Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 042. Yang Paling Pengecut



Episode sebelumnya ....


‘Nona .... Semoga dia baik-baik saja.’


Sementara di luar, para pembunuh bayaran tengah bersusah payah melawan patung batu yang tiba-tiba saja menyerang mereka. Jumlah mereka tidak ada habisnya. Mereka terus menyatu walaupun sudah dihancurkan.


Para pembunuh bayaran merasa lelah menghadapi patung batu yang terus muncul. Energi mereka sedikit terkuras karena melawan patung batu itu. Mereka juga merasa jengkel, kapan ini akan selesai?


“Baguslah, setidaknya mereka bisa menghalangi para pembunuh bayaran untuk sementara waktu. Sampai tuan berhasil menerobos ke tingkat selanjutnya,”


Xiao Gui saat ini tengah duduk di batang pohon yang ada di dekat gubuk sambil memakan permen lolipop yang ada di tangannya. Dia terlihat menikmati pertarungan yang ada di depan matanya. Di sampingnya juga ada Ling Luo yang juga tengah melihat pertarungan yang tidak ada habisnya itu.


Xiao Gui mengajak bicara pada Ling Luo. “Makhluk aneh, kira-kira kapan tuan akan selesai? Dia kan melewati pertarungan yang menarik ini. Oh, tidak. Jika saja dia ada di sini, mungkin saja dia kan kehilangan kendali seperti tadi.”


***


Entah sadar atau tidak, saat ini ia tengah mengajak makhluk aneh itu berbicara dengannya. Mungkin dia tidak tahu itu.


“Waa waaa waa,”


Xiao Gui mengedikan bahunya. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan Ling Luo. Yang jelas, keduanya saat ini tengah akur.


Sementara di ruang dimensi, Lu Xiao Lan masih berkultivasi di dalam air terjun. Matanya masih terpejam. Namun, ia merasakan firasat buruk dan hampir membuat semuanya buyar. Lu Xiao Lan langsung menarik spiritual yang hampir keluar dari tubuhnya.


‘Fokus, fokus,’


Lu Xiao Lan menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Spiritual di tubuhnya mulai stabil.


Beberapa lama kemudian, sebuah cahaya keluar dari tubuhnya. Inilah saat-saat yang ditunggu.


Booommm!!!


Suara ledakan dapat terdengar. Lu Xiao Lan mulai membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya. Tidak ada siapapun di sana. Padahal tadinya ada Xiao Gui yang berjaga.


Lalu, ia melihat tangannya yang samar-samar mengeluarkan cahaya. Dia menembus 3 tingkat. Jadi, sekarang ia berada di tahap pengumpulan qi tingkat 5. Lumayan. Lu Xiao Lan mencoba untuk berdiri. Kakinya terasa kaku karena terus duduk di atas batu itu selama berhari-hari. Ia pergi mencari Xiao Gui dan Ling Luo, namun tidak menemukannya di manapun.


“Sebenarnya mereka ini pergi kemana? Padahal aku sudah mencari kemana-mana, tapi tidak menemukan mereka.”


Lu Xiao Lan memutuskan untuk keluar dari ruang dimensi. Kini ia berada di hutan kematian, lebih tepatnya di tempat ia bertarung dengan harimau itu.


Lu Xiao Lan mengernyit. Ia samar-samar mendengar suara pertarungan. Dan itu berada di arah tempat gubuknya. Ia segera pergi ke tempat pertarungan itu, berharap bukan di gubuknya. Ia merasakan firasat buruk.


Lu Xiao Lan mengambil pedang dari ruang dimensi dan masuk ke pertarungan sambil menyeret pedangnya.


Xiao Gui dan Ling Luo terkejut saat melihat Lu Xiao Lan yang membawa pedang. Ini mengerikan. Pertumpahan darah tidak akan bisa dielak lagi. Lu Xiao Lan telah dalam mode marah saat ini.


Lu Xiao Lan menyeret pedangnya dan membuat bunyi nyaring saat pedangnya terbentur oleh batu. Patung batu yang jumlahnya begitu banyak segera menghilang. Semua perhatian kini tertuju padanya.


Inilah sasaran mereka.


Para pembunuh bayaran tanpa menunggu lama langsung melesat ke arah Lu Xiao Lan. Lu Xiao Lan menatap tajam pada mereka semua. Ia memukul dan menendang pembunuh bayaran yang mengayunkan pedangnya, ingin memenggal lehernya.


Lu Xiao Lan tersenyum penuh arti dan mengayunkan pedangnya. Dalam hitungan detik, beberapa kepala melayang dan terjatuh di tanah, terpisah dari tubuh mereka. Mereka yang melihatnya terkejut sekaligus merasa geram. Tampaknya mereka telah meremehkan anak kucing.


Sedangkan di ruang bawah tanah, Xin'er sudah tidak tahan lagi. Ia menyiapkan pisaunya dan hendak keluar dari ruang bawah tanah. Ia menyingkirkan jerami yang menutup lubang.


Kini ia telah berada di dapur. Yan Xiao Han juga mengikutinya. Langkahnya terhenti saat suara yang familiar tertangkaap oleh telinganya.


“Sepertinya jumlah kalian telah berkurang setengahnya. Apa yang akan kalian lakukan sekarang?”


Itu adalah suara Lu Xiao Lan. Lu Xiao Lan saat ini tengah mengelap pedangnya yang berlumuran darah dengan sapu tangan, lalu membuangnya dengan sembarangan.


Gadis itu menatap pembunuh bayaran yang tersisa sedikit dan menyeringai. Rasanya bulu kuduk mereka berdiri melihat iblis di depan mereka. Bahkan tak sedikit yang jatuh berlutut karena kakinya lemas.


Xin'er terkejut, begitu pula dengan Yan Xiao Han. Pemandangan di depan mereka .... Ada banyak darah yang berceceran di tanah dan bahkan ada yang telah mengering. Lalu, mereka menatap Lu Xiao Lan. Penampilan gadis itu sangat berbeda. Menakutkan!


Bau anyir segera menusuk indra penciuman mereka. Yan Xiao Han dan Xin'er menutup hidung mereka. Rasanya mual, ingin muntah. Mereka heran, padahal di sekitar Lu Xiao Lan ada banyak darah. Apalagi ada yang menempel di bajunya. Namun, gadis itu nampak tidak terganggu sama sekali. Seperti kelihatan .... senang?


Xin'er menggigit bibir bawahnya. Ia merasa tak berguna. “Nona .... ”


Yan Xiao Han merasa ngeri dengan pemandangan yang ada di depannya. Sungguh tidak terduga. Gadis yang kelihatan lemah, kini terlihat seperti malaikat maut. Tidak, bahkan itu lebih mengerikan. Malaikat maut tidak akan sekejam gadis itu!


“Benarkah dia adalah gadis yang menyelamatkanku? Rasanya .... ” gumam Yan Xiao Han.


Lu Xiao Lan bersiap dengan pedangnya dan melesat ke arah mereka. Tanpa mendapat kesempatan untuk bersuara apalagi berteriak, mereka telah menghembuskan nafas terakhirnya.


Darah menyembur keluar dari bekas pedang seperti air mancur. Mata mereka masih terbelalak tidak percaya, namun terlambat. Malaikat maut telah mengambil arwah mereka tanpa menunggu.


Kini hanya tersisa satu orang saja. Lu Xiao Lan sengaja menyisakan orang itu. Jika dilihat dari tampilan orang itu, pasti dia adalah yang paling pengecut diantara teman-temannya. Lu Xiao Lan menyeret pedangnya, membentuk sebuah garis di atas tanah yang dipenuhi oleh noda darah.


...🌾🌾🌾...