Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 038. Pil; Ampas Obat



Episode sebelumnya ....


Harimau itu mengerang rendah, namun tentu masih bisa didengar oleh Lu Xiao Lan. Awas saja jika gadis itu berpura-pura tidak mendengarnya, ia benar-benar akan mencakarnya!


Lu Xiao Lan melirik si harimau yang tengah berguling-guling di atas tanah. Apakah dia tidak perduli pada bulunya yang akan kotor? Mungkin tidak. Ia hanya perduli pada pil itu.


Lu Xiao Lan tersenyum menanggapi itu. “Oh, maaf. Aku lupa padamu.”


Jika saja ia bisa bicara, rasanya ingin sekali mengatakan, *Dasar! Masih muda masa pelupa?!*. Namun apalah daya, ia hanya bisa memaki gadis itu dalam hati.


Jleb!


Ini menyakitkan karena author juga seperti Lu Xiao Lan .... 🙃


***


Sebelum memberikan pil yang dijanjikannya, Lu Xiao Lan terlebih dulu mengobati harimau itu. Ia sungguh merasa bersalah telah membuat harimau itu kesakitan. Lu Xiao Lan merutuki kebodohannya sendiri.


“Baiklah, ini adalah pil yang aku janjikan padamu.” ucap Lu Xiao Lan sambil memberikan sebuah kotak yang berisi beberapa pil.


Tidak, sebenarnya ini bukanlah pil. Melainkan sebuah ampas dari obat yang pernah ia racik. Hanya bentuknya yang ia buat menyerupai pil.


Ia mengetahui kalau spirit beast menyukai ampas dari pil, itu karena Ling Luo pernah menghisap habis ampas obatnya. Ngomong-ngomong soal Ling Luo .... makhluk itu menghilang. Sepertinya dia masuk kembali ke ruang dimensi untuk mencuri ampas obatnya.


Namun, dia tidak tahu saja jika kotak yang Lu Xiao Lan berikan itu adalah ampas yang terakhir. Dan reaksi makhluk jelly itu ....


“Waa waaa uwaaa,”


Ling Luo saat ini tengah merengek. Ampas obat kesukaanya tidak ada lagi, habis tak tersisa. Kini ia tahu, kalau di kotak itu berisi ampas obat yang terakhir.


Lu Xiao Lan hanya bisa tersenyum, ia tak berdaya menghadapi makhluk menggemaskan yang tengah merengek ini. Ia tak tahu bagaimana cara menenangkan Ling Luo.


Xiao Gui hanya memperhatikan Ling Luo sambil memakan permen lollipop. Ia menatap jengkel pada Ling Luo yang telah merengek selama 1 jam. Itu cukup membuat telinganya terasa seperti tuli. Jika saja telinganya rusak, maka yang akan pertama kali dicarinya adalah Ling Luo, makhluk menjengkelkan itu.


Mengabaikan Ling Luo yang tengah merengek, Xiao Gui menatap Lu Xiao Lan dengan serius. “Tuan, sebaiknya kau berkultivasi di sini. Kau memiliki tanda-tanda ingin menerobos. Di sini akan lebih aman karena aku akan mengawasimu.”


Lu Xiao Lan ingat. Terakhir kali ia bertarung dengan harimau, malah hilang kendali dan hampir membunuh harimau itu. Padahal ia hanya berniat untuk berlatih, bukan membunuh. Lu Xiao Lan tahu, ia masih belum bisa mengendalikan nafsu membunuhnya.


Tubuhnya juga terasa tidak stabil. Seperti ada yang bergejolak di dalam tubuhnya. Jantungnya juga memompa dengan lebih kencang dari biasanya.


Ia segera pergi ke air terjun surgawi. Lu Xiao Lan melewati derasnya air terjun dan bersila di sebuah batu. Spiritual di sana cukup padat, sehingga ia tidak akan kekurangan qi jika ingin menerobos.


Kekurangan spiritual adalah momok bagi kultivator. Kultivator yang hendak menerobos, jika kekurangan spiritual, itu akan membuat penyerapan spiritual yang dilakukan menjadi sia-sia. Kenapa? Karena spiritual yang telah dikumpulkan akan keluar dari tubuh mereka, tidak terkumpul.


Hal itu membuat sebagian kultivator lebih memilih untuk berkultivasi setingkat demi setingkat, daripada menerobos 2 tingkatan atau lebih, namun berisiko. Namun, ada juga sebagian kultivator yang berani mengambil resiko itu dengan menggunakan batu spiritual atau apapun yang mengandung spiritual dan menyerapnya.


Lu Xiao Lan memejamkan matanya dan mulai menyerap spiritual dan mengolahnya menjadi qi di dalam tubuhnya. Proses berkultivasi butuh konsentrasi yang tinggi. Jika tidak fokus, maka semuanya akan buyar. Spiritual akan acak dan tidak stabil, dan harus mulai dari awal lagi.


Xiao Gui hanya menatap Lu Xiao Lan sambil menjilat permen lollipop-nya. Ia akan berjaga selama Lu Xiao Lan berkultivasi. Ini membutuhkan waktu beberapa hari.


***


Di kediaman Zhang, Paviliun Air, yaitu kediaman Siyu Hua. Zhang Yui Wei kini tengah berada di depan Paviliun Air. Pandangannya menatap bangunan di depannya, bangunan yang sederhana dan klasik.


Ada banyak tanaman di sana atas perintah Siyu Hua yang ingin Paviliunnya dipenuhi dengan tanaman dan bunga-bunga. Kakinya melangkah masuk ke Paviliun.


Setiap pelayan yang melintas akan menunduk dan memberi hormat pada sang Nona Ketiga. Zhang Yui Wei hanya mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk mereka berdiri dan melanjutkan pekerjaan masing-masing. Ia tidak ingin kehadirannya menghambat pekerjaan mereka.


Zhang Yui Wei mengetuk pintu kamar Siyu Hua. Biasanya Neneknya berada di kamar. Entahlah, wanita tua itu suka sekali menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Tidak tahu juga apa yang dilakukannya. Bahkan sebagian besar bertanya-tanya, apakah Nyonya tua tidak bosan?


Zhang Yui Wei mengernyit. Ia telah mengetuk pintu beberapa kali dan menunggu, namun tidak ada jawaban. Ia memberanikan diri untuk membuka pintu dan masuk.


Saat berada di dalam kamar, Zhang Yui Wei lagi-lagi mengernyit. Kemana Neneknya? Wanita tua itu tidak ada di dalam kamarnya. Mungkinkah dia pergi? Ya, memang harus sekali-kali untuk jalan-jalan supaya terkena sinar matahari.


Tunggu dulu, ini melenceng dari topik. Bukankah kita sedang menceritakan Zhang Yui Wei yang mencari Neneknya? Gadis itu ingin melakukan perjanjian. Tapi, kenapa malah membahas yang lain?


Oke, back to story ....


Zhang Yui Wei masih mencari Siyu Hua, namun sampai saat ini belum bertemu dengan wanita tua itu. Ia merasa lelah karena telah menelusuri setengah dari kediaman Zhang. Oh ayolah, bahkan kediaman Zhang lebih besar dari sebuah lapangan sepakbola.


Ia telah mencari Siyu Hua ke Paviliun Zhang Jiu Zhi, Paviliun Zhang Ji Xiao, Paviliun Ibunya, kediaman pelayan yang pastinya kosong karena mereka sedang bekerja, bahkan ke tempat pelatihan untuk prajurit.


Hei, berhenti. Kenapa malah sampai mencari ke tempat pelatihan prajurit? Dia sedang mencari Neneknya, bukan mencari penjaga untuk kediamannya.


“Sebenarnya, di mana Nenek? Sulit sekali mencarinya.” keluh Zhang Yui Wei.


‘Tunggu, ada satu tempat yang belum dibedah. Mungkin saja Nenek ada di sana!’