
"Huff, ternyata sulit untuk menjadi anak kecil. Pipiku rasanya pegal" gumam Yui Wei sambil mengusap-usap pipinya yang pegal karena terus tersenyum.
Bagaimanapun, Yui Wei dulunya adalah pembunuh bayaran di kehidupan modern-nya. Tentu saja dia akan jarang tersenyum atau bahkan tidak pernah.
Bahkan mungkin dia tidak tahu cara tersenyum karena tidak pernah tersenyum pada orang lain. Yui Wei menoleh ke samping dan mendapati Hua Hua yang telah keluar dari kamar mandi.
"Nona, air-nya sudah siap" ucap Hua Hua.
"Baiklah, aku akan ke sana" ucap Yui Wei.
Dia turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Hua Hua mengikuti Yui Wei masuk dan membuat gadis itu kebingungan.
"Kenapa kau mengikuti aku, Hua Hua? Aku kan ingin mandi" tanya Yui Wei dengan penuh tanya.
"Bukankah biasanya nona selalu meminta saya untuk membantu membersihkan diri? Lagi pula itu pekerjaan nubi" jawab Hua Hua yang membuat Yui Wei menghela nafas.
"Tidak perlu untuk menemani aku. Lagi pula, aku sudah besar, aku bisa sendiri. Apa kau masih menganggap aku anak kecil, Hua Hua?" ucap Yui Wei dengan wajah cemberut.
"Ah, tentu saja tidak nona" jawab Hua Hua dengan cepat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hua Hua menjadi serba salah. Pipinya saja sudah merah. Dia takut kalau Yui Wei akan salah paham dan marah pada dirinya.
"Ah, sudahlah" Yui Wei langsung masuk dan meninggalkan Hua Hua dengan cekikikan.
Hua Hua pun merasa semakin bersalah. Dia mengira kalau Yui Wei sedang marah kepadanya. Nyatanya, gadis itu di dalam kamar mandi tengah tertawa jahil sambil berendam.
"Hihihi, wajah Hua Hua sangat lucu" gumamnya Yui Wei.
***
Di sebuah sungai dekat air terjun, Xiao Lan mengakhiri ritual mandinya dan naik ke atas. Xiao Lan mengambil hanfu-nya dan mengenakannya.
Untunglah hanfu itu tidak terlalu ribet dan Xiao Lan tahu cara mengenakan hanfu. Jadi dia tidak terlalu kesulitan untuk memakainya.
"Hufft, sekarang aku harus segera kembali. Oh tidak, aku harus mencari hewan buruan untuk dimakan, perutku sangat lapar"
Xiao Lan menekuk lengan hanfunya sampai sebatas atas siku dan bersiap mencari hewan buruan. Dia mulai memasuki hutan lebih dalam.
"Kira-kira di mana para spirit beast itu? Apakah mereka sedang berkencan?" tanya Xiao Lan sambil berjalan perlahan dengan tatapan waspada.
Author seketika ngakak pas Xiao Lan bilang "Apakah mereka sedang berkencan?" ππ
Sudah beberapa menit Xiao Lan mencari, namun dia tidak menjumpai spirit beast di sana. Namun, dia masih tidak menyerah dan terus mencari.
"Ah!! Akhirnya aku menemukan seekor rusa. Maaf ya rusa, tapi aku harus memburumu untuk memakanmu" gumam Xiao Lan dengan tersenyum puas.
"Ah, oh iya, tapi bagaimana aku akan membunuhnya? Bahkan sekarang aku tidak membawa apapun, apalagi senjata" gumam Xiao Lan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencari sebuah ide.
Xiao Lan mencari ke sekitar dan menemukan batu runcing yang cukup bagi Xiao Lan untuk membunuh rusa itu.
Xiao Lan langsung menyambar batu runcing itu dan mengarahkannya ke kaki rusa itu supaya rusa itu tidak bisa berlari.
"Ah, baiklah, kena!!" teriak Xiao Lan dan memang batu itu pas mengenai kaki rusa itu dan membuat goresan yang dalam di kakinya itu.
Xiao Lan berlari menghampiri rusa itu dan berhenti tepat didepannya. Dia mengambil batu yang telah terkena darah si rusa terletak di sampingnya.
'Sial! Aku tidak tega untuk membunuh rusa ini!!' batin Xiao Lan dengan perasaan tidak tega.
Genggaman yang tadinya begitu erat seketika melonggar dan membuat batu runcing di genggaman Xiao Lan terjatuh ke tanah.
"Baiklah, rusa, kau sekarang boleh pergi. Maaf atas luka di kakimu itu" ucap Xiao Lan dan menunduk.
Hadeuh, kumat lagi nihπ€¦
Rusa itu terdiam dan terus menatap Xiao Lan dengan bingung. "Cepat pergilah sebelum aku berubah pikiran" ucap Xiao Lan dengan dingin.
Mendengar perkataan Xiao Lan, rusa itu langsung berusaha bangkit dan lari walaupun kakinya terasa sangat sakit dan jalannya menjadi tertatih-tatih.
"Manusia, berani-beraninya kau masuk ke dalam wilayahku?! Aku akan menghabisimu sekarang juga!!" ucap seekor spirit beast harimau.
"Oh, kebetulan aku sedang mencari buruan. Jadi, kau saja yang menjadi makanan-ku ya?" ucap Xiao Lan yang langsung menyambar batu runcing yang terjatuh tadi dan tersenyum penuh arti.
Keduanya pun tanpa menunggu lama langsung saja menyerang satu sama lain. Harimau itu berusaha untuk mencabik-cabik Xiao Lan, namun Xiao Lan terus bisa menghindari serangannya.
Saat ada kesempatan, Xiao Lan langsung membuat sebuah luka kecil dan besar di tubuh harimau itu. Tubuh harimau itu pun penuh dengan luka yang diciptakan oleh Xiao Lan.
Sebaliknya, tubuh Xiao Lan sama sekali tidak ada lecet. Tentu saja, dia kan Queen Mafia. Namun, untuk itu saja sudah membuat tubuhnya kelelahan.
'Tubuh ini begitu lemah, bahkan hanya bergerak sebentar sudah lelah begini. Aku harus cepat-cepat mengakhiri ini atau aku yang akan mati' batin Xiao Lan dengan nafas yang terengah-engah.
"Hahaha, manusia, apakah kau masih bisa sombong? Saat ini saja kau sudah kelelahan. Kalau begitu, aku akan menghabisimu sekarang" ucap harimau itu dengan nada angkuh.
"Baiklah, aku akan membungkam mulut busuk-mu itu!!" teriak Xiao Lan dengan penuh penekanan.
Xiao Lan menggenggam erat batu runcing yang telah terkena darah itu dan membidik ke sasaran selagi harimau itu sedikit lengah.
Jleb...
Batu runcing itu menancap di leher harimau itu dan membuatnya tumbang. Darah mengucur deras dari leher harimau itu.
"Hah hah sepertinya dia sudah hampir mati" ucap Xiao Lan dengan nafas yang memburu sambil mengelap keringatnya.
Xiao Lan menyeret harimau yang telah tak berdaya dan hampir mati itu dan berjalan menuju sungai yang tadi tempat untuk ia membersihkan diri.
"Uh, berat juga ya" keluh Xiao Lan yang menyeret tubuh harimau itu yang cukup berat.
Xiao Lan akhirnya telah sampai di sungai. Dia menyeret tubuh harimau itu ke samping semak-semak dengan kasar.
Xiao Lan melepas pakaiannya dan mulai membersihkan tubuhnya sebentar dan membersihkan noda di pakaiannya lalu mengenakannya.
Setelah itu, Xiao Lan mengambil tubuh Harimau itu dan mengeluarkan darahnya lalu membersihkannya. Setelah selesai, Xiao Lan memutuskan untuk kembali.
***
Di sebuah gubuk, tempat tinggal Xiao Lan, Xin'er tengah mondar-mandir sambil menggigit kuku jarinya untuk mengurangi rasa cemasnya.
"Apa kau sedang menunggu aku, Xin'er?"
...πΎπΎπΎ...