Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 071. Undangan Untuk Xuan Yi



“Hah~”


Zhang Yui Wei menghela nafas lagi. Sudah 1 bulan lebih sejak ia tinggal di dunia antah berantah ini dan menempati tubuh seorang gadis kecil. Bahkan ini hampir 2 bulan. Hari-hari yang membosankan telah ia jalani dengan sa~ngat membosankan pula. Yang ia lakukan hanyalah makan, tidur, dan bila sedang gabut mungkin mengerjai beberapa pelayan yang sedang bergosip.


Dia kurang suka saat para pelayan asyik bergosip tentang hal yang unfaedah, jadi memberi mereka sedikit pelajaran supaya tidak menelantarkan pekerjaan mereka.


Ia menggoyang-goyangkan cangkir yang berisi teh itu dengan lesu. Jujur saja, ia sangat merindukan masa-masa kejayaannya sebagai pembunuh bayaran yang termasuk dalam kategori terbaik. Namun, ia juga punya seseorang yang ia idolakan. Bukan sembarangan, namun kemampuannya sangat tidak diragukan lagi.


Zhang Yui Wei menyentuh bibirnya yang sedikit terbuka dan tiba-tiba saja ia berteriak seperti orang gila.


“KYYAAAK!!”


Hua Hua yang sedari tadi berdiri di sampingnya pun terkejut. Apalagi suara teriakannya sangat nyaring dan cempreng. “Nona, ada apa? Kenapa Nona berteriak? Apa ada sesuatu?”


Zhang Yui Wei merutuki kebodohannya sendiri. Sungguh memalukan. Bagaimana jika ia dikatai orang gila?


“Eum, tidak, tidak ada. Aku hanya ingin berteriak saja karena bosan. Setiap hari hanya makan dan tidur. Bukankah itu sangat membosankan?” ucapnya sambil memangku dagu.


Yah, Hua Hua juga tahu itu. Namun, ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi kebosanan itu.


“Hua Hua!” panggil Zhang Yui Wei sambil memukul meja dengan keras. Tangannya saja sampai memerah, namun ia tak memperdulikannya.


“I-iya nona?” jawab Hua Hua yang masih terkejut. Untunglah jantungnya bukan tipe yang baperan.


“Hua Hua, apa kau tahu Xuan Yi?” tanya Zhang Yui Wei dengan penuh semangat. Entah kemana wajahnya yang lesu itu menghilang. Mungkin lagi pindah kontrakan.


“Nona Xuan Yi? Oh, saya tahu. Memangnya ada apa?”


Zhang Yui Wei tersenyum penuh arti. “Hua Hua, tolong siapkan aku kertas dan tinta juga kuas, aku akan menulis surat untuknya.”


Hua Hua segera mengambilkan alat untuk menulis itu dengan segera. Mungkin nonanya telah menemukan sesuatu untuk dikerjakan untuk menghilangkan kebosanannya. Setidaknya gadis kecil itu tidak akan merusuh karena gabut.


“Ini nona.” ucap Hua Hua sambil menyerahkan barang yang diminta. Zhang Yui Wei segera menyingkirkan cangkir dan teko yang berada di atas meja dan meletakkan kertas, kuas dan tinta di atasnya. Ia mulai menulis sebuah surat undangan untuk Xuan Yi.


Jujur saja, ia tak tahu bagaimana cara berbasa-basi ala nona bangsawan dalam menulis surat. Yah, ia kebanyakan menulis surat kontrak sih. Ataupun surat lainnya yang bersifat formal. Menulis surat undangan tak resmi? Ia belum pernah melakukannya.


Zhang Yui Wei kembali membaca surat yang ia tulis, lalu menyerahkannya pada Hua Hua untuk dimintai pendapatnya. Hua Hua yang membacanya pun hanya tersenyum tak berdaya. Ia akui tulisan nonanya sangat bagus dan rapih, namun isinya yang formal, ini bahkan hampir seperti surat untuk pejabat Kekaisaran.


“Jadi, bagaimana?” tanya Zhang Yui Wei meminta pendapat.


“Kalau begitu saya akan langsung menyerahkannya pada seseorang untuk mengantarkannya pada Nona Xuan Yi. Saya pergi dulu, Nona.” ucap Hua Hua yang langsung pergi dari sana.


Zhang Yui Wei bahkan belum mendengar pendapat dari Hua Hua, namun dia malah langsung pergi. Padahal kan hanya minta pendapat.


“Apakah tulisanku jelek, ya?” gumamnya dengan wajah polosnya.


Mungkin kau harus mengurangi kebiasaan formal-mu.


***


Mungkin dia lupa atau mungkin tidak tahu kalau gadis merah muda yang waktu itu di festival adalah Zhang Yui Wei.


SREEK


Xuan Yi membuka surat itu dengan menggunakan pisau kecil dan membacanya. Zhang Yui Wei mengundangnya untuk datang ke kediamannya. Namun, .....


“Pfftt.”


Xuan Yi merasa ingin tertawa dengan isi surat itu. Ini memang surat tak resmi, namun ada banyak kata yang menggunakan bahasa formal. Yah, ini memang hampir mirip untuk pejabat Kekaisaran.


“Menarik sekali bocah ini. Mari kita temui dia.” gumamnya sambil tersenyum penuh arti. “Yilan, ayo temani aku ke kediaman Zhang.”


Yilan si pelayan pribadinya pun langsung mendekat dengan ekspresi terkejut. “Kediaman Zhang? Apakah anda tidak salah? Di sana kan.... ”


Yilan tak lagi melanjutkan kata-katanya, membuat Xuan Yi merasa bingung. Memangnya di sana ada apa? Namun, itu adalah masalah yang tidak penting. Ia bangkit dari duduknya dan keluar kamar, diikuti oleh Yilan.


Ia naik ke kereta kuda milik Kediaman Yan dan berangkat menuju Kediaman Zhang.


***


“Hua Hua, apakah yang ini cocok? Atau mungkin yang ini? Atau tidak ada yang cocok? Kira-kira yang mana yang cocok untuk aku pakai?” tanya gadis merah muda itu sambil mencoba beberapa aksesoris miliknya.


Hua Hua merasa aneh dengan Zhang Yui Wei yang sangat berbeda. Biasanya dia hanya acuh dan memakai aksesoris yang dipilih Hua Hua. Dan saat Hua Hua bertanya, pasti dia akan menjawab, “Terserah”.


Seingatnya nonanya ini belum pernah bertemu secara langsung dengan Xuan Yi. Apalagi akrab. Namun, tiba-tiba nonanya mengirimkan undangan pada gadis itu. Apakah ada hal yang tidak ia ketahui?


“Nona, pilih yang mana saja juga pasti cocok. Lagi pula, kenapa anda tiba-tiba perduli soal penampilan?”


Zhang Yui Wei terdiam sejenak. Entahlah, ia juga tidak tahu. Tubuhnya bergerak sendiri.


“Ya, sepertinya kau benar juga. Hua Hua, kau siapkan saja teh bunga dan kue kering di taman. Mungkin itu akan jadi background yang bagus.” ucap Zhang Yui Wei sambil memasang anting di telinganya.


Walaupun ia tak tahu apa itu background, namun ia tetap melaksanakan perintah dari Zhang Yui Wei.


***


Xuan Yi masih dalam kereta kuda dalam perjalanan menuju kediaman Zhang. Ia memangku dagunya dengan tangan dan melirik ke arah luar. Pohon-pohon yang berada di luar seolah sedang berjalan. Ia menghela nafas bosan.


“N-nona, anda .... baik-baik saja?” tanya Yilan dengan ragu.


“Yilan, sepertinya kita harus membelikan sesuatu untuknya. Mana bisa berkunjung dengan tangan kosong. Kebetulan kita melewati pasar.“ ucap Xuan Yi tiba-tiba. Entah dia dengar apa yang dikatakan oleh Yilan atau tidak. Yilan menatap ke arah luar, dan memang sekarang melewati pasar.


...🌾🌾🌾...