Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 068. Roti Sobek



“Aku—Lan Dao Dao, tidak akan menyerah hanya karena Guru menolakku satu kali! Dua kali? Tiga kali? Sepuluh kali? Berapapun Guru menolakku, aku tidak akan pernah menyerah! Aku pasti akan membuatmu mengakui diriku sebagai murid!”


Setelah mengatakan itu, Lan Dao Dao langsung berlari keluar dari balai pengobatan. Sementara Lu Xiao Lan, dia terkejut mendengar hal itu. Fyuuh, gadis labil itu sangat keras kepala. Mungkin beberapa hari ke depan, ia akan direpotkan oleh Lan Dao Dao.


...“Aku tidak akan pernah menyerah, Guru! Tunggu saja!”...


Namun, hal itu membuatnya tersenyum. Semangat gadis itu patut untuk diapresiasi, tidak bisa diremehkan.


“Mari lihat apa yang akan kau lakukan untuk mendapat pengakuan diriku.” gumamnya tersenyum.


“Aku akan menunggumu, Lan Dao Dao.”


Lu Xiao Lan menghela nafas dan hendak mengambil pil yang telah ia racik begitu lama. Namun, ia tak melihatnya. Padahal ia yakin tadi diletakkan di sampingnya, kenapa sekarang malah tidak ada? Tunggu, apakah .....


🙂💢


Lu Xiao Lan mendengus dan bergumam. “Menunggumu? Heh, aku akan menunggumu untuk mengganti semua pil yang telah aku buat, Lan Dao Dao!”


***


Lu Xiao Lan menghembuskan nafasnya kasar. Ia sedikit merasa kesal karena Lan Dao Dao telah mengambil semua pil yang telah ia buat dengan susah payah. Memangnya gadis itu pikir membuat pil itu seperti mengambil bantuan sembako, boleh diambil begitu saja?


Tidak semudah itu ferguso .....


Bahkan gadis itu sampai menulis surat.


...“Guru, aku ambil pil-mu sebagai hadiahku!”...


Sungguh membuatnya jengah. Dan lagi, sejak kapan ia punya murid? Apalagi itu murid rese yang pecicilan, serampangan, angkuh. Hah~ jika diteruskan, narasi ini akan sangat panjang tentunya.


“Nona, ada apa? Sepertinya kau sedang kesal.”


Lu Xiao Lan menoleh dan mendapati Ketua Guild tengah menatapnya dengan bertanya-tanya.


“Tidak ada.” jawabnya sambil melirik ke arah lain.


“Nona, bisakah kau membantu kami? Ada masalah yang genting.” ucap Ketua dengan wajah serius.


Lu Xiao Lan mengernyit. Masalah genting? Masalah apa sebenarnya? Dari ekspresi Ketua kelihatannya ini bukanlah masalah yang sepele. “Membantu? Tentu saja. Aku kan bagian dari Guild ini. Memangnya masalah apa sampai serius begitu, Ketua?”


Ketua terdiam sejenak dan menghela nafasnya. Kemudian, tangannya ia letakkan pada bahu gadis itu yang sedikit lebar. Sungguh aneh baginya karena seorang gadis memakai pakaian laki-laki, dan lagi bahunya lebar, hampir seperti laki-laki juga. Wajahnya juga mendukungnya. Tunggu, kenapa malah membahas bahu?


Ketua menatapnya dengan intens, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hal ini membuat Lu Xiao Lan merasa tidak nyaman. Bagaimana tidak? Ia merasa seperti sedang diseleksi.


“Sebenarnya apa yang sedang Ketua lakukan? Dia bilang ingin minta bantuan dariku. Tapi kenapa malah melihatku seperti itu? Ketua, sebaiknya kau tidak beralih profesi menjadi alat pemindai.”


GREP


Lu Xiao Lan mengernyit melihat Ketua yang menghela nafas lagi. Mulutnya sedikit terbuka untuk mengatakan sesuatu. Namun, lagi-lagi kata-katanya tertahan.


Susah banget sih ngomongnya, kayak mau lagi nembak doi aja.....


Lu Xiao Lan menatap ketua sambil memberikan sebuah senyuman. “Ketua, kau harus mengatakannya dengan jelas baru aku akan mengerti.”


Ketua terlihat bingung untuk mengatakannya bagaimana. “Entahlah nona, aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Sebaiknya ikut saja aku.”


***


Kini Lu Xiao Lan telah tiba di depan sebuah kamar, mungkin. Ketua menggeser pintu itu dan masuk ke dalam, diikuti oleh Lu Xiao Lan.


“Ketua, apakah kau sudah membawanya?” tanya seorang gadis yang langsung menghampiri Ketua.


Ketua mengangguk. “Tentu saja, Putri. Saya sudah membawanya. Saya sangat yakin dengan kemampuan dari Nona Lan'er. Jadi, anda tidak perlu merasa khawatir.”


Gadis itu menghela nafas lega, kemudian menatap gadis yang berdiri do belakang Ketua. “Jadi.... ”


Gadis itu menatap lu Xiao Lan dari atas sampai bawah. Menurutnya, orang yang dibawa oleh Ketua sedikit aneh. Bagaimana tidak? Dia mengenakan pakaian laki-laki. Namun, tentu saja wajahnya cantik.


“Jadi... apakah dia yang akan mengobati Kakakku? Aku merasa sedikit tidak... yakin?”


Lu Xiao Lan segera maju ke hadapan gadis itu. “Mungkin anda meragukan saya, namun, saya akan melakukan yang terbaik.”


Meskipun begitu, namun gadis itu masih merasa ragu. Hal itu tertera jelas dari pancaran matanya. Ia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukannya. Bagaimana jika gadis yang dibawa oleh Ketua tidak sehebat itu?


Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Lu Xiao Lan berjalan menuju seorang pria yang terbaring lemah di atas ranjang. Ia tahu, pria itu masih sadar dan mendengar percakapan mereka, namun kondisinya yang sangat lemah membuatnya hanya bisa terbaring. Sungguh malang....


Lu Xiao Lan meraih tangan pria itu dan mengecek nadinya. Ia mengernyit saat mendapati denyut nadinya sangat lemah, bahkan hampir tak merasakannya. Lu Xiao Lan kembali meletakkan tangan pria itu dibatas ranjang.


Ia segera membuka pakaian pria yang tengah terbaring lemah itu dan membuat gadis yang sedari tadi hanya mengamati—terkejut. Ia langsung mendekat pada Lu Xiao Lan dan mencekal tangannya.


“Apa yang kau lakukan?!” pekiknya.


Lu Xiao Lan segera melepaskan tangannya dari gadis itu. “Aku ini sedang mengobatinya. Jika tidak di buka, bagaimana aku mengobati luka di dadanya? Kau ini aneh sekali.” ucapnya sedikit kesal. “Dan lagi, apa kau akan terus di sini? Yah, itu tidak masalah sih. Tapi, apa kau benar-benar ingin melihatnya sampai akhir? Sepertinya itu bukan pemandangan yang bagus untuk dilihat. Apalagi jika kau takut dengan darah.” lanjutnya.


Gadis itu terdiam mendengar ucapan Lu Xiao Lan. Yah, ini juga tidak mungkin jika dia terus di sini. Namun, ia hanya tidak ingin Lu Xiao Lan berbuat macam-macam terhadap pria itu.


“Baiklah.” ucapnya dengan tidak rela.


Kini hanya tinggal Lu Xiao Lan dan pria itu saja yang berada di dalam ruangan.


GLEK


Lu Xiao Lan menelan ludahnya dengan susah payah. Ia membuka pakaian pria itu dengan tangan yang gemetar. Salah satu tangannya mencekalnya supaya tidak lagi gemetar, namun tetap saja tak berhasil.


Lu Xiao Lan menghela nafas. Wajahnya kini sedikit memerah. Yah, biar bagaimanapun, ia harus profesional. Namun, di kehidupan sebelumnya ia belum pernah bersentuhan seperti ini dengan pria. Walaupun ini untuk menyelamatkan pasien, namun tetap saja ini membuatnya grogi.


Akhirnya pakaian pria itu telah terlepas. Ia meletakkannya di dekat ranjang dan kemudian menatap pria yang menjadi pasiennya itu dengan wajah memerah. Untunglah tidak ada orang selain mereka di sana.


“*Astaga, roti sobek!”


...🌾🌾🌾*...