh beberapa anak buah, Michelson dan Celine.
"Oh, Paman Sam. Aku pikir siapa malam-malam teriak di depan pintu gerbang rumah orang. Ada apa datang kemari?"
"Rose, gara-gara kamu! Merry menjadi korban pembunuhan sadis! kamu harus mempertanggung jawabkan semua ini! kamu juga yang harus mengurus pemakamannya!" bentak Paman Sam.
"Apa, jadi mamah tiriku sudah meninggal dunia. Hem, aku turut berdukacita kalau begitu. Ternyata nyawanya hanya sampai di sini. Semoga di akhirat sana bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya selama dulu hidup." Rose tersenyum sinis.
"Rose, kenapa kamu malah tersenyum seperti itu? jadi kamu senang jika Merry meninggal?"
"Aku tidak pernah berkata seperti itu loh, itu kan Paman yang mengatakan. Jika aku senang dan dendam pada mamah tiriku, sudah sejak lama aku membalas dendam. Tapi selama ini aku membiarkan kalian tetap hidup kan, di rumah ku pula." Rose menatap tajam ke arah Paman Sam.
"Sudahlah tak perlu berdebat, hanya soal mengurus pemakaman saja di perdebatkan. Harusnya Paman yang bertanggung jawab mengurus jenazah kakak kandung Paman, bukan istriku. Sudahlah, kali ini aku mengalah. Biar nanti aku kirim orang-orangku untuk mengurus pemakamannya."
Michelson menengahi perdebatan antara Rose dan Paman Sam.
*****