
Mendengar apa yang di katakan oleh istrinya, Michelson sempat terperangah. Dia masih belum percaya jika semua ini adalah ulah, Jason dan Reyhan.
"Mommy, biar ini menjadi urusanku saja. Biar aku yang datang ke alamat tersebut untuk menyelamatkan, Paman Mike."
"Daddy, mereka menginginkan aku yang datang. Jadi biar saja aku yang datang."
Rose sama sekali tak gentar.
"Tidak, mommy. Kamu kan sedang hamil, kita juga tidak tahu seberapa besar kekuatan lawan. Sebaiknya aku ikut, mommy."
Michelson sama sekali tak tega jika istrinya sendirian menghadapi penculik, Paman Mike.
"Sebaiknya kita jangan langsung datang, tetapi kita atur dulu strateginya. Supaya tidak salah perhitungan." Tukas Rose.
"Lantas kita harus bagaimana, mom? bukannya langsung serbu saja markas mereka?"
"Jangan, Daddy. Tugas Daddy kumpulkan anak buahnya, dan bersembunyi. Biar aku yang datang sendiri menemuinya. Karena aku sangat yakin, orang ini hanya mengincarku. Dia sama sekali tak ada hubungannya denganmu, Daddy."
"Jika nanti aku merasakan bahaya, barulah Daddy dan anak buahnya datang untuk membantu aku."
Sebenarnya Michelson kurang setuju dengan ide istrinya, karena ini sangat membahayakan nyawa istri dan janin yang ada di kandungannya.
"Mom, kamu yang hati-hati ya. Ingat di perutmu ini ada calon anak kita."
Michelson memeluk dan mengusap perut istrinya seraya mengecup keningnya.
"Daddy, lebay banget sih. Aku ini bukan wanita lemah dan penakut! jadi jangan khawatir berlebihan seperti ini." Rose terkekeh melihat tingkah suaminya.
Saat itu juga, Rose pergi ke alamat yang tertera tersebut. Sedangkan Michelson dan Roy mengikuti dari jarak yang agak jauh. Tak lupa Michelson juga menelpon beberapa anak buahnya.
[Daddy, jika nanti tiba-tiba aku berteriak berarti aku butuh bantuan. Tapi jika aku diam saja berarti aman, aku masih bisa mengatasinya sendiri.]
Rose mengirim chat pesan pada nomor ponsel, Michelson yang langsung di baca dan balas olehnya.
Sementara di suatu tempat, saat ini Tuan Rangga dan Paman Mike sedang di siksa untuk mengatakan di mana keberadaan, Nyonya Berta.
"Plak plak" Dua tamparan mendarat, satu di pipi Mike dan satu tamparan di pipi Rangga.
"Kenapa kalian masih saja bungkam! dimana saat ini, Nyonya Berta berada?"
bentak salah satu anak buah Jason.
Keduanya hanya diam dan melirik sinis kepada beberapa anak buah, Jason.
"Bug bug " Dua pukulan mendarat di perut Mike dan Rangga.
"Cepat katakan! dimana saat ini Nyonya Berta berada, dan apakah Rose yang telah membawanya?" kembali lagi salah satu anak buah Jason bertanya.
"Kalau kalian sudah tahu, Nona Rose yang membawanya. Untuk apa pula kalian menyandera kami, tidak ada gunanya juga! dasar kalian bodoh, seharusnya kalian kejar dirinya bukan kami!"
Akhirnya Mike membuka suara.
"Justru kami menyandera kalian berdua supaya dia lekas datang kemari! kalian ini kami jadikan umpan!" bentaknya lantang.
Setelah beberapa menit perjalanan, sampai juga Rose di tempat yang di tuju. Ternyata tempat tersebut adalah rumah tua yang letaknya sangat jauh dari perkampungan. Tepatnya rumah yang terletak di tengah-tengah hutan.
"Hallo, Nona Rose. Nyali anda ternyata besar juga dengan datang seorang diri naik taxi pula." Sapa salah satu anak buah Jason di depan pintu rumah tua tersebut.
"Hem, tak usah basa-basi. Bukankah ini yang kalian inginkan dariku? sekarang apa mau kalian dan dimana dua pria yang kalian culik?"
"Hhee..santai dong, Nona Rose. Tak usah buru-buru juga. Mereka masih hidup kok, ada di dalam. Tunjukkan dulu dimana anda telah menyembunyikan, Nyonya Berta!" bentak salah satu anak buah Jason.
"Hem, jadi itu yang kalian mau? baiklah akan aku tunjukkan di mana aku sembunyikan, Nyonya Berta. Tetapi kalian tunjukkan dulu dua pria yang kalian culik! aku ingin melihatnya."
Tanpa ada rasa takut sedikitpun, Rose masuk mengikuti pria berubu tegap tersebut.
"Hem, ternyata di dalam rumah tua ini hanya ada tiga orang anak buah Jason. Aku pikir banyak anak buahnya," batin Rose.
Sementara saat ini Michelson dan Roy serta beberapa anak buahnya sedang mengintai dari semak-semak.
"Roy, sebaiknya kita kepung rumah tua itu! aku khawatir terjadi sesuatu dengan istriku." Pinta Michelson lirih.
"Baik, Tuan."
Saat itu juga Michelson, Roy, dan empat anak buahnya melangkah cepat ke arah rumah tua tersebut. Mereka mengepung rumah tersebut dari sekitar rumah.
"Nona Rose, kenapa malah kemari?" Paman Mike menatap khawatir padanya.
"Untuk menjemput, Paman." Jawabnya singkat.
"Sudah lihat kan, kedua pria ini masih hidup! jadi sekarang juga kamu tunjukkan dimana, Nyonya Berta kamu sembunyikan!"
"Santai, bro. Bagaimana kalau kita barter? aku tunjukkan dimana, Nyonya Berta dan kalian bebaskan mereka berdua."
"Sudah nggak usah banyak kata, cepat tunjukkan sekarang!" salah satu anak buah Jason mendorong kasar Rose.
Hal ini hampir saja membuat Rose terjatuh ke depan. Rose sangat emosi, hingga dia tak sadar berteriak dan mengajar pria tersebut.
"Aaahhhhh kurang ajar...."
Teriakan Rose terdengar oleh Michelson dan Roy. Hingga mereka langsung saja mendobrak pintu tersebut.
Dan menyerang tiga anak buah Jason.
Sementara Rose segera menyelamatkan, Paman Mike dan Tuan Rangga.
Tiga orang anak buah Jason telah berhasil di lumpuhkan hanya beberapa menit saja. Mereka di bawa oleh Michelson ke sebuah penjara bawah tanah di mana terletak di samping rumahnya.
Sementara Paman Mike dan Tuan Rangga berhasil di selamatkan. Mereka untuk sementara waktu tinggal di Mension Michelson.
"Roy, kamu bawa Paman Mike dan Tuan Rangga kerumahku! biarkan mereka untuk sementara waktu tinggal di rumahku!"
"Baik, Tuan."
Sementara Rose dan Michelson beserta empat anak buahnya membawa tawanan tersebut ke penjara bawah tanah.
"Cepat katakan, siapa yang ada di balik ini semua!" bentak Michelson.
"Apa maksud anda, Tuan? kami bekerja sendiri kok, tidak ada yang membayar kami." Salah satu anak buah Jason mengelak.
"Hem, masih saja mengelak! jika kalian bekerja sendiri, lantas apa maksud tujuan kalian ingin mamah aku?"
Pertanyaan Michelson ini membuat ke tiga anak buah Jason tak bisa berkutik lagi. Hingga pada akhirnya salah satu dari mereka berkata jujur jika mereka adalah anak buah, Jason.
"Daddy, kamu sudah lihat sendiri kan? jika memang Jason yang ada di balik semua ini?"
"Hem iya, mommy. Aku kini percaya padamu, lantas untuk apa Om Jason mencari mamah?"
"Daddy, mamah dan Paman Mike ya g tahu persis kejahatan yang di lakukan oleh Jason pada almarhum papah. Bukannya aku sudah pernah katakan padamu?"
"Hhee maaf ya, mommy. Efek banyak yang di urus hingga mudah lupa."
Rose hanya melirik sinis pada suaminya. Sementara keempat anak buah, Michelson di tugasi untuk menjaga penjara bawah tanah tersebut. Sedangkan Rose dan Michelson segera beranjak pergi.
Tak lupa mereka menyita ponsel milik anak buah Jason.