
Berjalannya waktu cepat sekali, tak terasa sudah satu minggu berlalu. Rose setelah berhasil membalas dendam pada Paman Sam dan Raymond. Kini Raymond menjadi lumpuh dan tidak bisa menggunakan kedua kakinya sama sekali itu juga berkat perbuatan dari anak buah Rose yang ada di dalam lapas. Sedangkan Paman Sam meninggal dunia karena di dalam tubuhnya menjalar racun yang sering di suntikan oleh perawat yang diperintahkan oleh anak buah, Rose.
"Hem, kerja yang sangat sempurna. Aku telah berhasil membalas dendam pada Paman Sam dan Raymond. Semoga tidak ada orang yang ingin mencelakai anakku lagi," batin Rose seraya mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat buncit.
"Nona, hari ini saya izin tidak bisa mendampingi anda. Karena saya ada suatu kepentingan penting dengan kakak saya. Kami berdua akan pergi ke luar negeri untuk menghadiri hajatan saudara kami." Tukas Celine di hadapan Rose.
"Hem, ok nggak apa-apa. Kalian yang hati-hati ya." Pesan Rose.
"Apa kamu dan Roy telah meminta izin pada suamiku?" tanya Rose balik.
"Sudah, nona. Ka Roy sudah izin, dan saya di sarankan izin juga pada anda," jawab Celine.
Saat itu juga Celine dan Roy pergi untuk beberapa hari ke luar negeri. Sementara seperginya Michelson ke kantor. Rose merasa suntuk di rumah, hingga dia memutuskan untuk keluar sejenak mengontrol butiknya.
"Maafkan aku suamiku, jika aku terus saja di rumah rasanya tidak nyaman juga."
Rose pun mengemudikan mobilnya secara perlahan merayap jalanan kota yang masih sepi karena masih terlalu pagi.
"Tolong...... tolong...."
Tanpa sengaja Rose mendengar ada teriakan minta tolong arahnya dari sebuah gang kecil yang jarang di tapaki orang. Rose menghentikan laju mobilnya di pinggir gang tersebut. Dia pun masuk ke dalam gang tersebut ke arah sumber suara, dengan mengenakan tas selempang besar yang isinya ruyung, pisau lipat dan beberapa alat untuk membantunya melawan musuh jika dalam kondisi kepepet.
Di dalam gang tersebut, Rose melihat ada seorang gadis kecil sedang di seret oleh dua orang preman. Gadis itu di tarik paksa oleh kedua orang preman.
Rose terkekeh melihatnya," Dua pria satu gadis ckckck...dasar rendahan kalian berdua!"
Lalu mata Rose menyipit dan mempertajam penglihatannya melihat gadis itu. Gadis kecil itu menatap sendu ke arah Rose seolah meminta pertolongan. Hingga Rose merasa iba padanya.
Rose menatap datar ke arah dia preman dan gadis kecil itu. Salah satu preman menyadari keberadaan, Rose.
"Haaa ada wanita cantik, lagi hamil pula. Bos, aku belum pernah loh merasakan punya wanita hamil. Hem wajahnya cantik, sangat menggiurkan, bos." Ucap salah satu preman.
"Silahkan kamu ambil, kalau aku mending gadis kecil ini. Aku sama sekali tak berselera dengan wanita yang sedang hamil," kata preman yang di panggil bos itu.
Rose masih diam dan datar menatap mereka semua. Sedangkan gadis kecil tersebut menangis karena tangannya terus saja di tarik-tarik oleh kedua preman.
"Ka, aku mohon tolong aku." Pinta gadis kecil itu menatap memohon ke arah Rose.
Lalu salah satu preman berkata," lihat saja wanita itu sedang hamil, dan tak akan menolongmu! dia tak kan bisa berbuat apa-apa, jadi kamu menurut saja pada kami!"
Gadis kecil itu semakin ketakutan Ia terus saja memasang wajah memohon ke arah, Rose.
Rose memutar bola matanya. Ia melangkah maju mendekati preman itu yang masih menahan gadis kecil itu. Sambil melepaskan kaca matanya dan meletakkan di dalam tas selempangnya yang besar.
"Hem, sepertinya aku tak perlu menggunakan alat-alat yang aku bawa di dalam tas ini. Cukup aku hadapi dengan tangan kosong saja," batin Rose terus saja menatap ke arah kedua preman seraya mengira-ngira kekuatan dua pria tersebut.
Rose memegang salah satu tangan preman," cepat lepaskan dia!"
"Kau ingin mati!" preman tersebut menepis tangan Rose.
"Arghh!"
Secara bersamaan melihat, salah satu bola mata preman tertusuk sebuah benda tajam. Rose menusuk bola mata preman tersebut dengan pulpen yang dia ambil di saku kemejanya.
Karena sakit matanya tertusuk lalu terjatuh duduk di tanah. Melihat bosnya begitu, pastinya preman yang satu menjadi panik.
Di tengah-tengah kepanikan, Rose langsung menarik tangan gadis kecil itu yang sudah terlepas. Gadis kecil itu masih terdiam dan ketakutan.
"Menjauhlah dari sini, aku akan mengurus preman yang satunya. Nanti aku antar kamu pulang ke rumahmu," perintah Rose pada gadis kecil itu.
Gadis kecil tersebut mundur beberapa langkah menjauh dari Rose dan preman itu.
Rose menoleh ke salah satu preman yang sedang membantu preman lainnya.
"Aku ingin sekali bermain dengan kalian. Selagi kita di dalam jalan sepi dan sempit ini sungguh menguntungkan untukku," tukas Rose tersenyum sinis.
Tiba-tiba ada pisau datang, dengan cepat Rose menangkap pisau di tangan satunya.
Krak!
Rose berhasil memelintir tangan preman tersebut. Ia langsung menjerit kesakitan," Aaargghhh....!"
Tentu saja pasti sangat sakit.
Rose berhasil merebut pisaunya, meski ada sayatan pisau di tangannya saat merebutnya. Rose mengelap darah yang keluar dari sayatan pisau tersebut dengan tissue.
Lalu menatap preman yang memegang matanya yang tertusuk dan satunya memegang tangannya setelah Rose memelintirnya.
Di sisi lain, gadis kecil itu semakin ketakutan apa lagi melihat darah yang keluar dari mata salah satu preman yang terkena luka tusukan.
Gadis kecil tersebut khawatir dengan Rose yang melawan dua preman tadi. Mungkin satu preman sudah tumbang, tapi satunya lagi belum. Tanpa sepengetahuan Rose, gadis kecil ini berlari ke luar dari gang. Tapi kakinya tak bisa berhenti berlari, karena panik dan takut. Lalu ia melihat ada sebuah taxi melintas.
Gadis kecil ini segera menghadangnya. Taksi itupun berhenti, dengan cepat ia langsung masuk dan menyuruh sang sopir taksi pergi dari tempat tersebut dan menuju ke alamat rumahnya.
Di sisi lain Rose terkekeh karena telah berhasil mengalahkan ke dua preman tanpa butuh waktu lama.
Rose celingukan mencari gadis kecil yang dia tolong, tetapi tak dia temukan.
"Hem, dimana gadis kecil itu? sudah aku katakan supaya jangan pergi, aku akan mengantarnya pulang ke rumahnya jika aku sudah selesai mengurus ke dua preman itu. Malah dia pergi tanpa berkata apapun, semoga dia baik-baik saja hingga sampai di rumah nya." Gumamnya seraya melangkah pergi meninggalkan dua preman yang dari tadi terkapar tak berdaya.
Rose segera melajukan mobilnya menuju ke arah butiknya lagi. Dia sudah tak memikirkan gadis kecil tadi.
Sementara gadis kecil tadi telah sampai di depan pintu gerbang. Dia pun langsung berlari ke arah pintu gerbang dengan masih panik dan takut. Segera memecet bel pintu gerbang.
Setelah asisten rumah tangga membukanya, dia langsung masuk berlari.