
Episode sebelumnya ....
Setelah berada di puncak, Zhang Yui Wei menatap ke bawah dan menelan ludahnya dengan susah payah. Ia merasa sedikit merinding melihat ketinggian ini. Namun, jangan mengatakan jika ia phobia ketinggian, ia tidak punya phobia apapun!
“Apakah ini yang dirasakan Hua Hua saat itu?”
Zhang Yui Wei menggelengkan kepalanya, berusaha menepis rasa takutnya. Koreksi, hanya sedikit ngeri saja.
Zhang Yui Wei memejamkan matanya dan melompat turun ke bawah, berharap ia tidak merasakan sakit apapun. Dan .... sepertinya harapannya terkabul. Ia tidak merasa sakit, namun .... empuk?
“Auuww,”
Suara berat terdengar tengah kesakitan, lalu ia menatap ke bawah. Jadi, ia merasa empuk karena .... menindih tubuh pria ini?! Astaga! Apa yang telah ia lakukan?!
***
Zhang Yui Wei segera berdiri dan berjalan agak menjauh dari pria itu. Namun, ia penasaran. Kenapa pria ini tidak berdiri? Ia kan sudah menjauh. Apakah pria ini mati?
Sepertinya tidak. Tadi saja pria itu mengerang kesakitan. Zhang Yui Wei jelas mendengarnya. Pria itu segera berdiri dan membuat Zhang Yui Wei terkejut.
Zhang Yui Wei menatap pria itu takut-takut. “M-maaf, kau siapa?”
Pria itu masih membersihkan pakaiannya, lalu menoleh. Pria itu nampak terkejut, namun hanya sekilas. Wajahnya langsung berubah menjadi biasa.
“Kau adiknya Jiu Zhi, Zhang Yui Wei, kan? Baiklah, aku pergi dulu. Lain kali, berhati-hatilah.” pria itu pergi dan melambaikan tangannya dan pergi tanpa menunggu Zhang Yui Wei untuk merespon.
“Dia mengenalku?” gumamnya bertanya-tanya.
Namun, bukan ini tujuannya menyelinap. Ingatlah, ia ingin pergi untuk jalan-jalan. Mungkin ke pasar?
***
Zhang Yui Wei kini tengah berada di keramaian pasar. Ada banyak orang berlalu lalang. Para pedagang mengeluarkan suara dengan keras, berusaha untuk menarik beberapa pembeli untuk membeli barang dagangannya.
Tak jarang ada suara ribut pembeli yang meminta diskon pada si pedagang karena barang terlalu mahal, ataupun karena uangnya tak cukup untuk membelinya. Memangnya, siapa yang tidak mau diskon?
Zhang Yui Wei teringat dulu saat masih menjadi Hua Lin. Ia pernah menyamar sebagai pembeli di pasar untuk menangkap pengedar senjata ilegal yang berkeliaran di sana. Membayangkannya saja membuatnya ingin tertawa.
Bagaimana tidak? Dulu ia berpura-pura sebagai ibu rumah tangga yang membeli sayur. Ia terus menawar pada si pedagang, padahal harganya sudah murah. Pedagang itu sedikit takut dengan sifatnya yang dingin, namun juga kesal karena pembeli ini selalu menawar, padahal itu sudah harga yang ia beli. Bisa dibilang itu modalnya.
Juga ia pernah berebut barang diskon dengan ibu-ibu. Yang pasti ia kalah, ibu-ibu walaupun pekerjaannya hanya di rumah, namun tenaganya luar biasa. Tubuhnya yang kecil terseret-seret dan hampir terjatuh. Sungguh sesak, rasanya seperti mau meledak karena terus-terusan terhimpit.
Zhang Yui Wei memborong semua makanan yang dilihatnya. Ia tak mengambil kembalian karena menurutnya itu repot, tangannya saja penuh dengan makanan.
Dia tidak membawa kantong yang cukup untuk menampung kembaliannya. Walaupun ada ruang spirit, namun ia tidak ingin menyimpan koin-koin yang menurutnya bernilai rendah. Bisa dibilang boros gak sih ni orang?
Zhang Yui Wei teringat dengan kedai yang waktu itu dikunjunginya bersama Hua Hua. Kedai Tea Time. Yah, kedai itu memang sedikit aneh. Tidak, malahan sangat aneh. Bukankah makanan-makanan seperti di restoran belum dibuat di zaman ini? Mungkin juga pencetus makanannya belum lahir atau mungkin belum dibuat.
*Wkwkwk, salfok sama kata 'belum dibuat'🤧*
Zhang Yui Wei menatap bangunan yang sedikit tua, namun juga berkelas yang berdiri kokoh di depannya. Kondisinya masih sama seperti terakhir kali ia lihat. Di tembok itu juga ada tulisan 'Kedai Tea Time'.
Ia masuk ke dalamnya dan disambut oleh salah satu pelayan yang ada di sana dengan ramah. Zhang Yui Wei memilih untuk duduk di dalam. Ia menatap ke sekitar, sedikit sepi. Hanya ada beberapa pelanggan termasuk dirinya yang ada di sana. Sepertinya kedai sedang sepi. Biasanya ramai pelanggan.
Zhang Yui Wei memesan ayam goreng, sekarang ia sedang ingin makan ayam goreng. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya 2 porsi ayam goreng telah disajikan di mejanya. Ia hampir meneteskan air liur melihat makanan yang tersaji di depannya, apalagi wanginya sangat harum dan menggugah selera.
Pelayan itu menatap 2 porsi ayam goreng di atas meja dan bertanya dengan ramah. “Maaf, nona. Apakah anda membuat janji dengan seseorang? Kami akan mengantarnya jika tamu anda telah datang,”
Zhang Yui Wei yang hendak mengambil paha ayam langsung menoleh pada pelayan itu. “Tidak, aku tidak ada janji dengan siapapun. Aku hanya sendirian.”
Pelayan itu terlihat merasa bersalah. Zhang Yui Wei langsung berkata, “Tidak apa. Nafsu makan-ku memang besar,”
Pelayan itu menunduk meminta maaf dan izin untuk pergi melayani pelanggan lainnya. Zhang Yui Wei melambaikan tangannya, mengizinkan pelayan itu untuk pergi.
Zhang Yui Wei langsung mencomot salah satu paha di piring dan menambahkan saus di atasnya lalu menggigitnya. Rasanya sangat enak, rasa yang tak akan pernah dilupakan olehnya. Bagaian luar paha terasa renyah dan kriuk-kriuk. Sedangkan bagian dalamnya terasa lembut. Rasanya juga pas.
*Tiba-tiba ngerasa kalau ini lagi iklan🙄*
Setelah memakan 2 porsi ayam, Zhang Yui Wei bersender pada kursi dan mengelus perutnya. Perutnya sekarang terasa penuh. Sebuah pertanyaan secara tiba-tiba muncul di benaknya. Di dunia antah berantah ini, apakah ayam sudah ada?
Entahlah. Zhang Yui Wei melambaikan tangannya, berusaha untuk menepis pertanyaan di benaknya. Untuk apa memikirkannya? Yang penting perutnya kenyang sekarang.
*Tiba-tiba merasa malu dengan sikap FL🙃*
Setelah perutnya kenyang, Zhang Yui Wei pergi ke kasir untuk membayar makanannya. Gadis itu langsung pergi dari kedai setelah membayar. Sekarang hari sudah siang, mataharinya sangat terik hingga membuat kulitnya terasa terbakar.
Rasanya tenggorokannya begitu haus. Sepertinya ia harus segera pulang. Zhang Yui Wei mencari sebuah kereta kuda untuk kembali pulang. Ia kemudian menemukan rentetan kereta kuda dan menghampiri salah satu.
“Tolong antarkan aku di dekat kediaman Zhang,”
...🌾🌾🌾...