
Security yang mendengar teriakan dari bosnya langsung datang.
"Seret wanita ini keluar dan jangan biarkan dia datang lagi kesini!" perintah Berto tidak bisa di bantah.
Security pun segera membawa Siska sebelum kemarahan Berto semakin besar.
"Lepas!" Siska berontak di luar ruangan.
Aksinya sempat di lihat oleh para karyawan lain, dan semua mencibir ke arahnya.
"Hhuuu dasar wanita tak tahu malu! sudah jelas-jelas di tolak kok malah masih saja menampakkan diri!"
"Ya begitulah kalau wanita yang tak punya harga diri ya seperti itu."
Ejekan demi ejekan di lontarkan oleh para karyawan membuat Siska sangat marah dan dia menghampiri meja para staf karyawan tersebut. Dan langsung mengobrak abrik berkas yang ada di meja para karyawan.
"Diam kalian! ini aku acak-acak biar kalian tahu rasa!" bentak Siska sama sekali tidak ada rasa malunya.
Security langsung kalap dan menyeret paksa Siska.
"Nona, mending sama aku saja ya? karena bos nggak doyan dan nggak level dengan wanita murahan sepertimu," ejek security seraya terus menarik tangan Siska membawanya keluar halaman kantor.
"Maaf, Nona.. Sebaiknya anda pergi dan jangan kembali lagi." Ucap security pada Siska pada saat telah sampai di pelataran.
"Awas kalian!" Siska akan melenggang pergi tidak terima di perlakukan seperti itu.
Namun dia berhenti pada saat berpapasan dengan Sindy yang sedang berjalan di tuntun oleh baby sitter nya.
Sindy tersenyum dengan lebarnya bersama baby sitternya. Wajah Siska marah melihat Sindy, ia pun menghampiri mereka dan menyeret Sindy dengan kasar.
"Aduh sakit..." rengek Sindy karena cengkraman Siska.
"Eh, nona..apa yang anda lakukan padanya, lepaskan dia!" teriak baby sitter melihat Sindy di perlakukan kasar.
"Jangan coba ikut campur!" bentak Siska.
"Heh, nona! lepaskan dia, atau aku akan bertindak kasar!" bentak security melotot pada Siska.
"Silahkan saja, jika kamu berani mendekat aku akan patahkan tangan anak ini!" ancam Siska sama sekali tak gentar.
Namun hal ini tidak berlaku pada sang security, dia pun menghampiri Siska. Dan pada saat Siska lengah, menarik tangan Sindy dan berdiri di hadapan anak kecil tersebut untuk melindunginya.
Sindy lekas berlari ke arah sang baby sitter memeluk sang baby sitternya.
"Apa kamu tidak tahu siapa aku! awas menyingkir dari anak kecil itu!" ancam Siska.
"Aku sama sekali tak peduli siapa kamu! karena kamu yang telah berbuat salah!aku sama sekali tidak takut padamu dan takkan menyingkir!" ucap security lantang melindungi Sindy. Sindy yang merasa takut terus saja bersembunyi di balik tubuh sang baby sitter.
Resty yang sempat melihat itu, mempunyai inisiatif untuk segera melaporkan pada Berto. Ia berlari dengan terburu-buru.
"Tok tok tok"
"Ada apa, Resty?" tanya Berto di kursi kerjanya.
"Maaf, Tuan" Resty terengah-engah saat berada di depan pintu ruang kerja Berto yang sempat terbuka. Napasnya tersengal- sengal karena berlari.
Berto mengerutkan dahi menatap Resty.
"Siska, Tuan. Berbuat kasar pada nona kecil di pelataran kantor."
Sedangkan di belakang Siska, semua karyawan yang melihat akan hal itu tidak berani mendekat karena mereka tahu siapa Siska.
"Jangan ikut campur, ini urusanku dengan anak kecil itu! Siska keras kepala tetap saja ingin menggapai tangan Sindy. Walaupun security terus saja menghadang di hadapannya.
Tiba-tiba Siska mendorong security tersebut dan mendorong tubuh baby sister, dan menyeret Sindy membawa pergi.
"Siska!" suara mengagetkan siapa saja yang mendengarnya. Rahangnya mengeras dan wajahnya merah karena marah.
Baby sitter tersebut segera mengambil Sindy lagi dan membawanya agak menjauh.
"Nona kecil tidak apa-apa kan?" tanya Mba Tuti.
Sindy hanya merespon dengan menggelengkan kepalanya.
"Siska, kamu masih saja berbuat kasar pada anakku! Bersiaplah untuk menerima kehancuranmu!" Berto terlihat benar-benar murka saat ini.
Ia tidak akan membiarkan siapa saja yang berbuat kasar pada Sindy merasa tenang.
"Security seret dia pergi dari sini! aku tidak ingin melihat wajah wanita ini lagi!" perintah Berto.
Security membawa paksa Siska ke jalan raya, bahkan mobil yang telah di berikan ke Siska oleh Berto di minta kembali. Siska terus saja memberontak dan berbicara kasar pada security. Security tidak peduli semua kata kasar yang di lontarkan oleh Siska padanya.
"Sindy tidak apa-apa kan, sayang." Berto mensejajarkan tubuhnya pada Sindy.
"Tidak, Daddy. Kan ada mba Tuti. Daddy, Sindy ikut Daddy ya?" rengeknya.
"Ya sudah, sini naik ke punggung Daddy."
Berto menggendong Sindy, akan tetapi sebelum melangkah kembali ke ruangannya, dia mengucapkan sesuatu pada, Tuti.
Sejenak Berto menatap sang baby sitter.
"Terima kasih atas bantuannya, kembalilah bekerja." Ucap Berto pada Tuti, lalu melenggang pergi ke ruangannya.
Jarang sekali Berto mengucapkan kata itu pada siapapun. Entah mendapat dorongan dari mana ia mengatakan hal itu pada, Tuti.
"Wah, ajaib Mba Tuti. Bagaimana bisa Tuan Berto mengucapkan itu, bahkan dia tak pernah mengucapkan kata-kata keramat itu pada siapapun," Kata Resty terkekeh.
"Sudahlah, Mba Resty kembali bekerja nanti kena omel Tuan Berto loh. Aku juga akan pulang ke rumah, karena aku nggak mau nanti gajiku di potong," tukas Tuti melangkah pergi.
Tuti lekas menuggu angkutan umum arah rumah Berto. Sementara saat ini Siska telah sampai di rumah peninggalan orang tua Rose. Dan dia saat ini sedang mendapatkan kemarahan dari Paman Sam.
"Astaga Siska, sebenarnya apa yang kamu lakukan lagi, hah?" bentak Paman Sam dia mulai geram.
"Akibat kamu berulah, sekarang kamu tak bisa lagi mendekati Berto. Padahal ini adalah kesempatan terbaik untukmu supaya bisa merubah nasibmu menjadi milyader!" bentak Paman Sam.
"Kenapa menyalahkan aku sih, Paman? anak kecil itu yang salah, bukan aku." Elak Siska tak mau di salahkan.
"Kamu memang benar-benar bodoh, Siska. Merebut hati anak kecil saja tidak bisa. Dan sekarang kita rugi besar karena tingkah lakumu itu yang sangat sulit di atur," Paman Sam mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bingung harus bagaimana lagi untuk bisa menghadapi sikap Siska.
Sementara Siska diam saja asik dengan ponselnya. Dia sama sekali tak menghiraukan segala ucapan Paman Sam.
"Hidup kok di bikin repot, di bikin pusing. Jika gagal mendapatkan hari Berto ya mau bagaimana lagi. Di dunia ini kan banyak lelaki kaya bukan hanya Berto. Untuk di permasalahkan seperti ini, paman- Paman," batin Siska menggerutu sendiri.
Dia sama sekali tak merasa menyesal ataupun kecewa dengan apa yang barusan telah menimpa dirinya.
"Lihat saja, Berto! aku akan buktikan jika aku akan mendapatkan pria yang lebih kaya darimu dan bahkan muda!" batin Siska begitu yakinnya.