Wonder woman

Wonder woman
Michelson Telah Pulih



Rasa lelah mendera, Rose pulang langsung ke kamar di mana suaminya masih tergolek tak berdaya.


"Daddy, apa kamu tak lelah terus saja berbaring seperti ini? apa kamu tak rindu padaku dan calon anak kita, hingga kamu tak jua bangun? betah sekali kamu tidur begitu lamanya, Daddy?" Rose menggenggam jemari tangan suaminya.


"Daddy, sudah enam bulan umur kehamilanku. Aku ingin pada saat aku melahirkan kamu menemani aku, Daddy. Ayohlah bangun sayang, aku sangat rindu padamu begitu pula anak ini."


Rose meraih tangan suaminya dan mengusapkan ke perutnya sendiri serta membiarkan tangan Michelson tetap berada di perut supaya berinteraksi dengan baby-nya.


"Daddy, rasakan betapa lincahnya anak kita di dalam sana. Selama ini dia selalu setia menemaniku menjalani hari-hari di saat kamu masih seperti ini."


"Anak kita begitu hebat, Daddy. Dia yang selalu memberikan semangat bagiku menjalani hari-hari walaupun tidak ada dirimu di samping aku."


Rose tiba-tiba merasakan kantuk yang mendera, dia pun tertidur di sebelah ranjang tanpa sadar. Pada saat Rose terlelap nyenyak, tiba-tiba ada suatu pergerakan dari tangan, Michelson.


Perlahan tangannya mengusap perut.


"Sayang, maafkan Daddy ya begitu lamanya Daddy tidur hingga tak peduli dengan dirimu dan mamahmu."


Tangannya beralih mengusap surai hitam istrinya yang sedang tertidur nyenyak.


"Mommy, aku rindu sekali dengamu. Maafkan aku mommy, membiarkanmu menjalani hari-hari seorang diri. Pasti kamu lelah sekali kan?"


Michelson sedari tadi berkata di dalam hatinya, mulutnya mulai menyunggingkan senyumnya. Dia bersyukur akhirnya bisa melewati masa komanya yang begitu panjang.


Rose merasakan sentuhan di kepalanya, dan dia pun lekas membuka matanya. Dirinya sangat riang melihat suaminya sudah membuka matanya dan tersenyum padanya.


"Daddy, kamu benar-benar sudah sadar? apakah aku sedang bermimpi?" Rose mencubit pipinya sendiri dan seketika kesakitan sendiri.


Tingkah Rose membuat Michelson tersenyum lebar.


"Mommy, kamu ini aneh. Aku ini nyata bukan mimpi," ucapnya lirih.


"Selama aku tidur panjang, aku selalu merasakan seperti sedang berbicara denganmu atau dengan anak kita dan juga dengan mamah," ucapnya lirih.


"Daddy, jangan banyak bicara dulu. Aku akan panggil dokter dan perawat ya."


Saat itu juga Rose memanggil dokter yang merawat Michelson.


Segera dokter dan perawat datang, dokter memeriksa kondisi Michelson begitu teliti dengan penuh senyuman. Kabar Michelson telah sadar dari komanya terdengar hingga ke telinga Mamah Berta. Dia juga lekas melangkah ke kamar di mana Michelson sedang di rawat.


"Puji syukur, kamu telah sadar nak. Mamah merindukan dirimu," mata Mamah Berta berkaca-kaca.


"Iya, mamah. Aku juga rindu mamah dan juga Rose serta calon anakku," ucap Michelson lirih.


Sejenak Michelson di periksa oleh dokter dan kondisinya benar-benar telah pulih, hanya menunggu masa pemulihan saja. Semua yang mendengarnya sangat senang. Saat itu juga dokter memberikan peluang pada keluarga Michelson untuk menumpahkan rasa rindu pada, Michelson.


"Mamah pergi dulu ya, kamu bercengkrama saja dulu dengan istrimu," ucap Mamah Berta.


"Mommy, maafkan aku ya. Aku tidur terlalu lama. Bagaimana kabar anak kita?" tanya Michelson seraya mengusap perut Rose yang sudah terlihat membuncit.


"Anak kita sehat dan kuat serta hebat," ucap Rose tersenyum riang dengan mata berkaca-kaca.


"Nak, terima kasih ya. Kamu telah menjaga mommy dengan baik. Dan kamu mommy, terima kasih karena kamu benar-benar wanita yang sangat hebat dan kuat. Walaupun kamu jalani hari-hari tanpa adanya diriku, tapi kamu sanggup melewatinya," ucap Michelson memegang pipi Rose.


Rasa bahagia kini sedang melanda keduanya. Rose tiada henti mengucap rasa syukurnya pada yang kuasa atas anugerahNya hingga suaminya kini telah sadar dari komanya.


Rose sudah lega rasanya karena tahu jika kondisi suaminya tidak ada penyakit yang serius.


"Daddy, aku tak ingin terjadi lagi hal seperti ini. Ini sungguh menyiksa aku," ucap Rose mengerucut bibirnya.


"Hem, aku tahu kenapa kamu berkata seperti itu. Karena tidak ada tempat untuk mencurahkan amarahmu iya kan?" ucap Michelson terkekeh.


"Hem, bukan hanya itu. Aku juga rindu masakanmu, Daddy. Anakmu ini selalu ingin makan masakan daddynya tetapi sayangnya Daddy tidurnya lama sekali. Apakah selama tidur Daddy tidak pernah bermimpi tentang aku dan anak kita?" tanya Rose.


"Mommy, aku selalu memimpikan dirimu dan anak kita juga mamah. Kalian seolah selaku mengajakku berbicara tetapi aku tidak bisa berbicara sama sekali. Dan aku juga susah untuk membuka mataku pada saat aku bermimpi," ucap Michelson.


"Haduh, Daddy. Itu sih bukan mimpi, aku dan mamah benar-benar selalu mengajakmu bercengkrama di sini," ucap Rose.


**********


Berjalannya waktu cepat sekali, kini tak terasa sudah satu bulan berlalu dari saat Michelson sembuh dari komanya.


Kini usia kandungan Rose sudah memasuki umur tujuh bulan dan telah di USG jika Rose dan Michelson akan memiliki anak kembar satu lelaki dan satu perempuan.


"Mommy, kenapa kamu nggak mengatakan dari awal jika anak yang ada di perutmu ini ada dua?" ucap Michelson mengerucut bibirnya.


"Daddy, aku juga baru tahu. Sebelumnya aku memang sengaja tak melakukan USG. Aku sengaja ingin USG di saat usia kandungan aku sudah tujuh bulan," ucap Rose.


"Aku terlalu di sibukkan dengan pekerjaan makanya aku belum sempat untuk melakukan USG, aku hanya melakukan pemeriksaan biasa saja," uceo Rose kembali.


"Aku hanya heran saja kenapa perutku begitu besar dan juga porsi makan aku tiga kali lipat. Tapi aku tak curiga jika di dalam perut aku ini ada dua bayi. Sudahlah, Daddy. Tak usah di permasalahkan, yang terpenting anak-anak kita sehat semuanya," ucap Rose seraya mengusap perutnya yang buncit.


Kini aktifitas Rose yang padat sudah tergantikan oleh Michelson. Dia yang mengambil alih urusan perusahaan milik almarhumah Lani. Supaya Rose tidak terlalu cape.


Pemindahan kekuasaan membuat Tuan Kenand merasa tak suka. Dia kini sudah tak bisa lagi melihat paras cantik Rose yang selalu hadir di dalam mimpi indahnya.


"Padahal aku sempat senang pada saat suami Rose koma. Aku tak menyangka jika suaminya malah kini sudah sadar dan menggantinya posisinya di kantornya."


"Ingin rasanya aku akhiri saja kerjasamaku dengan Rose. Aku sudah tak bersemangat lagi, untuk menjalin kerjasama dengan, Rose."


"Tetapi apa kata Michelson nantinya, jika aku tiba-tiba memutuskan kerja sama ini. Ah kenapa aku harus mengagumi wanita yang sudah bersuami dan akan punya anak pula! padahal banyak wanita lajang di luar sana, tetapi malah aku terpesona dengan, Rose!"


Tuan Kenand terus saja merutuki dirinya yang telah salah mencinta seseorang.