Wonder woman

Wonder woman
Bertemu Linda



Beberapa jam kemudian, di rumah Linda. dia sedang kelimpungan mencari keberadaan, Reynaldi.


"Bi, apa kamu tahu Rey pergi kemana? atau kamu di pamiti nggak sama, Rey?" tanyanya pada asisten rumah tangganya.


"Maaf, nyonya saya sama sekali tak tahu. Karena saya selalu berada di paviliun belakang. Jadi tak tahu malah jam beberapa, Den Rey perginya," jawab asisten rumah tangga tersebut seraya tertunduk lesu.


"Rey-Rey, kenapa sih kamu bikin mamah tambah pusing! padahal mamah sedang banyak masalah, kamu malah membuat masalah baru untuk mamah!" Linda berlalu pergi dari hadapan asisten rumah tangga tersebut.


"Terang saja anaknya minggat, punya mamah jahat dan tak pernah perhatian pada anak. Hanya perhatian pada diri sendiri yang suka sekali liburan dan shopping. Memangnya apa nggak bosen ya tiap hari habisin duit?" batin asisten rumah tangganya.


Sementara Linda bertanya pada semua teman sekolah Rey, tapi tidak ada satupun yang tahu tentang keberadaannya.


"Apa aku lapor polisi saja ya? tapi jika belum empat puluh delapan jam juga tak akan di proses. Lagi pula Rey kan sudah besar, jadi polisi pasti akan bertanya kenapa anak sampai kabur? aku pasti malu dong, ah biar aku cari sendiri saja. Paling dia juga belum jauh perginya, karena selama ini juga dia tak pernah keluyuran," batin Linda.


Dia terus saja berusaha mencari keberadaan, Rey. Hingga lupa dengan misinya untuk mencelakai Rose karena dia saat ini fokus dengan pencarian terhadap, Rey.


Hingga sudah satu minggu berlalu dari perginya, Rey. Linda benar-benar tak berhasil menemukan anaknya. Dia akan melapor ke polisi gengsi karena pasti aparat polisi bertanya bagaimana awal mula anaknya kabur.


"Rey, sebenarnya kamu pergi kemana? kenapa pula ponsel kamu juga tak aktif sama sekali?" gumamnya meratapi kepergian anaknya.


Sementara Rey sudah merasa kerasan tinggal di mension Michelson. Dia merasa di cintai diperhatikan oleh semua penghuni orang yang ada di rumah tersebut.


"Rey, bagaimana suasana hatimu di sini? apakah kamu sudah kerasan tinggal di sini?" tanya Michelson di sela sarapan bersama.


"Om, aku sangat kerasan tinggal di sini. Semua orang yang ada di sini baik padaku. Dan aku seperti menemukan keluarga baru, punya Oma lagi jadi aku tak kesepian sama sekali," ucap Rey.


"Nenek juga senang ada kamu di rumah ini, Rey. Nenek juga serasa punya cucu sendiri, maunya nenek kamu tetap tinggal di sini saja ya?" pinta Mamah Berta.


"Aku mau banget, nek. Selama mamahku aku belum juga berubah, aku tidak akan pulang," ucap Rey.


"Oh iya, Rey. Kamu sudah siap kan, kita akan ke kampus untuk mendaftarkan kamu kuliah, sayang jika kamu hanya sampai di SLTA saja. Om, lihat nilaimu juga bagus loh," puji Michelson.


"Baru kali ini ada yang memperhatikan nilai sekolah aku, om. Selama ini tidak ada hanya Almarhumah Oma saja. Mamahku sibuk dengan urusannya sendiri yang suka liburan ke luar negeri bersama teman-teman. Hampir tak ada waktu di rumah, om," ucap Rey merasa sedih.


"Sudahlah, Rey. Janganlah bersedih seperti ini, sekarang kamu fokus saja dengan masa depanmu. Kami ada di sini mendukungmu selalu, kami sudah menganggap dirimu adalah salah satu anggota keluarga kami," ucap Rose mencoba menghibur Rey.


"Terima kasih, Tante. Aku akan. buktikan walaupun tanpa mamah aku bisa sukses," ucapnya kini penuh semangat.


"Daddy, aku nggak ikut ke kampus ya. Ada perasaan banyak di butik yang harus aku selesaikan," ucap Rose.


"Ya, sayang. Kamu kerja jangan terlalu cape ingat dengan kesehatanmu ya, ingat dengan anak-anak kita," nasehat Michelson.


Setelah sarapan Rose berangkat ke butik, kali ini dia di temeni oleh Roy. Sedangkan Michelson hanya berdua saja bersama dengan Rey ke kampus.


"Wah, om hebat banget. Padahal setahu aku jika mau masuk ke kampus ini bukan hanya di lihat dari nilai raport tali harus ikut ujian tertulis itupun harus di seleksi dulu. Ini malah cuma menunjukkan nilai raport saja eh langsung diterima. Terima kasih ya, om. Padahal aku sempat pesimis tidak akan di terima di kampus ini," Rey sangat sensng karena pada akhirnya bisa kuliah di universitas yang menjadi impiannya.


"Kamu belajar yang baik, tak usah memikirkan hal yang tak penting. Untuk segala biaya sudah diurus sama, om."


Mendengar apa yang dikatakan Michelson, Rey sangat bersemangat untuk segera kuliah.


"Sekarang kita ke mall untuk membeli segala peralatan kuliahmu dan mungkin juga baju-baju yang baru," ajak Michelson.


"Om, baju biar aku pakai yang aku bawa dari rumah saja. Aku nggak enak jika terlalu merepotkan, om."


"Rey, barusan om berkata apa? nggak usah memikirkan hal lain, yang kamu pikirkan fokus saja dengan kuliahmu nanti," ucap Michelson.


"Baiklah, om. Maafkan aku ya?"


Saat itu juga Michelson melajukan mobilnya menuju ke mall terbesar di kota tersebut. Michelson dan Rey berjalan beriringan mencari segala yang di perlukan untuk keperluan kuliah Rey.


Pada saat Rey sibuk memilih keperluannya, tiba-tiba di tepuk oleh seorang wanita yang tak lain adalah mamahnya. Sementara Michelson sedang asik menerima telpon hingga tak tahu ada Linda.


"Rey, kamu kesini dengan siapa?"


Belum juga Rey menjawab, tiba-tiba Michelson berbalik arah dan bertanya pada Rey.


"Rey, sudah ketemu yang kamu suka?" tanya Michelson seraya menatap ke arah Rey dan melirik ke arah Linda.


Sementara Linda terpana dengan wajah tampan, Michelson.


"Om, aku sudah dapat semuanya."


"Dia siapa, Rey?" tanya Michelson menatap tak suka dengan adanya Linda.


"Mamah aku, om. Sebaiknya kita pergi sekarang yuk, om. Ini aku sudah dapat semuanya." Rey menggandeng Michelson tanpa ada rasa sungkan.


"Rey, tunggu sebentar! mamah ingin bicara padamu!" teriak Linda akan tetapi Rey tetap berjalan tak menghiraukan panggilan Linda sama sekali.


"Siapa pria tampan itu? bagaimana Rey bisa bersama, boleh juga tuh untuk ganti papahnya, Rey," batin Linda tersenyum sendiri.


Linda tak ingin kehilangan jejak Rey, hingga dia berlari kecil mengejar Rey yang sedang bersama Michelson dibagian kasir untuk membayar belanjaan.


"Oh ya, Rey. Apa kamu tak ingin ngobrol bersama mamahmu?" tanya Michelson.


"Nggak, om. Tadi Om lihat kan, mamah happy banget bawa banyak belanjaan. Sudah jelas dia tak peduli dengan perginya aku," ucap Rey murung.