Wonder woman

Wonder woman
Pertolongan Datang



Mendengar perkataan dari Raymond Rose mulai panik dan gelisah.


"Tidak.... jangan sakiti anakku"


Teriak Rose mulai khawatir, iya tak masalah jika harus mati saat ini juga tapi anak dalam kandungannya harus tetap hidup.


Iya takkan bisa hidup tanpa adanya anak ini. Anak ini adalah buah cintanya bersama Michelson. Rose tidak akan rela jika harus kehilangan bayi yang masih bersemayam di dalam perutnya.


"Kalau begitu menikahlah denganku, cantik. Maka aku akan membiarkan anakmu itu hidup dan menjalani hari-harinya," Ucap Raymond memberikan sebuah tawaran pada Rose.


Rose tak percaya akan tawaran itu, ia yakin Raymond akan tetap membunuh anaknya, meskipun ia setuju menikahi pria itu. Karena Rose tahu jika Raymond adalah seorang pria yang licik.


"Tidak, lebih baik kamu bunuh aku. Biarkan aku mati bersama anak ini, daripada aku harus menikah dengan pria brengsek sepertimu!" ucap Rose masih tak menerima tawaran dari Raymond.


"Kamu dulu telah mencampakan aku, tak mungkin aku akan kembali dengan pria yang telah menyakiti aku. Pria yang menghianati aku, selingkuh dengan adik tiriku. Apa kamu lupa akan hal itu, hah!" bentak Rose ketus.


"Minum ini cantik..." Raymond mencengkeram dagu Rose kembali.


"Tidak... aku tidak mau meminumnya...tolong....!" teriak Rose berharap ada yang mendengar teriakannya dan menolong dirinya.


"Mau tak mau kamu harus meminumnya, sialan!" Raymond memaksa Rose untuk meminum minuman itu.


Bahkan Paman Sam ikut memaksa membuka mulut Rose dengan lebar. Akan tetapi Rose tak menelan minuman yang ada di mulutnya. Dia justru menyemburkan ke wajah Raymond. Dan kembali lagi Rose menendang ************ Raymond dengan lebih keras dari tendangan yang pertama.


"Aduh ..kurang ajar ya! kamu menendang alat reproduksi aku lagi!" Raymond memegang alat reproduksinya dan merintih kesakitan.


Sementara pada saat Paman Sam akan menggantikan posisi Raymond, untuk meminumkan minuman tersebut. Akan tetapi pada saat gelas itu baru menyentuh bibir Rose lagi, sebuah peluru mengenai kaki, Paman Sam hingga ia jatuh telentang kesakitan.


"Daddy..." lirih Rose yang saat ini sudah berlinang air mata menatap suaminya itu. Kemudian Raymond dan Paman Sam di urus oleh Roy dan Celine. Ternyata di dalam tempat itu tidak ada lagi anak buah Raymond. Hanya ada Raymond dan Paman Sam.


Celine mengajar Raymond hingga babak belur dan Roy menghajar Paman Sam.


"Bugh"


"Bugh"


Suara itu begitu nyaring di telinga Rose, sementara Paman Sam dan Raymond kesakitan. Keduanya langsung di ikat oleh Celine dan Roy. Tak lupa Roy menelpon aparat polisi untuk langsung datang ke lokasi penculikan.


Keberuntungan masih ada di pihak, Rose. Karena kebetulan teriakannya terdengar oleh Celine, Roy, dan Michelson.


Pada saat Rose ke toilet tak kunjung kembali, pada saat itu Celine lekas berlari ke toilet. Akan tetapi dia tak menemukan keberadaan, Rose.


Celine tak hilang akal, hingga dia lapor ke bagian resepsionis dan meminta cek rekaman CCTV di depan toilet. Dan Celine bisa melihat jika pada saat itu Rose di seret oleh dua orang pria yang memakai topeng.


Celine langsung mengejar arah perginya dua pria tersebut membawa Rose yang pada waktu itu sudah dalam kondisi tak sadarkan diri.


Sayangnya dua pria tersebut sudah terburu masuk ke dalam mobil. Dan Celine lekas mengikuti mobil tersebut. Tak lupa dia juga memberi tahu pada, Michelson. Karena Celine khawatir masih ada gerombolan pria itu di tempat tujuan mobil yang sedang di ikuti oleh, Celine.


Michelson langsung membuka ikatan di tangan Rose, dan dia merasa sangat iba melihat kondisi pergelangan tangan istrinya yang membekas merah karena ikatan yang terlalu keras.


"Mommy sayang, apa kamu tak apa-apa?" Michelson langsung memeluk istrinya.


"Aaakkhhh....sakit, perutku sakit. Teriak Rose seraya memejamkan matanya saat merasakan perutnya melilit hingga membuat ia begitu kesakitan.


Sebelum dia pergi memberikan mandat pada Roy dan Celine agar tetap menjaga Paman Sam dan Raymond sampai aparat polisi datang.


'Kalian berdua, tunggu saja di sini hingga aparat polisi datang. Nanti kita saling berkabar."


Setelah mengatakan hal tersebut, Michelson berlari dengan membawa Rose yang terus kesakitan di dalam gendonganya.


"Bertahanlah, sayang. Mommy dan anak kita akan baik-baik saja, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," ucap Michelson menghibur istrinya.


Michelson ikut teriris melihat itu, bahkan pria itu ikut menangis melihat kondisi Rose kesakitan.


Michelson langsung melarikan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.


"Daddy, aku takut terjadi sesuatu pada anak kita. Karena aku sedikit meminum minuman yang di paksakan untuk di minum oleh, Raymond," Rose menangis ketakutan.


"Bertahanlah, mommy. Aku yakin anak kita kuat seperti mommynya. Jangan berpikiran yang enggak-enggak," tukas Michelson di sela mengemudi.


Tak lama mereka pun telah sampai di sebuah rumah sakit yang cukup besar. Dengan sangat hati-hati Michelson membawa Rose keluar dari mobil dan memasuki rumah sakit.


"Ada apa ini?" tanya dokter menghampiri Rose yang saat ini berada di dalam gendongan suaminya.


"Tolong, dok. Istri saya sedang hamil, tapi tiba-tiba dia mengeluh perutnya terasa sakit," Ucap Michelson masih terlihat panik.


"Suster, segera bantu dan bawa pasien ini keruang periksa." Teriak dokter.


Dokter tersebut masuk ke ruang periksa bersama dengan Rose yang sudah di bawa menuju ke sana dengan ranjang rumah sakit. Michelson mengikutinya.


"Mohon maaf, Tuan. Sebaiknya anda tunggu di luar saja, biarkan dokter yang menangani hal ini." Ucap salah satu perawat menghadang langkah Michelson pada saat ia ingin masuk ke dalam ruang rawat tersebut.


Michelson hanya bisa pasrah saja, dan membiarkan Rose di periksa oleh ahlinya. Pria itu terduduk lemas dibatas kursi tunggu yang tersedia di luar ruang periksa tersebut.


Sembari menunggu Rose yang sedang di periksa, Michelson menghubungi Roy menanyakan apakah aparat oleh sudah datang. Dan dia juga mengatakan di rumah sakit mana saat ini dia sedang berada.


Setelah mengetahui jika aparat polisi telah membawa kedua tersangka, hati Michelson sedikit lega. Kini dia memikirkan kondisi istri dan anaknya.


"Semoga istri dan anakku baik-baik saja, dan aku pastikan kedua tersangka akan meringkuk di penjara dalam waktu yang cukup lama!" Michelson mengepalkan tinjunya geram mengingat apa yang telah menimpa istrinya.


Setelah cukup lama menunggu, dokter keluar dari ruang periksa tersebut. Dan dia langsung menemui Michelson. Belum juga dokter mengatakan kondisi Rose dan bayinya. Michelson telah terlebih dahulu bertanya.


"Bagaimana kondisi istri dan anak saya, dok?" tanya Michelson dengan wajah paniknya.


"Anda tak perlu khawatir, kondisi istri dan anak anda saat ini baik-baik saja," tukas dokter tersenyum.


"Tapi istri saya sempat merasa kesakitan, dok?" tanya Michelson lagi.


"Itu terjadi karena istri anda sempat alami hal yang sangat menguras emosinya dan juga biasa menjelang usia kehamilan lima bulan ke atas sering kali alami sakit atau kram karena otot pada perut sedang merenggang mengimbangi tumbuhnya janin."


Mendengar penjelasan dari dokter, Michelson sekarang sudah benar-benar bisa bernapas lega.


"Puji syukur, terima kasih ya dok."