
"Hosh ... hosh ... hosh ... "
Seorang gadis bersurai merah muda tengah menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Ada air di wajahnya, itu adalah air bathub bercampur dengan keringat dingin. Dia mengelap dahinya dengan lengan dan menstabilkan detak jantungnya.
Gadis itu mulai membuka matanya yang berwarna magenta sambil mencengkram dadanya, merasakan detak jantungnya yang mulai normal. Dia memejamkan matanya dan membukanya lagi.
Sungguh aneh, padahal dirinya sedang mandi, malah pingsan dan memimpikan hal buruk. Ini jelas tidak normal. Untung saja dirinya cepat tersadar dan memunculkan kepalanya dari dalam air yang hampir membuatnya tenggelam.
"Sial, kenapa setelah aku pindah ke sini, malah banyak hal yang aneh sih?" gumamnya sambil membuang nafas dengan kasar.
Zhang Yui Wei, dia segera menyudahi mandinya dan keluar dari kamar mandi. Dia membuka pintu dan melangkah dengan hati-hati, takut jatuh. Zhang Yui Wei memakai hanfu berwarna biru, juga aksesoris yang berwarna senada.
"Memang Hua Hua, tidak pernah mengecewakan aku." ucapnya dengan puas sambil memandangi dirinya di cermin.
"Tentu saja nona, jika anda mencari pelayan yang seperti saya, pasti tidak akan ketemu!" ucapnya dengan percaya diri.
"Iya iya tentu saja."
***
Di saat yang sama, di sebuah hutan yang mengerikan, sebuah gubuk—yang tidak layak untuk ditinggali oleh manusia—berdiri, namun itu tidak terlalu kokoh. Mungkin itu bisa runtuh kapan saja.
Walaupun ini adalah di pagi hari, namun pepohonan yang tinggi dan rimbun, jumlahnya juga tidak sedikit, dan membuat sinar matahari tidak mempan untuk menerangi kawasan itu. Berhubung di sini adalah hutan kematian lapisan pertama dan yang paling ujung depan, maka tidak terlalu berbahaya. Tidak terlalu berbahaya bukan berarti aman.
Lu Xiao Lan, gadis yang kini tengah meregangkan tubuhnya. Dia memakai pakaian olahraga berwarna hitam dengan rambut yang dikuncir kuda. Lu Xiao Lan menatap Xin'er yang kini tengah memembersihkan gubuk tempat di mana mereka berdua tinggal bersama.
'Aku sungguh tidak mengerti, kenapa aku dihukum. Aku sendiri tidak ingat apa yang aku lakukan sampai-sampai menyebabkan aku harus tinggal di sini, di gubuk reot yang bisa roboh kapan saja. Aku saja berpikir kalau aku sentuh sedikit saja akan langsung roboh. Harus pindah secepatnya dari sini membawa Xin'er juga."
"Xin'er, aku ingin tahu, sebenarnya aku salah apa? Padahal aku tidak merasa ada salah, lalu kenapa harus tinggal di gubuk ini? Lagipula aku kan sudah punya uang, aku bisa menghidupi kita berdua, bagaimana kalau pindah saja?" Lu Xiao Lan mengeluarkan isi hatinya sambil menatap Xin'er yang menghentikan gerakannya.
Xin'er diam mematung saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Lu Xiao Lan, ekspresinya sekilas menggelap. Itu seperti menandakan kalau pertanyaan ini yang dia hindari. Xin'er tersenyum kecut dan menampilkan ekspresi sedih, tapi Lu Xiao Lan tidak bisa melihatnya karena Xin'er membelakanginya. Dia menggigit bibir bawahnya dan berbalik menatap Lu Xiao Lan sambil tersenyum.
"Kenapa nona bertanya seperti itu?" Sudah jelas, Xin'er tidak ingin menjawabnya dan malah bertanya balik.
Alis Lu Xiao Lan berkedut. Dia terlihat bingung, kan dia tanya, kenapa tanya balik? Tapi sepertinya Xin'er tidak pernah ingin mengatakannya, apapun itu. Ya, memaksanya juga tidaklah bagus, jadi lupakan saja.
"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya sedang kesal kenapa Ayah kandungku sendiri tidak peduli kalau anaknya mati di sini," ucapnya dengan ekspresi sedikit kesal. 'Di dunia ini, kekuatan menentukan segalanya. Yang lemah tidak bisa apa-apa."
Pandangannya terlihat tidak bersemangat. "Kenapa nona mengatakan itu? Maaf nona, kau lebih baik tidak tahu apapun, tidak, kau tidak boleh mengetahui apapun sampai kapanpun. Kau ... tidak boleh sampai tahu." ucapnya dengan nada serak.
Air matanya keluar tanpa sadar, ada apa ini? Kenapa Xin'er mengangis? Xin'er dengan cepat menghapus air matanya, sorot matanya juga berubah menjadi tajam. Kini dia terlihat sedikit mengerikan. "B*debah sial*n itu harus bertanggung jawab untuk ini. Dia harus bertanggung jawab dengan semua ini."
Xin'er menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal dengan erat sampai bergetar, buku-buku tangannya juga memutih, itu menunjukkan kalau dirinya sedang marah. Sekarang dia tidak lagi terlihat seperti seorang pelayan lemah dan cengeng.
"Nona, pilihan yang sulit akan menantikan dirimu. Bersiap-siaplah, karena aku juga tidak bisa menjamin keselamatanmu." Xin'er menatap arah Lu Xiao Lan pergi dengan sorot mata yang tajam dan penuh dengan kebencian.
***
Sementara di sisi lain, Lu Xiao Lan kini tengah berendam di sungai yang sama waktu dirinya masuk ke tubuh Lu Xiao Lan. Dia menenggelamkan dirinya hingga hanya menyisakan mata yang mengintai apakah ada sesuatu yang membahayakan atau tidak.
Lu Xiao Lan mendengar suara semak belukar yang bersentuhan karena adaya pergerakan, entah dari manusia atau spirit beast. Yang jelas, kini dirinya harus segera keluar dari air untuk memastikan apa yang membuatnya telah terusik.
Dia segera memakai pakaiannya kembali dan berjalan perlahan menuju semak-semak. Semakin mendekat suara itu terdengar semakin jelas, dan ada suara rintihan manusia yang tengah kesakitan. Lu Xiao Lan mengernyit, siapa manusia yang datang ke hutan kematian?
Memang kadang ada orang yang masuk ke hutan kematian untuk berburu atau untuk meningkatkan kemampuan, tapi tentu saja kembali dengan luka, baik ringan maupun berat. Dan juga ada yang tak kembali, entah apa yang telah terjadi padanya.
Saat semak itu dibuka, Lu Xiao Lan terkejut. Ada anak kecil di sini? Tubuhnya dipenuhi dengan luka lecet, bahkan ada bagian yang koyak. Diam-diam dirinya merasa ngeri, bagaimana bisa anak kecil ini mengalami luka seperti itu?
Yah, dia tidak peduli, yang jelas dirinya harus menolong anak kecil ini. Sekejam-kejamnya dirinya, tetap memiliki rasa kemanusiaan. Tidak mungkin meninggalkan anak laki-laki itu.
Anak kecil itu meringkuk menahan sakit, dan samar-samar melihat ada yang mendekat ke arahnya. Dengan sisa tenaga yang ada, dia berusaha untuk mengambil pedang yang tergeletak di sampingnya. Anak kecil itu berdiri sambil mengacungkan pedangnya ke arah Lu Xiao Lan.
Anak kecil itu berniat untuk membuat Lu Xiao Lan terluka, namun itu tidak ada gunanya. Lu Xiao Lan tersenyum sinis dan mengapit pedang yang mengarah kepadanya hanya dengan dua jari, jari telunjuk dan tengah.
"Heh, kau masih ingin membela diri dengan badanmu yang penuh luka itu? Tidak tahu diri. Jangan meremehkan aku, nanti aku bisa marah lho?" Lu Xiao Lan tersenyum sinis pada anak itu.
Anak itu dengan segera mencabut pedangnya, tapi dia tidak bisa. Entah karena tubuhnya yang kini tak berdaya atau karena Lu Xiao Lan yang kuat. "Ingin ambil pedang ini? Silahkan saja. Aku tidak berminat untuk bertarung dengan orang yang terluka. Dan lagi, jangan menodongkan pedang pada orang yang ingin menolongmu, mereka bisa takut lho?"
Lu Xiao Lan berbalik untuk meninggalkan anak itu, namun langkahnya terhenti karena sebuah suara. Dia menoleh ke belakang dan melihat anak itu ambruk. Sepertinya pingsan.
"Merepotkan," gumamnya.
...🌾🌾🌾...