Wonder woman

Wonder woman
Sedang Galak



Celine lekas melaporkan pada Rose tentang usahanya yang telah berhasil.


"Nona Rose, bisa kita bicara sebentar."


"Baiklah, ayok ke ruang kerjaku."


Keduanya melangkah ke ruang kerja, Rose tanpa ada sepatah kata. Rose juga tak bertanya apa pun seolah telah mengetahui apa yang akan di katakan oleh, Celine.


Sesampainya di ruang kerja, barulah Rose membuka percakapan.


"Sekarang bicaralah."


"Nona Rose, ternyata orang yang selama ini anda cari masih hidup. Bahkan dia menggunakan anaknya untuk bisa melumpuhkan suami anda."


"Tuan Jason memiliki anak bernama, Tuan Reyhan. Dan menurut informasi yang saya dapatkan, saat ini Tuan Rey bekerja di kantor suami anda menjadi sekretaris pribadinya."


"Hem, sebentar. Sepertinya aku juga pernah mendengar suamiku menyebut nama, Rey. Bagus sekali kerjamu, Celine. Tak sia-sia suamiku memilihmu untuk menjadi asistenku."


Mendengar pujian tersebut, Celine sangat bangga. Dia tersenyum riang.


"Hem, mereka melakukan cara cantik atau cara halus untuk menusuk suamiku dari dibelakang. Tapi sebelum itu terjadi, aku yang akan menusuk mereka dahulu."


"Lantas apa rencana selanjutnya yang akan anda lakukan, Nona?"


"Hem, sebenarnya aku ingin memintamu membantuku lagi. Tetapi tugas ini terlalu berbahaya untukmu, Celine."


Rose merasa ragu saat akan menugasi Celine.


"Katakan saja, Nona. Anda tak usah sungkan, saya siap kok untuk melaksanakan tugas dari anda kembali."


Celine merasa tertantang dengan tugas yang akan di berikan oleh Rose padanya.


"Hem, jadilah mata-mataku. Dengan cara sebisa mungkin kamu menjadi kekasih, Reyhan. Itupun jika kamu bersedia, aku tidak memaksa kamu melakukan hal ini."


"Wah, dengan senang hati saya akan menjalankan tugas dari anda, Nona Rose." Celine merasa tertantang dengan tugas baru dari, Rose.


"Apa kamu yakin, Celine? ini bukan pekerjaan yang mudah, karena ini memerlukan keberanian yang tinggi."


"Saya sangat yakin, Nona. Percayakan saja tugas ini pada saya. Saya yakin mampu melakukan tugas ini dengan baik." Celine terus meyakinkan Rose.


"Ya sudah, aku percaya kamu mampu mengemban tugas ini. Tetapi kamu harus hati-hati dan selalu waspada. Kamu harus menggunakan penyamaran yang sempurna."


"Siap, nona. Tenang saja, saya akan melakukan penyamaran dengan sempurna."


"Oh iya, nona. Apa anda tak ingin menceritakan hal ini pada suami anda?"


"Untuk saat ini kita rahasiakan dulu, karena aku belum mendapatkan bukti yang kuat untuk menguak semua kelicikan, Jason dan anaknya."


"Kapan saya mulai beraksi, nona?"


"Hem, lebih cepat lebih baik. Nanti aku cari tahu dulu lewat suamiku tentang, Reyhan."


"Siap, nona."


"Jika aku sedang tidak hamil, aku akan melakukan semuanya sendiri. Tapi aku benar-benar harus membatasi semua aktivitasku. Supaya kandungan aku baik-baik saja, kamu baik-baik saja di dalam sana ya, nak. Bantu mamah untuk melindungi papah dari orang-orang yang ingin mencelakai papahmu," tukas Rose seraya mengusap perutnya sendiri.


"Nona, tak usah sungkan jika ingin memerintah saya. Saya selalu siap membantu, nona. Apa lagi saat ini nona sedang hamil muda, saya juga kadang khawatir."


"Tenang saja, Celine. Saya bisa kira-kira sendiri kok."


*****


Rose pulang kerumah dengan pikiran yang sangat penat.


"Kenapa aku merasa lelah sangat, kepalaku pusing. Sepertinya aku butuh refreshing ke suatu tempat yang sejuk dingin."


"Hem, jika villaku tak di jadikan tempat untuk persembunyian, Mamah Berta. Pasti saat ini, aku bisa istirahat ke sana."


Rose termenung di balkon kamarnya, sejak hamil dia merasa lekas lelah. Tetapi dia tak pernah mengeluh, tetap menjalankan semua aktifitas tersebut.


"Mom, kamu sedang apa di sini? aku kira sedang ada di ruang tengah."


Michelson memeluk Rose dari arah belakang seraya mengusap perutnya yang masih rata.


"Daddy, apa kamu punya villa di sebuah pegunungan yang udaranya sejuk dingin?"


"Emm....tidak, aku tak ingin kesana. Sudahlah, aku mau mandi. Badanku terasa gerah karena terlalu lama berada di pabrik garmen."


Rose melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Hem, pantas bau asem. Ternyata belum mandi," goda Michelson terkekeh.


Rose hanya tersenyum seraya melangkah menuju ke kamar mandi.


"Tok tok tok"


Ketuk Michelson pada pintu kamar mandi yang masih menutup rapat. Spontan saja orang yang ada di dalam sana mengalihkan perhatiannya.


"Ada apa, Daddy?" teriak Rose dari dalam sana dengan nada galaknya. Michelson malah terkekeh mendengar nada kesal dan jengkel yang keluar dari mulut wanita yang di cintainya.


"Sehabis mandi kita healing yuk?"


"Daddy, kamu mengetuk pintu kamar mandi hanya untuk mengatakan hal itu? oh astaga....sehari kamu menungguku selesai mandi baru mengatakan hal itu, nggak sabar banget sih," gumam Rose begitu kerasnya hingga Michelson sempat mendengarnya.


"Aku memang sengaja mengatakannya, supaya kamu tak mandi terlalu lama. Biar kita bisa healing lebih lama. Tapi sebenarnya tadi aku mau langsung masuk ke kamar mandi ikut mandi bersamamu supaya tak memakan waktu," Michelson sengaja menggoda Rose.


"Dasar suami mesum, nggak ada mandi-mandi bareng ya. Kalau kamu mau mandi, tunggu sampai aku selesai mandi dulu," teriak Rose membuat Michelson semakin terkekeh.


Michelson menjauh dari pintu kamar mandi karena tak mau membuat istrinya semakin kesal yang berimbas pada dirinya.


Tak lama setelah itu, Rose keluar dari bilik kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit dadanya hingga sebatas lutut. Mata Michelson yang di suguhi pemandangan indah tersebut tentu saja langsung melotot, adiknya di bawah sana langsung menggeliat dari balik celananya.


"Apa kamu coba menggodaku dari balik kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk seperti itu, mommy?" tanya Michelson dengan bersedekah dada.


"Siapa yang mau menggodamu, aku hanya mencari pakaian ganti. Aku tak membawa pakaian ganti, karena tadi terburu-buru."


Michelson malah menghampiri istrinya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Hem? apa kamu mau mengajak aku bercinta?" Michelson mencolek dagu Rose gemas.


"Jauhkan tanganmu dariku!"


Dahi Michelson berkerut istrinya saat ini terlihat sangat menyeramkan tidak seperti biasanya.


"Mommy, kamu ini sedang kenapa kok hari ini galak banget?"


Mendengar kata-kata tersebut, Rose menghampiri suaminya dan mencubit perut suaminya dengan begitu kencangnya.


"Aduhhhh...sakit mommy, kenapa kamu mencubitku sih? heran aku sama kamu, kenapa senang sekali menganiaya suami?" protes Michelson seraya mengusap-usap perutnya terasa nyeri setelah Rose memberikan cubitan mautnya pada perutnya itu.


"Salah sendiri kenapa, Daddy terus saja menggodaku."


Rose mengerucutkan bibirnya.


"Aku menggodamu karena aku senang jika melihat bibirmu manyun. Mommy, I love you."


Michelson memeluk tubuh Rose dengan begitu mesranya.


"Aku tak percaya dengan mulut manismu itu, Daddy. Ah sudahlah, lepaskan aku. Aku mau memakai baju."


"Mau aku bantu pakaikan tidak, mommy sayang? tanya Michelson berbisik di telinga Rose.


Ingin sekali Rose memukul kepala suaminya yang mesum itu akan tetapi ia tak melakukan itu, melainkan lebih memilih mendorong tubuh suaminya itu menjauhi dirinya.


"Jika kamu berani melakukan itu, maka aku akan mematahkan tanganmu, Daddy."


Wajah yang tadinya tersenyum kini menjadi manyun, Michelson mengha napasnya sejenak kemudian ia melepaskan tubuh sang istri dan membiarkan istrinya itu bebas melakukan apa yang ia mau.


"Nah begitu, baru bayi besarku yang imut," Rose tersenyum senang. Michelson hanya tersenyum masam.


Melihat wajah kesal pria yang ia cintai itu, Rose jadi tak tega melihatnya.


"Cup"


Kecupan manis mendarat di pipi Michelson. Hati yang tadinya kesal berubah senang, Michelson mengusap pipinya perlahan tak percaya bahwa ia akan mendapatkan ciuman yang manis dari istrinya yang judes dan galak itu.


*********