Wonder woman

Wonder woman
Aksi Brutal Rose



Umur kehamilan, Rose memasuki usia dua bulan. Kini dia sudah kembali ke watak aslinya lagi.


"Aku sebenarnya penasaran dengan orang yang telah melukai lengan, Celine. Hem, aku nggak suka setiap hari ada yang mengawalku hingga aku bergerak tak bebas."


Selagi dia sedang merasa penasaran dengan orang yang telah melukai Celine. Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Kring kring kring"


"Hem nomor asing dan ini kan panggilan video?"


Rose yang sedang rebahan di ranjang langsung mengangkat panggilan video tersebut.


"Hay, Nona Rose. Kamu lihat siapa wanita yang sedang bersamaku?"


Seorang pria dengan memakai masker menelpon Rose.


"Hah, bukannya itu Celine? bagaimana dia bisa di sandera? katanya dia ini hebat bela diri?"


Pria bermasker tersebut membuka lakban yang menutup di mulut, Celine.


"Nona Rose, jangan dengarkan apa katanya. Aku yakin akan baik-baik saja."


"Mereka menggunakan akal licik dengan tiba-tiba membungkam mulutku dengan bius, hingga aku tak sadarkan diri. Dan mereka mengikat aku. Pengecut kalian, beraninya pake cara kotor!"


"Diam kamu! satu kali lagi berkata yang memancing emosiku, aku akan membunuhmu di hadapan majikanmu ini!"


Tapi Celine sama sekali tidak gentar dengan ancaman pria bermasker.


"Heh, kamu! apa maumu dariku!"


Rose menyela perdebatan antara Celine dan pria bermasker.


"Datanglah kemari jika kamu tak ingin dia ini mati dengan sia-sia! aku minta kamu datang sendiri tanpa siapa pun dan tanpa lapor polisi!"


"Baiklah, tunjukkan dimana tempatmu sekarang!"


"Nona Rose, jangan lakukan itu! ini terlalu berbahaya untukmu, ingatlah kandu....


Belum juga Celine selesai berkata, Rose telah menyela.


"Hust.... diam kamu! tak usah mengatakan apa pun lagi!"


Rose malah membentak Celine.


Telpon itu pun berakhir, tak lama sebuah pesan yang bertuliskan sebuah alamat muncul di layar ponsel , Rose.


Rose bangkit dari tempat tidurnya, wanita itu menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


"Hem, Michelson masih ada di dalam kamar mandi."


Ucap Rose segera mengganti baju tanpa mandi terlebih dulu.


Ia tak ingin Michelson menanyakan kemana dirinya akan pergi yang tentu saja akan membuat dirinya kesulitan untuk menjawabnya. Jadi sebelum Michelson keluar dari kamar mandi, ia memutuskan untuk pergi lebih dulu.


Rose mengambil tas dan ponselnya, namun pada saat dia akan keluar dari pintu kamar. Ternyata pintu kamarnya di kunci oleh suaminya.


"Sialan, dimana kunci kamarnya?"


Dia pun tak hilang akal, dari pada terlalu lama mencari kunci pintu kamar tak juga ketemu, dia memutuskan keluar lewat jendela kamarnya.


Setelah itu Rose berjalan menuju halaman belakang, wanita itu memanjat tembok belakang rumah dengan begitu mudahnya.


Di lain sisi, Michelson baru saja menyelesaikan mandinya. Dia membuka pintu kamar mandinya dengan perlahan, dan betapa terkejutnya dia saat melihat istrinya sudah pergi dari kamarnya.


"Kemana dia...?" tanyanya pada diri sendiri. Michelson melihat jendela kamarnya terbuka lebar.


Dari situ dia mengerti jika istrinya benar-benar pergi dari rumah tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Tangan Michelson langsung mengepalkan tinjunya, dia merasa tak di hargai karena, Rose pergi seenak jidatnya sendiri.


"Sialan....kenapa dia tak izin lebih dulu padaku jika akan pergi! apa dia lupa jika saat ini sedang hamil muda!"


"Dan tak seperti biasanya dia pergi terburu-buru hingga sama sekali tak mandi. Kemana dia sebenarnya?"


"Apa dia masih menganggap aku ini suaminya atau tidak?" Michelson kesal dia akan bertanya pada istrinya nanti setelah pulang dari kantor.


"Ckckck...lamban sekali sopir ini!"


Rose sangat kesal karena dia sedang terburu-buru tetapi sopir taxinya tak bisa di ajak kerjasama.


"Minggirkan mobilnya, pak!"


"Kenapa, apa sudah sampai non?"


tanya sopir taxi tersebut pada, Rose.


Rose mendengus kesal karena dia tak suka basa basi.


"Aku bilang minggir ya minggir!"


Bentak Rose membuat sopir taxi tersebut ketakutan. Setelah itu dengan perlahan bapak sopir mulai meminggirkan mobilnya sesuai perintah, Rose.


Rose segera keluar dari dalam mobil, dia berjalan mendekati pintu di samping sopir taxi, dia membuka pintu sopir dengan kasar.


"Saya saja yang menyopir taxi ini, bapak duduk di belakang!" Ucap Rose dengan nada yang memaksa.


Tangan berusaha menarik lengan sopir taxi itu pelan.


"Tapi non....nanti saya bisa di marahi oleh atasan saya bila hal ini ketahuan."


Sopir tersebut menolak, membuat Rose semakin kesal saja.


"Ckckck...cepat minggir saya bisa telat kalau bapak masih tetap di situ! lagi pula atasan bapak tak akan tahu jika bapak tak mengadu sendiri!"


Perdebatan yang membuat Rose semakin kesal, karena waktu yang berharga terbuang begitu saja.


"Baiklah, nona."


Akhirnya si bapak sopir menuruti kemauan Rose, dia pindah ke kursi belakang.


"Hati-hati ya, non bawa mobilnya."


Pesan sopir taxi tersebut duduk di kursi belakang.


"Hem..." ucapnya singkat.


"Saatnya bersenang-senang,"


ucap Rose dengan senyum devilnya.


Rose menancap gas dengan begitu kencangnya. Seperti seorang pembalap mobil, Rose menyalip mobil-mobil di hadapannya dengan begitu santainya.


"Non... pelan-pelan non ...pelan."


Teriak sopir taxi dari jok belakang nampak ketakutan dengan cara Rose menyopir.


Rose sama sekali tak menjawab, dia malah menambah kecepatan laju mobilnya.


"Aduh...non...pelan...saya masih harus menghidupi istri dan anak-anak saya, saya masih ingin hidup ..."


Sopir taxi tersebut semakin ketakutan dan dia berpegangan sangat erat.


Kembali lagi Rose tak menjawab, dia hanya mengulas senyum devilnya, dia malah merasa sangat senang.


Sementara sopir taxi tersebut berharap lekas sampai di tujuan supaya mobil taxi lekas berhenti.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Rose telah sampai di sebuah gedung kosong. Rose berjalan dengan langkah kenal takut berjalan memasuki gedung itu sendirian.


"Selamat datang, Nona Rose. Ternyata anda punya nyali juga datang seorang diri." Sapa pria bermasker menyeringai senyuman yang tak terlihat karena tertutup masker.


Rose sama sekali tak berkata apa pun karena dia bukanlah orang yang suka berbasa-basi.


"Dimana dia?" tanya Rose menatap sekeliling gedung. Matanya mencari-cari keberadaan, Celine.


"Mari ikut saya."


Ucap pria bermasker tersebut membawa Rose masuk ke salah satu pintu di sudut gedung.


Saat pintu terbuka, Rose langsung di hadiahi pemandangan yang ia tak suka dimana seorang wanita muda terikat di sebuah kursi dengan mata sayu dan pandangannya lesu. Serta terlihat lemas, dengan tangan terikat di belakang serta mulut di bungkam lakban hitam dan juga kedua kakinya di ikat


Rose sangat miris melihat kondisi Celine.


"Kasihan sekali, Celine pasti dia habis di siksa oleh anak buah pria bermasker ini."


"Sebenarnya siapa pria ini, dan ada urusan apa denganku? kenapa pula dia menyembunyikan identitas aslinya?'


Rose sama sekali tak gentar dengan pria bermasker dan beberapa anak buahnya. Justru dia sangat penasaran dengan tujuan apa pria tersebut menyekap, Celine.