Wonder woman

Wonder woman
Debat Kembali



"Hy adik tiri penjilat, bagaimana bisa kamu jadi pembisnis seperti ini? apa dengan kamu menikahi aki-aki yang sudah tua dan bau tanah?" tanya Rose melirik sinis pada, Siska.


"Diam kamu, Rose! kamu juga sama saja, bagaimana bisa kamu jadi direktur utama dan presiden direktur di perusahaan ini kalau bukan dengan cara menjilat. Kamu menghina aku sama saja kamu hina dirimu sendiri. Mengatakan aku penjilat tetapi kamu sendiri penjilat!" ucap Siska lantang.


"Hhhaa, sudahlah tak usah banyak kata. Kami pikir setelah aku tahu dirimu yang akan mengajak bekerjasama aku tetap akan mau kerja sama denganmu? tidak sama sekali, sekarang kamu pergi saja dari kantorku ini dan jangan sekali-kali kamu datang lagi untuk meminta bekerja sama denganku!" pinta Rose lantang.


"Aduh, mati aku. Jika aku gagal bekerja sama dengan perusahaan ini, sama saja nyawa aku di pertaruhan dan aku tidak akan mendapatkan kepercayaan dan simpati dari bos aku. Padahal aku melakukan hal ini supaya aku bisa menikah dengan bos aku," batin Siska.


Saat ini dia bekerja di perusahaan bonafit menjadi seorang sekretaris pribadi. Dan dia di janjikan akan di nikahi oleh bosnya sendiri dengan satu syarat bisa menaklukkan perusahaan yang saat ini di pimpin oleh, Rose.


"Hey, kenapa kamu masih saja berdiam diri di sini? bukankah aku sudah mengatakan supaya kamu pergi dari hadapanku. Dan ingat satu hal, jangan pernah kamu datang lagi kemari!" ucap Rose lantang.


Namun Siska tetap tak bergeming di tempatnya saat ini berdiri. Dia hanya diam saja karena sejak memikirkan cara yang terbaik untuk bisa mengambik hati, Rose.


"Aku harus bisa ambil hati, Rose. Setelah berhasil aku pasti di nikahi bosku dan aku juga akan perlahan-lahan menghancurkan perusahaan ini!" batin Siska.


Dia berpikir akan begitu mudahnya untuk mengambil hati, Rose.


"Ka Rose, aku minta maaf untuk segala kesalahanku di masa lalu. Aku mohon kakak jangan seperti ini. Mari kita bicarakan kerja sama kita," ucap Siska memelas.


"Dasar wanita bermuka dua, kamu pikir aku akan luluh dengan bujuk rayumu dan permintaan maaf palsumu?"


"Kamu pikir aku bodoh hingga aku terperangkap dengan jebakanmu? aku tidak bodoh, Siska!"


"Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan memberimu celah untuk menghancurkan aku."


"Cepat kamu keluar dari kantorku ini, jika tidak aku akan panggil security untuk menyeretmu paksa keluar dari sini."


Rose membukakan pintu pada Sisak untuk dia segera keluar dari ruang kerjanya. Pada saat Siska akan menjadi memukul perut Rose secara diam-diam, Rose reflek mencekal tangannya tersebut dan langsung memelintirnya ke punggung Siska.


"Auhh sakit, dasar wanita barbar! cepat lepaskan tanganku kalau tidak bisa parah!" teriaknya keras.


"Biar aku patahkan sekalian tanganmu ini. Jangan macam-macam denganku ya, seenaknya kamu akan melukai anakku! aku bukan kamu yang tega mencampakkan anak kandungmu sendiri!"


Rose melepaskan pelintiran tangan, Siska seraya mendorong ke luar dari ruang kerjanya. Hampir saja Siska jatuh terjerembab ke lantai, jika dia tak bisa menahan keseimbangannya.


"Awas ya , Rose! aku tidak akan melupakan perlakuanku ini padaku! cepat atau lambat kamu akan membayar semua ini!" ancam Siska seraya berlalu pergi.


Sekretaris pribadi, Rose merasa heran kenapa calon klien barunya malah pergi dengan wajah penuh amarah.


Dia pun lantas masuk ke dalam ruang kerja, Rose.


"Nona, kenapa Nona Siska pergi dulu tanpa membicarakan kerjasamanya dengan perusahaan ini?" tanya Rika penasaran.


"Tidak ada kerjasama dengan perusahaan di mana dia bekerja! satu pesan untukmu, lain kali kamu katakan dulu identitas para klien yang akan mengajukan kerjasama denganku! aku tak ingin hal ini terulang lagi!" ucap Rose masih saja marah.


"Baiklah, nona."


"Sebenarnya ada apa Nona Rose dengan Nona Siska? apa mereka bermusuhan, tapi kenapa aku tak tahu jika mereka bermusuhan? ah sudahlah yang penting aku mulai sekarang akan lebih berhati-hati lagi," batin Rika.


Sementara Siska masih saja belum percaya jika Rose yang telah memiliki perusahaan tersebut.


"Heran, darimana Rose bisa dengan begitu mudahnya memperolok perusahaan besar seperti itu. Dia sekarang semakin kaya jika seperti ini. Sudah punya garmen dan dua butik."


"Belum juga dengan perusahaan milik, Michelson. Kenapa keberuntungan selalu berpihak pada, Rose? sementara aku masih hidup seperti ini."


"Kapan aku hidup bahagia seperti, Rose. Punya segalanya dan tak akan kekurangan apa pun. Bahkan bebas kapan saja melakukan yang kita mau."


Terus saja Siska melamun sembari melangkah ke parkiran. Dia pun langsung mendapatkan telpong dari bos besarnya.


"Hallo, tuan."


"Siska, apa kamu sudah berhasil membuat pemilik perusahaan itu mau menjalin kerjasama dengan perusahaan saya?"


"Maaf, Tuan. Pemilik perusahaan tersebut menolak mentah-mentah kerjaasana yang saya ajukan."


"Bodoh amat dirimu! tugas sekecil itu saja tak bisa kamu laksanakan dengan benar. Tetapi kamu berharap untuk bisa menikah denganku."


Saat itu juga, bos perusahaan dimana Siska bekerja langsung mematikan panggilan telponnya. Dia merasa kecewa karena hasil yang di inginkan tidak sesuai dengan apa yang telah di harapkan.


"Sialan, bodoh amat Siska tak bisa mengajak kerjasama dengan perusahaan itu. Apa sebaiknya aku bertindak sendiri saja supaya pemimpin perusahaan itu mau bekerja sama denganku?" batinnya.


Hingga dia pun berinisiatif datang ke perusahaan milik almarhumah Lani saat itu juga. Dia sama sekali tak mempedulikan Siska yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke kantor.


Tak berapa lama, Tuan Kenand telah sampai di perusahaan, Rose. Dia pun meminta izin ke bagian resepsionis untuk bertemu dengan, Rose.


"Tok tok tok"


"Maasuklah," ucap Rose dari dalam ruangannya pada saat ada yang mengetuk pintu ruangannya.


"Nona, Tuan Kenand ingin bertemu dengan anda. Yakni bos di mana tadi Nona Siska kemari," ucap Rika.


"Suruh masuk saja, aku juga kebetulan ingin bertemu dengannya."


Saat itu ajuga Rika mempersilahkan Tuan Kenand masuk ke ruang kerja, Rose.


"Silahkan duduk, tuan. Saya sudah tahu apa maksud kedatangan anda kemari,* ucap Rose tersenyum ramah.


"Ya, nona. Saya hanya ingin memastikan kenapa anda belum juga kita bicara macam-macam cara kerja kita. Anda sudah tak ingin bekerja sama dengan perusahaan kami?" tanya Tuan Kenand.


"Saya tak mau jika harys bekerja sama dengan perusahaan yang memperkekerjakan seorang wanita yang suka merebut pria lain," ucap Rose ketus.


"Maksud , nona siapa?" Apakah Siska?" tanyanya penasaran.


"Iya, dia adalah diriku dan juga musuh terbesarku. Jika anda ingin benar-benar bekerja sama dengan saya, saya ingin anda pecat Siska saat ini juga."