
Kebetulan makanan yang tercecer di lantai di makan oleh kucing yang sedang melintas.
"Mommy, lihat. Makanan di makan kucing dan kucingnya tidak apa-apa kan?" Tukas Michelson.
"Lihat saja beberapa detik kemudian, apa yang akan terjadi pada kucing itu," tukas Rose seraya terus memperhatikan kucing yang sedang makan dengan lahapnya tumpahan makanan tersebut.
Apa yang dikatakan oleh, Rose ada benarnya. Tak berapa lama kemudian, kucing tersebut menggelepar dan mulutnya mengeluarkan busa. Saat itu pula si kucing tewas di tempat.
"Daddy, lihat kan? Jika tadi Daddy tetap memakannya, pasti Daddy yang akan alami nasib naas seperti kucing itu," tukas Rose.
'Bagaimana bisa hal ini bisa terjadi, dan bagaimana pula kamu tahu akan hal ini, mommy? apa kamu sudah beralih profesi menjadi seorang cenayang?" Michelson merasa heran dengan Rose.
"Daddy, kamu urus semua makanan ini dan laporkan pada manajer di cafe ini. Aku ada urusan sebentar."
Rose bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah dimana tadi dia melihat Tedy bersembunyi. Dengan sangat jelas, dia melihat seseorang berlari ke arah pintu belakang cafe.
"Heh, jangan lari kamu?" teriak Rose membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arahnya begitu pula dengan Michelson.
Rose tidak bisa bergerak bebas karena dia sedang hamil, hingga dia tak berani untuk berlari. Tetapi dia melangkah cepat. Sedangkan Michelson penasaran dengan sikap Rose, dia pun berlari ke arah Rose dan menanyakan sesuatu.
"Mommy, kamu melihat siapa?" tanyanya.
"Daddy, sudah jangan banyak tanya. Cepat kamu kejar Tedy berlari ke arah sana, tangkap dia secepatnya karena dia dalang di balik makanya yang beracun!"
Tanpa bertanya lagi, Michelson menuruti perintah, Rose. Sementara Rose berhenti melakukan pengejaran. Dia kembali ke mejanya, akan tetapi dia langsung menemui manajer cafe tersebut.
"Nona, mana mungkin makanan kami mengandung racun. Dan mana mungkin pula ada seseorang masuk membubuhkan racun, tapi pihak kami tidak tahu." Manajer cafe tetap tak percaya.
"Anda bisa lihat kucing yang tewas itu. Kucing itu mati karena makanan makanan ini. Jika anda masih saja tak percaya, kami akan mengecek makanan ini ke lab. Anda cek dulu rekaman CCTV, supaya anda percaya jika apa yang saya katakan adalah benar."
"Dan saya ingin pelayan cafe yang barusan mengantarkan makanan ini juga ikut di periksa. Jika anda berkeras hati, saya akan melaporkan hal ini pada aparat polisi."
Rose mengancam manajer cafe tersebut, hingga akhirnya dia pun menuruti perintah Rose. Segera dia mengusut kasus tersebut. Dia mencari salah satu pelayan yang sempat mengantar makanan ke meja Rose.
Manajer cafe juga mengecek setiap rekaman video CCTV, dan memang di temukan jika ada salah seorang pria meminta salah satu pelayan cafe untuk membubuhi racun pada makanan pesanan Rose.
Saat itu juga pelayan tersebut di panggil untuk menghadap, bahkan dia di tanya mendetail di hadapan Rose.
"Kenapa kamu lancang menaruh racun pada makanan pesanan, nona ini?" bentak manajer cafe menatap tajam pada pelayan.
"Racun, kata orang itu sebuah vitamin karena nona ini selama hamil susah untuk minum vitamin," tukas pelayan membela diri.
"Dasar bodoh, begitu saja kamu kok langsung percaya! di beri upah berapa kamu sama orang itu?" bentak manajer cafe.
"Hari ini juga saya pecat kamu, hampir saja kamu mencelakai orang! jika nona ini dan suaminya makan makanan yang kamu bubuhi racun, pasti mereka tewas dan cafe ini jadi bangkrut dengan adanya kasus ini!" bentaknya lagi.
"Bos, saya mohon jangan pecat saya. Jika saya tak bekerja lantas bagaimana saya membiayai sekolah adik saya dan menafkahi ibu saya."
Pelayan tersebut menangis seraya bersimpuh di kaki manajer cafe.
Namun manajer cafe tersebut tak bergeming sama sekali, hingga pelayanan ini beralih pada Rose.
"Nona, tolong maafkan saya. Saya benar-benar tak tahu jika itu adalah racun."
"Tuan, tolong beri dia kesempatan satu kali lagi untuk bisa memperbaiki kesalahannya. Lagi pula saya yakin dia memang tak tahu jika yang dia bubuhkan adalah racun. Dan di rekaman video CCTV juga tak terlihat jelas wajah pria yang memerintah pelayanan tersebut, sehingga percuma saja jika saya kasuskan hal ini pada pihak yang berwajib.
"Baiklah, nona. Terima kasih atas kebaikan anda, dan sekali lagi kami mohon maaf atas ketidak nyamanan ini."
Manajer cafe menangkupkan kedua tangannya di dada.
Tak berapa lama, Michelson datang dengan terengah-engah.
"Mommy, maafkan aku. Tak berhasil menangkapnya."
"Sudahlah, tak apa-apa. Sebaiknya kita pulang saja." Ajak Rose.
"Lantas bagaimana dengan acara makan siang kita?" tanya Michelson mengerutkan keningnya.
"Kita makan di rumah saja bersama mamah, malah lebih aman."
Rose bergelayut di lengan Michelson.
"Mommy, apa kamu yakin orang yang melakukan hal ini adalah Tedy?" tanya Michelson ragu.
"Yakin sekali, Daddy."
"Lihat saja, Tedy. Aku tidak akan tinggal diam begitu saja dengan apa yang telah kamu lakukan berusan. Walaupun aku dan suamiku lolos dari jebaksnmu ini, tapi aku akan tetap membalasmu!" batin Rose geram.
Rose telah merencanakan sesuatu untuk Tedy. Dia sengaja tak mengatakan hal ini pada suaminya. Pasti suaminya akan melarangnya.
Saat itu juga, Michelson melajukan mobilnya menuju arah mension. Dia merasa iba pada istrinya karena gagal mengajak makan siang.
"Mommy, maafkan aku ya? kita jadi gagal makan siang."
"Daddy, tak perlu minta maaf. Kita malah seharusnya bersyukur karena masih di lindungi oleh Yang Maha Kuasa. Hingga tak sampai keracunan." Rose menyunggingkan senyumnya.
Sementara Tedy saat ini sudah sampai di rumah, dia merasa kesal karena usahanya terbongkar sebelum dia berhasil meracuni Michelson dan Rose.
"Sialan, ternyata Rose cerdik juga. Aku tidak boleh anggap enteng kekuatan musuh. Kini aku harus mencari ide yang lain. Jika secara halus gagal, aku akan lakukan secara kasar!" gerutunya kesal.
"Tunggu saja, aku pasti akan berhasil melenyapkan suami istri itu! aku harus benar-benar menyiapkan rencana yang sangat matang untuk mereka supaya tidak gagal lagi," senyum sadis terlihat dari bibir Tedy.
Beberapa menit kemudian, Rose telah sampai di mension Michelson. Mereka lekas masuk ke ruang makan. Dimana sudah berkumpul, Mamah Berta, Paman Mike, Tuan Rangga.
"Wah, tepat sekali kalian berdua pulang. Ayok kita makan bareng biar lebih nikmat." Ajak Paman Mike.
Saat itu juga Michelson dan Rose mengambil tempat duduknya. Rose sudah tak tahan lagi menahan rasa laparnya hingga dia makan dengan begitu lahapnya.
Semua yang ada di meja makan tercengang pada saat Rose menambah porsi makannya.
"Hheee, maaf semua. Saya sudah sangat lapar sekali." Rose tersipu malu-malu.
Michelson bisa memahami sikap Rose, akan tetapi mereka sengaja tak menceritakan kejadian pada saat di cafe tadi.