
Seminggu sudah berlalu, dari kejadian bom bunuh diri yang terjadi di sebuah hotel berbintang lima pada acara baby shower, Rose.
Rose telah berhasil menyelidiki siapa dalang di balik orang yang melakukan bom bunuh diri.
Tanpa sepengetahuan, Michelson. Rose memiliki banyak anak buah. Sehingga walaupun Celine risgn, dia tetap bisa melakukan penyelidikan terhadap kasus bom bunuh diri.
Pada saat Rose sedang duduk sendiri di sebuah taman, tiba-tiba seorang pria yang berpakaian serba hitam menghampiri dirinya.
"Maaf mengganggu, bos." Ucap pria itu yang membuat Rose mengalihkan pandangannya sesaat.
"Bagaimana, apakah penyelidikan berhasil? dan apakah ini soal Tedy?" tanya Rose memicingkan alisnya.
"Iya, bos. Adikku telah memancing dia untuk datang ke gedung kosong. Dan anak buat saya yang lain sudah mengamankan tempat itu. Saya jamin, Tedy tak akan bisa kabur dari sana," ucap Andi menjelaskan sementara Rose tersenyum sinis. Ia sungguh tak sabar ingin memberikan hukuman yang setimpal untuk, Tedy.
"Kerja bagus, lalu kapan dia akan datang?" tanya Rose pada Andi.
"Mungkin lima menit lagi, kita hanya tinggal menunggu kabar dari bawahan saya yang sudah saya tempatkan di gedung itu."
"Kalau begitu, aku harus bersiap-siap. Andi, aku boleh minta bantuanmu?" tanya Rose kali ini dengan tersenyum penuh arti.
Sementara Andi yang melihat senyum itu pun merasa bergidik ngeri. Ia yakin bosnya itu mempunyai sebuah siasat di balik senyumannya.
"Ba...bantuan apa bos?" tanya Andi dengan tergagap.
"Asah pisauku dengan tajam!" Rose berbisik di telinga Andi yang membuat lelaki itu menelan salivanya.
"Apakah bos akan membunuh, Tedy?" tanya Andi penasaran.
"Menurutmu bagaimana apakah aku harus membunuhnya?" Rose malah balik bertanya.
"Ya kalau menurut saya sih, hukuman mati setimpal untuk dia bos tapi melihat sifat bos pasti bos tak akan membiarkan, Tedy mati dengan begitu mudahnya," ucap Andi membuat, Rose terkekeh.
"Kita lihat saja nanti," ucap Rose dengan senyum devil nya.
Lama mereka mengobrol hingga akhirnya ponsel Andi berdering dengan begitu nyaringnya.
"Bagaimana?" tanya Andi sesaat ia mengangkat telpon dari bawahannya itu.
"Tedy sudah datang bos," ucap anak buah Andi dibalik telepon.
"Baiklah kami akan segera ke sana," ucap Andi pada anak buahnya.
"Bos, Tedy sudah ada di sana," Andi memberitahu pada, Rose.
Rose tersenyum menyeringai kemudian ia mengambil pisau di dalam sakunya dan mengusap pisau itu perlahan.
"Bos, beneran mau bunuh Tedy?" tanya Andi menelan salivanya sendiri.
Sedangkan Rose tak menjawab sama sekali, dia lebih memilih masuk ke dalam mobil Andi. Andi itupun langsung menyusul Rose dan masuk ke dalam mobilnya. Kemudian mobil itu melaju tinggalkan taman tersebut.
"Apa bos tak apa-apa pergi tanpa memberitahu pada suami bos terlebih dahulu?" tanya Andi saat ini tengah memperhatikan jalanan di hadapannya itu.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka pun sampai, di sebuah gedung kosong.
"Di mana dia, Andi?" tanya Rose yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan Tedy. Tangannya sudah gatal dari tadi karena ingin memberi pelajaran pada Tedy.
"Di atap gedung bos."
"Kalau begitu bawa aku ke sana," perintah Rose kemudian dia melangkahkan kakinya bersama dengan Tedy.
Mereka bersama-sama memasuki gedung terbengkalai itu, hingga mereka sampai di mana Tedy tengah menunggu kedatangannya.
Bukan... lebih tepatnya kedatangan adik wanita Andi, tapi bukannya adik Andi yang datang tetapi melainkan Rose.
"Aku lihat kamu sedang menikmati hari-harimu ya, Tuan Tedy? hampir saja kamu akan meracuni aku di sebuah cafe dan membuat onar pada acara baby shower di sebuah hotel bintang lima."
Deg....
Jantung Teddy langsung berdegup kencang, pria itu langsung membalikkan badannya dan matanya langsung melotot seketika saat melihat Rose berdiri dengan angkuh di belakangnya seraya memegang pisau yang ia sedang mainkan dengan jari-jarinya.
"Aku pikir Rose dan Michaelson telah meninggal pada saat aksi bom bunuh diri di hotel tersebut ternyata dia masih hidup," batin Tedy.
"Kamu.. kenapa kamu yang datang?" Tedy mulai panik dan ketakutan.
Ia memundurkan langkahnya menjauhi, Rose. Namun dengan sikap anak buah Andi langsung mencekal kedua tangan Tedy agar tak kabur dari, Rose.
"Jika bukan aku yang datang lalu siapa? apa kamu sedang menunggu orang lain, Tuan Tedy? apa kamu sedang menunggu wanita idamanmu itu? sayang sekali wanita itu tidak akan datang menemuimu," ucap Ros membuat Teddy mengepalkan tangannya kuat-kuat. ia merasa telah ditipu oleh wanita yang sebenarnya adalah adik dari Andi.
Sebelum kejadian itu, adik Andi menelpon Tedy dan mengajaknya ketemuan di gedung tersebut dengan alasan dia telah menerima tawarannya untuk menjadi seorang kekasihnya. Mereka tak sengaja berkenalan lewat telepon, itu pun adik wanita Andi yang terlebih dahulu menelponnya dengan alasan salah telepon atau salah orang. Hingga berlanjut pada pertemuan yang telah direncanakan di gedung kosong tersebut.
Namun Tedy sungguh tak menyangka jika itu hanyalah jebakan untuk dirinya. agar ia bisa terperangkap oleh permainan Rose. Ia juga tak menyangka jika wanita kenalannya itu ternyata bekerja sama dengan Rose untuk memberikannya pelajaran.
"Kenapa diam, bingung ya kenapa wanita kenalanmu itu bisa memihak padaku? tapi alasan wanita itu tak penting sekarang karena aku ingin mengajakmu bermain. Bukankah permainan kita kemarin itu belum usai?"
"Kemarin kamu telah bermain-main denganku, Tedy. Jadi hari ini aku yang akan bermain-main dengan dirimu."
Ucap Rose dengan nada sinis dan dingin.
Tedy mulai ketakutan perasaannya tak enak terlebih lagi anak buahnya pun sudah tidak ada di sana dan entah ke mana perginya.
"Apa maksudmu?" tanya Tedy untuk tetap tenang meskipun ia gugup setengah mati saat ini.
Rose tak menjawab, ia hanya memberikan isyarat pada anak buah, Andi. Mereka berjalan mendekati Tedy dan melucuti pakaian lelaki itu.
"APA YANG INGIN KALIAN LAKUKAN, HAH?" teriak Tedy yang tak suka dirinya di telanjangi oleh para anak buah, Andi.
"Ikat dia ke tiang!" perintah Rose lalu di ikuti oleh anggukan para anak buah, Andi.
Mereka menyeret dan mengikat Tedy pada tiang yang telah di sediakan. Andi yang sama sekali tak tahu apa yang Rose rencanakan pun hanya bisa menjadi penonton pertunjukan itu. Setelah Tedy terikat ia pun mendekati pria yang berusaha akan meracuni dirinya dan yang akan berusaha membunuhnya pada saat acara baby shower.