
Di malam harinya, di Kediaman Zhang, di Paviliun Air, seorang gadis bersurai merah muda tengah berjalan dengan pelan dan hati-hati, takut menimbulkan duara dan membuat dirinya ketahuan oleh penjaga.
Mata magenta-nya menelisik segala arah untuk memastikan kalau tidak ada yang mengetahuinya. Namun, di atas dahan pohon ada seorang pria yang tengah bersandar. Pria itu melirik ke bawah dan dapat melihat gadis bersurai merah muda yang tengah mengendap-endap seperti seorang pencuri.
Zhang Jiu Zhi, pria itu tersenyum kecil melihat Zhang Yui Wei yang seperti itu. Dia memiringkan kepalanya, penasaran apa yang tengah dilakukan oleh adiknya.
Zhang Yui Wei masuk ke Paviliun Air sesuai isi kertas dari Neneknya, Siyu Hua. Namun, dia melewati dinding paviliun, tidak melalui pintu masuk. Karena dia pikir ini pertemuan rahasia, jadi perlu cara masuk yang sedikit tidak biasa.
"Ingin menemui Nenek? Kenapa tidak lewat depan saja? Akhir-akhir ini dia sepertinya sedang suka memanjat pohon." gumam Zhang Jiu Zhi.
Zhang Yui Wei menapakkan kakinya ke tanah. Kini dirinya telah berhasil masuk ke paviliun Air dengan memanjat. Zhang Yui Wei mengendap-endap menuju kamar Neneknya.
Suara decitan kayu yang diinjak kakinya menghiasi setiap langkahnya. Zhang Yui Wei kini telah sampai di depan pintu kamar Siyu Hua. Dia menjulurkan tangannya, ingin membuka pintu itu dan masuk menemui Neneknya.
Namun, gerakannya terhenti saat mendengar ada suara lain di dalam. Suara seorang wanita yang tidak asing di telinganya. Tunggu, bukankah ini pertemuan rahasia? Kenapa ada orang lain di sini?
"Masuklah, cucuku." Suara Siyu Hua membuat Zhang Yui Wei tersadar. Namun, dirinya belum merespon.
"Ada apa? Masuk saja, kemarilah Yui'er." Panggil Siyu Hua untuk yang kedua kalinya karena tidak mendapatkan jawaban.
Decitan pintu yang dibuka dapat terdengar. Zhang Yui Wei membuka pintu itu dan melihat Siyu Hua dan Lan Xi Diu tengah menatapnya. Dia terkejut saat melihat Ibunya juga ada di sini.
"Apa ini? Kukira Nenek hanya ingin menemuiku saja." Ucap Zhang Yui Wei sambil menutup pintu kembali.
Jika saja dia tahu kalau akan seperti ini, maka dirinya tidak akan mengendap-endap seperti seorang pencuri. Sedikit menyesali perbuatannya.
Zhang Yui Wei duduk di samping Ibunya dan menyeduh teh untuk dirinya sendiri sambil bertanya pada Neneknya, "Jadi, ada apa memanggil aku dan Ibu?"
"Yui'er, itu tidak sopan. Setidaknya berilah salam pada Nenekmu dulu." Bisik Lan Xi Diu sambil menepuk paha Zhang Yui Wei.
"Hahaha, tidak apa. Lagipula ini juga salahku, memanggil kalian malam-malam begini." Ucap Siyu Hua sambil menyesap tehnya.
"?"
Keduanya mengernyit. Jadi, apa yang ingin dibicarakan? Siyu Hua terlihat serius saat mengatakannya, jadi mungkin masalah ini cukup serius. Keduanya juga sedikit bingung karena Siyu Hua kini tengah serius, tidak seperti biasanya. Seserius apapun masalahnya tidak pernah seserius ini.
"Jadi, hal yang aku katakan adalah, aku ingin punya cicit." ucap Siyu Hua sambil tersenyum menatap Zhang Yui Wei.
'Tungggu, kenapa melihat ke arahku? Jika ingin cicit, mengapa mengatakannya pada kami?' batin Zhang Yui Wei yang merasakan krisis saat melihat Neneknya tersenyum ke arahnya.
"Lalu? Kenapa memberitahu itu pada kami? Bukankah usia Kakak juga sudah matang untuk menikah? Minta saja pada mereka!" ucap Zhang Yui Wei dengan wajah sedikit cemberut.
Kedua pria yang tengah dibicarakan pun bersin. Mereka berpikir mungkin ada yang tengah membicarakan mereka berdua. Sedangkan Zhang Yui Wei hanya tersenyum tak berdaya, 'Haha, mungkin Kakak kedua akan menangis jika tahu Nenek mengatakannya seperti itu."
"Jadi, kami masih tidak mengerti, Ibu." ucap Lan Xi Diu yang kini angkat bicara.
Siyu Hua tersenyum dan meletakkan cangkir tehnya yang kini hanya tinggal separuh. Zhang Yui Wei mengernyit, dia bisa merasakan akan ada badai yang datang menerpa dirinya.
"Yui'er, maukah kau?" Tanya Siyu Hua sambil tersenyum penuh arti.
"Hah?" Zhang Yui Wei sedikit tidak mengerti, mau apanya?
"Yui'er, maukah kau menikah dan memberi Nenek cicit? Hanya kau yang bisa diandalkan. Lagi pula, usiamu sepertinya juga cukup untuk menikah, kan?" ucap Neneknya dengan wajah memohon.
Brak!!
Suara sentuhan tangan dan meja yang terdengar begitu keras. Kini Zhang Yui Wei tengah berdiri dengan kedua telapak tangan di atas meja. Dialah yang membuat suara itu.
"Jadi Nenek memanggilku ke sini hanya untuk membicarakan omong kosong ini? Nenek, maaf. Aku harus peegi sekarang." ucap Zhang Yui Wei sambil menggeretakkan giginya, pandangannya jatuh ke bawah.
Setelah mengatakan itu, Zhang Yui Wei pergi dari sana dan keluar dari pintu depan. Dia tidak lagi peduli. Menikah? Yang benar saja! Dia tidak ingin menikah! Mendengar kata itu saja membuatnya muak.
Kenapa tidak minta saja pada Dua Kakak perempuan dari selir lainnya? Bukan hanya dirinya satu-satunya perempuan di kediaman ini, bukan? Sudahlah, dia mengantuk. Ingin tidur saja.
Penjaga yang tengah lewat di depan pintu paviliun Air terkejut saat melihat sang Nona Ketiga keluar dari dalam dengan raut wajah sedikit kesal. Zhang Yui Wei berjalan begitu saja tanpa menyapa kedua penjaga yang berpapasan dengannya, seperti yang biasa dia lakukan.
"Ada apa dengan Nona Ketiga? Dia terlihat begitu kesal. Apa telah terjadi sesuatu di dalam sana?" bisik salah satu penjaga pada temannya saat Zhang Yui Wei telah berjalan jauh.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Ini tidak seperti Nona Ketiga yang biasanya." gumam temannya yang juga heran.
Mereka menyudahi ghibah-nya dan lanjut berpatroli, takutnya ada yang melihat dan mengatakan kalau mereka bermalas-malasan.
Zhang Jiu Zhi yang selama ini mengamati dari bawah pohon langsung lompat turun dari sana. Dia juga bingung sama dengan kedua penjaga tadi. Tidak biasanya adiknya bersikap seperti itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi.
Di tengah semua itu, seorang Pria yang entah sejak kapan berada di belakang Zhang Jiu Zhi menepuk bahu Pria itu pelan. Zhang Jiu Zhi yang refleks langsung saja hendak mematahkan lengan orang itu, namun dia mengurungkan niatnya saat Pria itu sedikit berteriak.
"Hei, ini aku! Perlukah setiap aku datang kau selalu begini? Untung saja lenganku tidak patah!" ucap Pria itu. Zhang Jiu Zhi merenggangkan tangannya dan Pria itu langsung menarik lengannya, takut nantinya Zhang Jiu Zhi benar-benar akan mematahkan lengannya.
...πΎπΎπΎ...