
Linda terkena hukuman sendiri atas laporannya sendiri. Dia benar-benar masuk ke dalam penjara dengan kasus laporan palsu.
"Rey, maafkan kami ya. Terpaksa kami melaporkan balik mamahmu," ucap Rose.
"Nggak apa-apa, Tante. Biarkan saja supaya mamah jera dan tak melakukan itu lagi," ucap Rey dia sama sekali tak keberatan pada saat tahu mamahnya di penjara untuk beberapa bulan lamanya.
Rey tetap tinggal di mension Michelson, sesuai dengan permintaan Rose dan Michelson. Rey sangat antusias dengan kuliahnya.
"Aku janji tidak akan membuat kecewa, om dan Tante yang sudah begitu baik padaku. Kebaikan dan perhatian mereka melebihi mamahku sendiri. Dia hanya memikirkan kesenangannya sendiri," batin Rey.
Dia bagai menemukan kehidupan baru, keluarga baru sejak kenal Michelson dan Rose. Hidupnya lebih berwarna lebih bersemangat dan tak lagi murung. Itu sangat terlihat dari wajahnya.
"Nenek-tante-om dan kakek Mike serta kakek Rangga. Terima kasih ya, sejak ada kalian hidupku tak kesepian lagi. Dulu pada saat aku di rumah, aku sering merasa kesepian karena mamah suka liburan ke luar negeri dan shopping senang-senang bersama teman-temannya. Aku punya Oma tapi tak di izinkan dekat dengan Oma," ucap Reyndi.
"Iya, Cu. Kami juga senang ada kamu di sini bisa untuk teman main catur atau temen bercerita," Ucap Paman Mike terkekeh.
Suasana sore itu pada saat makan bersama terasa hangat dan ramai. Kini Michelson juga tidak merasakan kesepian lagi. Karena susmdah bertambah orang di dalam rumahnya. Dulu dia selalu merasa kesepian karena hanya seorang diri saja.
Setelah acara makan bersama, Rey kembali ke kamar untuk mulai belajar pelajaran di kampusnya. Sementara Michelson dan Rose juga kembali ke kamar untuk berkutat dengan laptop masing-masing.
Berbeda dengan para tetua seperti Mamah Berta, Paman Mike, dan Tuan Rangga. Mereka berkumpul di ruang tengah.
******
Pagi menjelang aktifitas berjalan seperti biasanya. Rey berangkat kuliah dan Rose serta Michelson berangkat kerja. Mereka begitu bersemangat menjalani hari-harinya.
Hingga di suatu senja rasa lelah mendera. Rose karena kehamilannya yang sudah terlihat sangat besar. Dia merebahkan tubuhnya di pembaringan seraya melihat acara televisi.
"Mom, kamu sudah pulang?" tanya Michelson seraya memijit kakinya.
"Aku cuma setengah hari berada di butik karena rasanya lelah sekali," ucapnya.
"Hem, tumben wanita perkasa ku bisa merasakan lelah. Biasanya kamu seperti singa betina yang tidak ada rasa lelah sama sekali," canda Michelson terkekeh.
"Hem, Daddy. Besok saat Daddy ke kantor, tolong antar aku ke kantor juga ya? kebetulan ada beberapa meeting yang harus aku hadiri. Tetapi aku sedang malas menyetir mobil sendiri," ucap Rose tak menghiraukan candaan suaminya.
"Hem, iya mommy. Sebenarnya aku ingin kamu menyerahkan perusahaan itu pada orang lain, karena aku juga terlalu sibu dengan perusahaanku baik yang di luar negeri maupun di sini. Jadi aku tak begitu ada waktu mengurus perusahaan peninggalan almarhumah Tante Lani."
"Mommy, bukan maksud aku menghalangi karir mu ini. Tapi aku tak tega melihatmu kelelahan setiap hari. Kamu kan sedang hamil baby twins."
Mendengar akan hal itu, Rise bisa mengerti tetapi dia juga tak bisa menyerahkan perusahaan itu pada sembarang orang.
"Daddy, aku sangat mengerti apa yang kamu inginkan. Tapi ini adalah sebuah amanah dari almarhumah Mamah Lani. Dia akan kecewa jika aku tak mengindahkan amanahnya."
"Lagi pula aku jga belum menemukan orang yang tepat untuk menggantikan posisi aku untuk membimbing perusahaan itu."
"Sabar ya, Daddy. Aku juga sedang mencari orang yang tepat, supaya perusahaan tidak jatuh ke tangan orang yang salah. Apalagi aku juga telah bersusah payah hingga perusahaan itu sekarang berkembang sangat pesat."
"Aku juga tak mau membuat orang yang telah menyerahkan perusahaan itu kepadaku merasa kecewa karena karena aku menyerahkan perusahaan itu pada orang lain."
"Em, maaf aku tak bermaksud menekanmu mommy. Kamu boleh kok membangun bisnismu setelah kamu melahirkan. Tapi kamu boleh memikirkannya lagi, aku akan menerima apapun keputusanmu."
"Jika kamu memilih perusahaan itu, akupun tak masalah asalkan kamu bisa membagi waktumu dan bisa jaga kesehatanmu."
Michelson mengusap pipi Rose dengan penuh kasih sayang, jujur ia tak ingin membuat sedih istrinya.
"Tapi aku juga tak ingin membuat mu dan anak-anak kita terbengkalai karena pekerjaan aku, Daddy. Tapi aku juga tak tahu harus memutuskan seperti apa, Daddy." Rose terlihat sangat galau dan resah.
Michelson hanya tersenyum, kemudian ia mencium pucuk kepala istri terkasihnya.
"Sudahlah, mommy. Untuk saat ini kita nggak usah memikirkan hal itu dulu, jalani dulu apa adanya," ucap Michelson menghibur istrinya supaya tidak gelisah lagi
"Daddy, jangan khawatir ya. Mungkin aku akan menyerahkan perusahaan ini pada satu-satunya orang yang berhak menerimanya selain diriku."
Ucap Rose baru kepikiran salah satu orang yang sebenarnya lebih berhak menerima perusahaan itu dari pada dirinya.
"Siapa dia?" tanya Michelson penasaran.
"Aku tak bisa memberi tahumu sekarang karena aku ingin tahu lebih dahulu apa jawaban orang itu nanti jika dia mau menerima tawaran ini aku akan memberi tahumu, sayang."
"Niatku setelah aku melahirkan anak kita, Daddy. Aku akan membicarakan hal ini dengannya."
Mendengar akan hal itu, Michelson merasa lega.
"Tapi kamu tak terpaksa kan melepaskan perusahaan itu sayang. Aku hanya tak ingin kamu merasa terbebani, dan terpaksa karena tak ingin membuat aku kecewa," ucap Michelson tak ingin Rose bersedih dan menyesal nantinya setelah melepaskan perusahaan itu.
"Tidak sama sekali, Daddy."
Jawab Rose dengan senyum tulusnya yang membuat Michelson seketika lega saat mendengar akan hal itu.
Setelah percakapan yang cukup lama, mereka pun akhirnya tertidur pulas. Hingga menjelang pagi barulah mereka terbangun untuk melakukan aktivitasnya kembali.
Rose sengaja tak mengemudi sendiri karena dirinya tak ingin kelelahan. Kehamilan tujuh bulan seperti hamil sembilan bulan karena perutnya terlihat begitu buncit karena di dalamnya ada dua bayi.
"Sayang, apa aku perlu ikut meeting untuk mendampingi dirimu. Kebetulan aku sedang ada waktu luang kok," ucap Michelson penuh antusias.
"Wah, boleh banget Daddy. Aku sangat senang sekali malah jika kamu mau ikut ke kantor," tiba-tiba Rose mencium pipi Michelson.
"Aahhhh lagi dong, tapi di sini ya."
Ucap Michelson seraya menunjuk ke arah bibirnya sendiri sembari menarik turunkan alisnya.
"Hem, biasa ngelunjak dech. Di kasih hati mintanya jantung," cibir Rose.
Mendengar apa yang di katakan oleh istrinya, Michelson hanya terkekeh pelan.