
Episode sebelumnya .....
“Kau ini kecil, jadi mudah terseret-seret. Jika kau hilang, nanti pria itu akan mengamuk padaku!” lanjutnya.
Ini terdengar seperti pria ini tengah mengejeknya. Padahal ia sudah cukup terharu, namun semuanya jadi buyar! Bisakah pria ini tidak mengejeknya? Setidaknya, katakan hal yang manis!
“Menyebalkan!”
Zhang Yui Wei menyikut perut Yang Jia Jun hingga pria itu mengerang kesakitan. Ia tidak bohong, rasanya cukup sakit! Apakah Zhang Yui Wei cocok untuk dipanggil sebagai seorang gadis?
“Bisakah berhenti memukulku? Itu sakit!” keluhnya.
“Hmph,” Zhang Yui Wei memalingkan wajahnya sebal.
🥲😐
“Apa kau ingin ke sana? Orang-orang akan menaruh harapan di sungai?”
Zhang Yui Wei kembali menoleh padanya dengan wajah penasaran. Menaruh harapan? Di sungai? Bagaimana itu? Ia belum pernah mendengar hal seperti itu.
***
“Menaruh harapan di sungai?” beo Zhang Yui Wei.
“Iya. Mau mencobanya?”
Zhang Yui Wei mengangguk. Ia hanya diam saja saat Yang Jia Jun menarik tangannya dengan lembut. Pria ini tengah menuntunnya menuju sungai. Juga supaya ia tidak tersesat. Kalau Yang Jia Jun yang bilang, pasti akan mengatakan dirinya kecil, jadi mudah tersesat dan sulit dicari.
“Dear pembaca, jangan anggap aku kecil!”
BRUKK
Yah, di sini memang cukup ramai. Beberapa kali bahunya tersenggol oleh orang yang berlalu lalang.
“IBUUU.”
Seorang anak kecil berlari ke arahnya. Tidak, sebenarnya anak itu berlari ke arah Ibunya, yang kebetulan arahnya sama dengannya. Karena terlalu bersemangat, anak itu menyenggol Zhang Yui Wei cukup keras. Zhang Yui Wei yang kurang seimbang pun hampir jatuh.
“S*al! Seseorang, tolong tangkap aku!”
Bukankah ini adalah alur yang sangat pasaran? Jawabannya, tentu saja iya. Alur pasaran di mana seorang gadis hampir terjatuh, lalu ditangkap oleh pangeran tampan berkuda putih, eak.
TEP
Yang Jia Jun mengencangkan pegangannya pada Zhang Yui Wei. Zhang Yui Wei menghembuskan nafas kasar. Sepertinya lain kali ia harus lebih berhati-hati karena ia kecil. Namun, hal yang penting sekarang adalah, dia tidak jatuh.
Zhang Yui Wei melirik Yang Jia Jun yang memegang tangannya erat-erat. Tapi, apa-apaan ekspresinya? Ia tak seberat itu! Dan Lagi, bisakah ini jadi lebih romantis lagi?
BRUKK
Seseorang tiba-tiba saja menyenggolnya lagi. Apakah keberuntungannya saat ini telah sampai limit? Berkali-kali bahunya tersenggol. Yah, ia harus maklum karena ini adalah festival. Namun, bisakah ia lebih sial lagi?
Zhang Yui Wei berjalan maju karena refleks dan akhirnya menabrak Yang Jia Jun. Ini ..... kenapa rasanya ini sedikit ambigu, ya?
“Akhirnya kau tahu, kan? Kau ini kecil sampai-sampai bisa terseret ribuan mil. Bukankah kau beruntung karena ada aku?”
Wait, apakah pria ini sedang mengejeknya? Dan lagi, kenapa dia sangat narsis? Yah, ia akui, pria ini memang sangat berguna. Namun, ia masih tidak terima karena dianggap kecil!
Zhang Yui Wei mendongak untuk menatap Yang Jia Jun yang lebih tinggi darinya. Tingginya saja hanya sebatas dada pria ini. Tapi, bukankah ia cukup tinggi untuk seumurannya?
DEG
“Ini suara jantung siapa? Jantungku atau jantungnya?”
Mereka hanya bisa menanyakan itu dalam hati.
Wajah Yang Jia Jun terlihat mengeras, seperti tengah menahan sesuatu. Hei, pria ini tidak sedang menahan kentut, kan? Memikirkan ini membuat suasananya jadi buyar. Yang tadinya nuansanya berwarna pink dengan bunga dan love-love imajiner yang bertaburan di udara, semuanya telah buyar.
“S*al, sangat dekat! Tidakkah gadis ini sadar? Aku ini pria yang normal!”
Yah, Zhang Yui Wei mungkin tak menyadari itu. Walaupun di kehidupan sebelumnya ia adalah wanita dewasa, namun, ia tak mengerti tentang hal berbau dewasa. Menurutnya, tugasnya sebagai pembunuh bayaran lebih penting. Hal itu tertutupi oleh sikapnya yang dingin dan acuh.
Zhang Yui Wei mengernyit. Apakah pria ini tak nyaman karena terlalu dekat dengannya? Ia pun memutuskan untuk menjauh. Lagi pula, ia juga tidak ingin berlama-lama dalam posisi seperti ini.
“Ada apa?”
Yang Jia Jun menghela nafasnya kasar. “Tidak, tidak apa.”
“Tadi itu hampir saja.”
Yang Jia Jun melirik Zhang Yui Wei yang tengah menatap ke sungai. Adegan tadi membuatnya lupa kalau mereka tadinya ingin ke sungai. Ia meraih tangan mungil gadis itu dan menariknya lembut, mengajaknya untuk pergi ke sungai.
“Ayo.”
“Ya.”
Keduanya berjalan bersama menuju sungai yang kini tak terlihat lagi permukaannya karena banyaknya benda di atasnya yang terapung dan bergerak mengikuti arus. Benda itu terlihat seperti lentera mini, ada cahaya samar yang terlihat dari dalam. Ia heran mengapa cahaya itu masih menyala. Bukankah itu berasal dari lilin? Apakah tidak akan akan padam terkena air?
“Ambillah satu.” ucap Yang Jia Jun sambil menyodorkan lentera yang sama dengan yang terapung di sungai.
Zhang Yui Wei tentu akan menerimanya dengan senang hati. Memangnya siapa yang tidak ingin gratisan?
“Nyalakan sumbunya, lalu letakkan di sungai.” ucap Yang Jia Jun memberikan instruksi.
Untuk saat ini, Zhang Yui Wei tidak akan ribut dulu dengan pria ini. Dia kan anak baik. Tentu saja anak baik tidak mencari masalah.
Kok jadi ngelantur, sih?
Zhang Yui Wei melakukan apa yang telah diinstruksikan. Ia menyalakan sumbunya, hingga menciptakan api kecil seperti lilin. Lalu, ia menaruh lentera itu dengan hati-hati ke permukaan sungai.
“Memang tidak akan terbakar? Bagaimana jika ada yang saling menyenggol lalu terbakar? Kan lucu jika kebakaran di atas sungai.”
Lentera-lentera itu perlahan bergerak mengikuti arus sungai. Zhang Yui Wei hanya meratapi semua itu.
“Katanya jika kau meletakkan lentera di sungai, maka harapanmu akan terkabulkan. Dewa akan mendengarnya dan mengabulkan permintaanmu.”
Huh, omong kosong macam apa itu?
Zhang Yui Wei tidak terlalu percaya pada hal seperti itu. Dewa? Ia sedikit meragukan eksistensi itu.
“Jikapun Dewa mendengarnya, mungkin dia akan menggerutu saking banyaknya permintaan.”
Oh ya, ngomong-ngomong soal harapan, memangnya apa harapannya? Ia sendiri tak tahu apa yang ia harapkan. Apalagi Dewa. Memangnya apa yang akan Dewa kabulkan? Huh.
“Apa permintaanmu?”
Yang Jia Jun langsung menoleh pada gadis bersurai merah muda di sampingnya ini. Rambut yang sangat unik. Sedikit berkilau oleh cahaya lentera yang terpasang di sekitar sungai. Oh, jangan lupakan mata bulatnya yang berwarna magenta. Sejak awal gadis ini memang unik.
“Apa kau penasaran apa permintaanku?”
...🌾🌾🌾...