
Di sebuah gubuk yang ditinggali oleh Xiao Lan, Xin'er tengah berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku jarinya dengan perasaan cemas.
"Aduh, bagaimana ini? Apakah nona baik-baik saja? Tapi kenapa sampai sekarang belum kembali juga? Atau jangan-jangan, nona masih marah padaku? Aduh, bagaimana ini? Kalau sampai terjadi sesuatu pada nona bagaimana?" gumam Xin'er yang menjadi semakin cemas dan takut.
***
Sedangkan di tempat Xiao Lan berada sekarang, dia tengah bersiap untuk membawa daging harimau yang telah ia cuci.
'Kresek'
Suara semak-semak terdengar di telinga Xiao Lan, dia pun langsung menengok ke arah semak-semak itu dan bersikap waspada.
'Kresek'
Suara itu menjadi semakin keras. Dari semak-semak itu muncullah seekor rusa yang tadinya ingin dijadikan daging bakar oleh Xiao Lan, tapi tidak jadi.
"Rusa yang tadi? Apa yang sedang kau lakukan di sini, Rusa?" tanya Xiao Lan dengan perlahan mendekat ke Rusa itu.
Rusa itu hanya diam saja dan berjalan menuju mayat harimau yang telah Xiao Lan bersihkan dengan air sungai dan menatap Xiao Lan.
Lalu Rusa itu menunduk mengisyaratkan untuk meletakkan mayat harimau itu di atas punggungnya.
"Kau ingin membantu aku, ya? Baiklah, aku akan terima bantuanku. Lagi pula, aku juga tidak mungkin menyeret mayat harimau itu sampai ke gubuk" ucap Xiao Lan tersenyum senang.
"Hewan saja bisa membalas budi, tapi manusia tidak. Memang hewan lebih baik dari manusia" lanjut Xiao Lan dengan bergumam.
Xiao Lan mengangkat mayat Harimau itu dan meletakkannnya di punggung Rusa itu. Rusa itu pun dengan sekuat tenaga berdiri dan berjalan menuju gubuk di samping Xiao Lan.
***
Xin'er yang sudah cemas mencapai puncaknya dan memutuskan untuk menyusul nonanya. Namun, dia terlebih dulu mendengar suara yang familier baginya.
"Xin'er, maaf sudah membuatmu menunggu lama" ucap Xiao Lan yang telah sampai di gubuknya.
"Tadi aku sedang mencari hewan buruan untuk di makan. Sekarang kau tinggal memasaknya saja" lanjut Xiao Lan.
Xin'er mengangguk dan mengambil mayat Harimau yang berada di punggung Rusa di samping Xiao Lan dan membawanya untuk segera dimasaknya.
"Terima kasih Rusa, sekarang kau sudah boleh pergi" ucap Xiao Lan dengan tersenyum tipis dan mengelus kepala Rusa itu.
Rusa itu senang dan pergi meninggalkan Xiao Lan. Xiao Lan terdiam sebentar dan berjalan menuju gubuk. Dia merasa gerah karena pertarungan tadi dengan harimau itu.
***
"Baiklah, aku sudahi saja" gumam Yui Wei menyudahi mandi-nya.
Yui Wei keluar dari bathub dan memakai kain yang fungsinya seperti handuk untuk menutup tubuh polosnya.
"Hua Hua, tolong siapkan aku hanfu" ucap Yui Wei yang telah keluar dari kamar mandi.
"Nona, aku sudah menyiapkan hanfu untuk nona, nubi tahu kalau nona akan memintanya setelah selesai mandi, jadi nubi sudah siapkan" ucap Hua Hua sambil tersenyum manis.
Yui Wei hanya tersenyum tipis, Hua Hua memang pengertian kepadanya, pikirnya. Yui Wei memakai hanfu dengan dibantu oleh Hua Hua tentunya.
"Hua Hua, aku lapar, tolong antarkan makanan" ucap Yui Wei dengan memelas.
Setelah beberapa lama, Hua Hua tak kunjung kembali. Yui Wei pun sudah bosan karena telah menunggu sangat lama.
"Hah, sebenarnya Hua Hua pergi ke dapur atau ke kutub utara sih? Kenapa lama sekali? Aku sangat bosan. Uuhhh, badanku saja sampai pegal" keluh Yui Wei sambil meregangkan ototnya.
'Tring'💡
Terlintas sebuah ide di kepala kecil Yui Wei. Yui Wei tersenyum licik dan bangkit dari duduknya dan keluar dari paviliunnya.
"Hah, akhirnya aku bisa menghirup udara segar. Aku akan pergi taman saja. Sekalian lihat apakah ada j*l**g-j*l**g itu atau tidak di sana" gumam Yui Wei sambil tertawa jahil.
Hadeuh, kayaknya ni dah kumat penyakit jahilnya🙄
Yui Wei berjalan perlahan ke arah taman sambil terus tertawa tidak jelas. Pelayan yang berpapasan dengannya pun heran dengan tingkah aneh Yui Wei.
"Ada apa dengan nona ketiga? Apakah dia sakit?"
"Ssttt, jangan bicara sembarangan. Kalau tuan besar tahu, bisa habis kita"
"Bukankah tuan besar tidak peduli sama sekali dengan nona ketiga? Kenapa bisa begitu?
"Tentu saja bisa. Kau ini tidak mengerti kasih sayang dari seorang ayah ya? Walaupun di luar terlihat cuek, tapi sebenarnya tuan besar lebih menyayangi nona ketiga"
Yui Wei hanya cuek saja menanggapi perkataan para pelayan itu. Dia tidak peduli apa yang sedang mereka bicarakan tentang dirinya.
Akhirnya dia telah sampai di taman. Di sana terdapat berbagai jenis bunga, bahkan bunga yang sulit ditemukan karena langka pun ada di sana.
Di sana semua bunga tertanam rapi. Mereka dikelompokkan menurut jenis dan warnanya. Sungguh pemandangan yang indah.
Tunggu tunggu tunggu, sekarang bukan waktunya bagi Yui Wei untuk menatapi bunga-bunga dan menikmati kecantikannya. Ingat tujuan utamanya!
Dan di sana, juga terdapat dua j*l**g yang tengah bersantai di sana. Yui Wei kini tengah bersembunyi sambil menatap intens kedua mangsanya.
"Hehehe, aku akan mengerjai kalian berdua, duo j*l**g" ucap Yui Wei yang telah siap untuk menjalankan aksinya.
Yui Wei menatap tangannya yang kosong. Dia menghela nafas kasar. Seharusnya aku sudah membawa peralatan tadi, pikirnya.
"Oh, sepertinya aku sudah menemukannya" gumam Yui Wei yang melihat seorang pelayan laki-laki yang tengah membawa tali yang cukup panjang.
Yui Wei segera berdiri dan berlari ke arah pelayan laki-laki yang membawa tali. Bahkan dia sempat akan terjatuh, untungnya Yui Wei dapat menjaga keseimbangannya.
"Paman, tunggu!! Ah, maksudku, kakak!" panggil Yui Wei pada pelayan laki-laki itu.
Pelayan laki-laki itu mendengar panggilan Yui Wei langsung menoleh dan mendapati Yui Wei yang ngos-ngosan karena berlari.
"Ada apa, nona ketiga?" tanya pelayan laki-laki itu dengan penuh hormat.
"Ah hah oh aku hah hanya ingin meminjam tali yang sedang dipegang kakak itu" jawab Yui Wei sambil menunjuk tali yang berada di tangannya.
"Oh, ini? Tentu, nona ketiga. Tapi, kalau boleh tahu, untuk apa tali ini, nona ketiga?" tanya pelayan laki-laki itu dengan hati-hati, takut menyinggung Yui Wei.
"Ah, ada saja. Pokoknya aku hanya ingin meminjam talinya, boleh bukan?" ucap Yui Wei yang bertingkah imut, itu adalah senjata andalannya.
...🌾🌾🌾...