
"Ini belum cukup, rasanya tak adil memberikan tatto di pipi kirimu sedangkan yang kanan tidak aku berikan."
Rose kembali menampar pipi Linda kali ini pipi kananleh yang menjadi sasarannya. Setelah itu ia memandang wajah dan penampilan Linda sejenak, seakan-akan tengah meneliti sesuatu.
"Sudah cukup saya mohon, lepaskan saya! dasar wanita barbar!" teriak Linda seraya menangis.
"Begitukah caramu memohon, nona. Jika caramu seperti itu, maka aku takkan melepasmu. Oh iya rambutmu ini sangat indah ya, hitam dan panjang. Kebetulan sekali aku membawa gunting ini, jadi aku akan merubah tatanan rambutmu agar kamu lebih cantik lagi."
Rose menarik rambut Linda erat hingga wanita itu kembali mengerang kesakitan. Tak ada rasa iba pada Rose pada saat mendengar teriakan wanita itu. Justru ia semakin menarik dengan kuat rambut Linda. Kemudian ia mengambil gunting dan memotong sampai ke pangkal rambut wanita itu.
"Tidak rambutku," teriak Linda yang rambutnya sudah di botaki oleh Rose.
"Nah, seperti ini kamu baru terlihat cantik nona. kamu jadi semakin percaya diri untuk mengangkat wajahmu saat berjalan seperti tadi. Jadi sekarang silahkan keluar dari gudang ini, nona."
"Dan tunjukkan pada orang-orang di sini bagaimana penampilanmu sekarang. Pasti mereka akan terpukau dengan penampilanmu dan aku akan bertepuk tangan akan hal itu."
Rose terkekeh pelan, sementara Linda hanya bisa menangis. Bagaimana bis bisa keluar dengan penampilan seperti itu, ia sungguh malu dan ia pasti akan menjadi bahan perbincangan seta omongan orang-orang karena penampilannya itu.
"Kenapa malah menangis, mana sifat sombongmu tadi, nona?" sindir Rose tak mendapatkan jawaban dari Linda.
Wanita itu lebih memilih pergi dengan berlari meninggalkan Rose di ruangan itu sendiri.
"Ckck..jika aku tak melakukan hal itu, maka kamu akan tetap sombong saat berjalan nanti dan aku sungguh muak dengan wanita seperti dirimu itu," ucap Rose seraya tersenyum sinis.
Kemudian ia segera pergi dari tempat itu, setelah membereskan rambut dan juga gunting di tangannya terlebih dahulu. Sementara itu Linda terus berlari, ia malu berpapasan dengan orang-orang di rumah sakit itu. Ia malu orang-orang itu menertawakan dirinya yang botak serta pipinya yang merah.
"Nona, tunggu dulu. Bagaimana dengan proses pemakaman, Nyonya Lani?" tanya Meo pada saat Linda melewati dirinya.
"Aku tak peduli, aku tak mau mengurus pemakaman itu!" ucap Linda dengan kesal.
Iapun melangkahkan kakinya kembali keluar dari rumah sakit dengan sedikit menutupi wajahnya Karena rasa malu.
"Apa yang terjadi pada Nona Linda kenapa dia jadi seperti itu?" tanya Meo keheranan.
"Tak usah heran, aku hanya sedikit memberinya pelajaran untuknya tadi. Dan jika dia tak mau mengurus pemakaman itu, biarlah aku yang mengurusnya," ucap Rose pada Meo.
Meo sempat terbengong-bengong pada saat mendengar apa yang di katakan oleh, Rose.
"Bagaimana bisa atasan baruku menaklukkan wanita ular seperti, Nona Linda? kok bisa seperti itu ya, ah bodi amat. Lagi pula aku tak ingin ikut campur urusan mereka," batin Meo.
Saat itu juga Rose memerintah Andi beserta seluruh anak buahnya untuk mengurus pemakaman Mamah Lani. Bahkan Rose juga memberitahu pada Mamah Berta jika sahabat baiknya telah meninggal dunia.
Lani dimakamkan tanpa adanya kehadiran menantu dan cucunya atau juga sama saudaranya. Yang hadir dalam acara pemakaman tersebut hanyalah beberapa orang kantor juga Mamah Berta, Paman Mike, serta Tuan Rangga.
Pemakaman itu berlangsung dengan penuh haru. Setelah pemakaman selesai, Rose segera pulang ke rumahnya bersama, Mamah Berta dan juga yang lainnya.
"Aku sudah makan, mah. Malah pada saat itulah, Mamah Lani meninggal dunia.".
Rose menceritakan semuanya pada Mamah Berta tentang pemberian perusahaan dari, almarhumah Lani. Dan menceritakan segala kejahatan, Linda.
"Hem, memang miris nasib Lani. Dia harus meninggal tanpa ada sanak saudara yang datang ke pemakamannya. Bahkan menantu dan cucunya juga hanya mementingkan harta saja."
"Rose, kamu harus hati-hati ya. Pasti saat ini menantu dari almarhumah Lani tidak akan tinggal diam. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk merebut perusahaan yang saat ini sudah menjadi milikmu."
"Satu hal lagi, kamu juga harus jaga kesehatan. Apa lagi sekarang ini tangung jawab kamu bertambah. Mamah nggak ingin kamu sakit, jaga cucu mamah juga dengan baik ya."
Rose tersenyum pada saat mendengar nasehat dari mamah mertuanya. Dia sangat bersyukur karena masih bisa merasakan kasih sayang seorang mamah walaupun Mamah Berta hanyalah mamah mertuanya, tetapi kasih sayangnya bagaikan Mamah kandung.
Sesampainya di rumah, Rose langsung masuk ke dalam kamarnya untuk terlebih dahulu membersihkan tubuhnya dan setelah itu dia merebahkan badannya yang terasa saat ini lelah sekali.
"Sayangnya mommy pintar sekali, sehat-sehat di dalam sana ya sayang." Rose tersenyum seraya mengusap perutnya dengan lembut.
Sejenak dia ingat akan Michelson, dia pun bangkit dari ranjang dan melangkah ke kamar di mana Michelson di rawat. Kondisi Michelson belum juga membaik, akan tetapi tak membuat Rose larut dalam kesedihan.
"Suster, apakah hari ini ada kemajuan dari suami saya?" tanya Rose penasaran.
"Masih seperti hari yang lalu, nona. Belum ada kemajuan sama sekali," ucap sang perawat.
Rose menghampiri suaminya yang tak berdaya di ranjangnya.
"Daddy, lekaslah sadar. Mommy sudah kangen ingin mendapat amarah darimu jika mommy tak menurut padamu."
"Daddy, hari ini banyak hal yang terjadi. Sayangnya, mommy tak bisa mencurahkan segalanya pada Daddy."
Rose bercerita panjang lebar mengenai apa saja yang ia lakukan pada hari ini pada Michelson. Seolah suaminya sedang dalam kondisi sehat.
"Daddy, mommy ingin di saat kelak mommy melahirkan anak kita, Daddy menemani. Jadi mommy mohon, Daddy lekas sadar. Mommy dan Dede bayi sangat rindu. Daddy, mommy dan Dede bayi permisi dulu ya. Kami akan istirahat sejenak karena kami sangat lelah.'
Setelah cukup lama berada di samping Michelson, Rose pun melangkah ke kamarnya untuk sejenak berbaring. Dia pun memejamkan matanya sejenak untuk melepaskan rasa lelah.
Tak terasa sore menjelang, Rose pun terbangun.
"Hari-hari kita masih panjang. Kamu harus tetap kuat dan temani mommy sampai kapanpun. Dan mulai besok mommy akan bertambah aktifitas untuk memimpin perusahaan milik Oma Lani."
"Sebenarnya mommy masih tak menyangka akan mendapatkan posisi itu, tapi ini amanah dari, Oma Lani. Jadi mommy harus siap."
Rose bercerita banyak hal pada janin yang ada di dalam kandungannya, setelah puas dia pun beranjak bangkit dari ranjangnya, karena rasa lapar yang kian mendera.