
Pagi menjelang, pemakaman Merry di urus oleh anak buah Michelson. Bahkan tanpa sungkan, Rose dan Michelson datang pula di acara pemakaman.
Sementara Reyhan dan Jason juga turut datang di acara pemakaman tersebut. Pada saat Michelson sedang bercengkrama sejenak dengan Reyhan.
Tiba-tiba Jason menghampiri Rose.
"Bagaimana pertunjukkannya, apa yang aku lakukan tidak main-main kan?" katanya lirih.
"Hem, begitu saja bangga. Bangga itu juga kamu sudah berhasil mengalahkanku dengan ancamanmu. Apa yang kamu dapatkan dari membunuh, Merry? hanya menambah dosamu saja kan? kamu pikir aku juga main-main dengan kataku, tidak kan? buktinya aku sama sekali tak iba dan mengalah padamu," cibir Rose berlalu pergi dari samping Jason.
Dia memilih mendekati Michelson dari pada terus di samping Jason. Selagi berada di samping suaminya, tiba-tiba Siska datang dan mendorong tubuh Rose. Untung saja dengan gerak cepat, Michelson menangkap tubuh Rose yang terhuyung akan roboh ke belakang.
"Siska, apa-apaan kamu! kami sudah berbaik hati datang kemari dan bahkan kami pula yang mengurus pemakaman mamahmu! kamu ingin melukai istriku?" Mata Michelson menatap tajam pada, Siska.
"Heh, Rose! mamahku meninggal juga karenamu, mamahku meninggal oleh orang yang benci padamu! mamahku jadi sasaran kebencian musuhmu! seharusnya kamu yang mati dan ada di makam itu, bukan mamahku!" teriak Siska histeris.
"Plak" satu tamparan dari Michelson mendarat ke pipi Siska.
"Dasar wanita tak tahu diri! kami sudah berbaik hati dengan mengurus pemakaman mamahmu! bukannya berterima kasih malah seperti ini kelakuanmu!"
"Jika di telaah, kamu dan mamahmu itu yang punya banyak salah pada istriku! tapi apa dia marah-marah padamu! tidak kan!"
"Tahu seperti ini, aku tak mengurus pemakaman mamahmu yang dulu pernah menjadi pelakor!"
"Mom, ayo kita pergi dari sini sekarang juga. Aku juga akan meminta seluruh anak buahku untuk kembali ke markas."
Satu hal yang sangat membuat Michelson marah adalah apabila melihat orang yang paling di cintainya di hina orang.
Saat itu juga Michelson dan Rose berserta seluruh anak buahnya pergi dari pemakaman tersebut. Bahkan tidak ada satu pun masyarakat yang simpati akan meninggalnya Merry.
Karena semua orang tahu bagaimana tabiat sifat dan perilaku Merry selama hidupnya.
Siska semakin geram melihat pembelaan yang di lakukan oleh Michelson pada Rose.
"Sialan, seharusnya aku yang ada di posisi Rose! kenapa selalu saja dia lebih unggul dariku? dan kenapa pula aku selalu kalah darinya? tak pernah aku bisa menang darinya!" Siska mengepalkan tinjunya menahan geram.
"Pah, aku pulang dulu karena ada hal yang harus aku urus." Pamit Reyhan pada Jason.
Akan tetapi pada saat, Reyhan akan melangkah. Jason meraih lengannya.
"Tunggu dulu, kamu akan kemana? kenapa kamu tak hibur, Siska yang sedang berduka?"
"Mau kemana diriku itu bukan urusan, papah. Silahkan papah saja yang urus Siska. Lagi pula papah kan yang menyingkirkan Tante Merry?" bisik Reyhan lirih.
Reyhan menepis cekalan tangan Jason, dia berlalu pergi begitu saja. Ternyata Reyhan telah ada janji dengan, Angel. Dia sengaja tak berkata pada, Jason karena khawatir Jason mengganggu kebahagiaannya.
Reyhan melangkah pergi dengan tenangnya, sementara Jason menatap angkuh kepergian anaknya.
"Hem, kenapa pula aku hanya punya satu anak. Inipun tak menurut padaku dan terlalu bodoh. Coba aku punya anak lain tetapi yang otaknya cerdas jangan seperti, Reyhan." Batinnya kesal.
"Siska, om turut berdukacita ya. Om juga minta maaf karena tak bisa berlama-lama di sini. Masih ada urusan lain yang harus om selesaikan."
"Iya, Om Jason. Terima kasih sudah bersedia datang kemari."
Sejenak Siska terdiam, dia teringat dengan seseorang yang pernah berbisik di telinganya.
"Kenapa suara Om Jason jika aku telaah mirip dengan suara pria yang menculikku dan almarhumah mamah? apa mungkin yang membunuh mamah juga, Om Jason?"
Sementara Jason ingin buru-buru menyusul kepergian Reyhan.
"Aku penasaran sebenarnya, Reyhan pergi kemana."
Akan tetapi Jason telah kehilangan jejak, karena dia terlalu lama berada di pemakaman. Sementara saat ini Reyhan sedang berdua dengan Angel.
"Angel, sebenarnya kamu suka padaku atau pada papah ku?"
"Jelas aku suka padamu, tetapi kadang papahmu itu yang mendekati aku terus. Secara jujur saja aku takut pada papahmu. Apa kamu tak bisa bersikap tegas di depanku? pada saat papahmu mendekati aku, kenapa kamu hanya diam saja? mana perjuangan cintamu untukku?"
Angel mulai beraksi dengan rayuannya.
"Hem, baiklah aku akan melakukan apa pun yang kamu mau. Karena aku telah tahu dari mulutmu sendiri jika kamu suka padaku."
"Apa kamu serius dengan ucapanmu, Rey? jika kamu akan melakukan apa pun yang aku mau?" tanya Angel mengedipkan matanya genit.
"Aku sangat serius, asalkan aku bisa menikah denganmu secepatnya pasti aku lakukan apa pun yang kamu mau."
"Reyhan sayang, aku tak ingin punya suami penjahat. Aku ingin punya suami yang baik."
"Apa maksud dari ucapanmu itu, Angel?"
"Aku sempat dengan gosip jika kamu dan papahmu itu pernah melakukan kejahatan yang sangat besar yakni membunuh seseorang. Dan saat ini kalian sedang dalam proses penyelidikan. Apa itu benar?"
"Siapa yang mengatakan hal itu padamu?"
"Tidak ada yang mengatakannya padaku, hanya aku tak sengaja sempat mendengarnya pada saat aku akan menemuimu di kantor, Tuan Michelson."
"Pada waktu itu kamu sedang mengobrol dengan papahmu. Aku minta maaf karena sempat mendengar percakapan kalian."
"Aku tiba-tiba menjadi takut padamu. Setelah mengetahui semuanya. Tetapi rasa cinta ini mengalahkan rasa takutku."
Rayuan Angel sangat mengena pada Reyhan.
"Berarti kamu bersedia menikah denganku, sayang?"
"Katakan dulu, sebenarnya apa kejahatan yang pernah kalian lakukan dulu?"
Tanpa ada rasa curiga, Reyhan menceritakan semuanya pada Angel tentang apa yang pernah di lakukan oleh papah dulu.
"Sayang, tapi ini rahasia kita ya? aku percaya padamu. Sebenarnya aku sama sekali tak melakukan kejahatan hanya papahku saja yang telah melakukan pembunuhan kejam pada, almarhum papahnya Michelson."
"Pada saat itu aku menolak untuk turut serta melakukan kejahatan ini. Papahku membunuh Om Mark dengan cara meracuninya secara perlahan-lahan."
"Hingga akhirnya Om Mark meninggal dunia. Publik tak tahu hal ini, karena papahku memang bergerak lihai. Hingga meninggalnya, Om Mark semua orang mengira karena sakit keras."
"Bahkan, papahku juga bekerja sama dengan seorang dokter ternama. Tetapi setelah usaha papah berhasil dalam menyingkirkan, Om Mark. Papah juga menyingkirkan dokter tersebut."
"Ya dokter itu mati seolah mengalami kecelakaan tunggal. Padahal rem mobil telah di sabotase oleh anak buah papah."
Reyhan bercerita semua tentang kejahatan papahnya tanpa ada rasa curiga sedikitpun pada, Angel.
Tanpa sepengetahuan Reyhan, Angel merekam semua itu.
******