
Episode sebelumnya ....
Gadis itu akhirnya memakan mie itu dengan lahap sampai habis. Perutnya saat ini telah terisi. Gadis itu menatap Lu Xiao Lan yang juga telah selesai makan. Dia merasa heran karena sedari tadi Lu Xiao Lan tidak menurunkan kerudungnya.
Mungkinkah orang ini adalah seorang buronan? Namun, orang ini tetaplah penyelamat baginya. Apapun identitasnya, orang ini tetap majikannya.
“Siapa namamu?”
Gadis itu langsung mendongak. Orang ini menanyakan namanya? Ia kembali menunduk. “Luo Xi,”
Lu Xiao Lan mengangguk. Dia mengangkat dagu Luo Xi supaya gadis itu menatapnya. “Jangan menunduk seperti itu, menunduklah jika memang diperlukan saja. Jika kau menunduk, maka kau akan terlihat lemah,”
Luo Xi terkejut. Sebenarnya, apa maksud orang ini? Dia tidak mengerti.
Lu Xiao Lan berdiri dan menarik Luo Xi. “Ikutlah denganku,”
Luo Xi hanya ikut saja. Mereka menuju ke rentetan kereta kuda yang terparkir tak jauh dari kedai. Mirip seperti tukang ojek.
Lu Xiao Lan berhenti sejenak dan berkata tanpa menoleh, “Kita akan naik kereta kuda. Kau pasti lelah, apalagi tubuhmu luka-luka.”
Luo Xi sedikit terpana. Dia juga sedikit penasaran dengan sosok gadis di depannya. Dia terlihat berwibawa dan kharismatik. Bisa dibilang dia adalah fans dadakan.
***
Kini keduanya telah masuk ke dalam kediaman baru milik Lu Xiao Lan yang diberikan oleh Ketua Guild. Luo Xi memandang ke sekitar, terasa asing dengan tempat ini karena ia baru saja datang. Tentu saja itu juga berlaku untuk Lu Xiao Lan.
Xin'er menyambut kembalinya Lu Xiao Lan dari Sekte, lalu melirik gadis kecil yang tengah bersembunyi di balik punggung nonanya. Luo Xi menyembulkan kepalanya keluar untuk melihat Xin'er dengan tangannya mencengkram pakaian Lu Xiao Lan.
“Nona, akhirnya anda telah kembali. Dan ini .... ”
Lu Xiao Lan tersenyum, “Tadi ada pertunjukan yang menarik. Lalu, aku membeli bocah ini. Xin'er, tolong kau bantu dia untuk membersihkan diri.”
Pertunjukan?
Sepertinya ada hal yang terjadi saat Lu Xiao Lan keluar. Ia mengangguk dan menatap Luo Xi yang masih menatap Lu Xiao Lan. Matanya masih menatap lekat punggung Lu Xiao Lan yang semakin menjauh darinya. Tatapan nanar terlukis di wajahnya.
Lu Xiao Lan berhenti sejenak dan berkata tanpa menoleh. “Oh iya, namanya Luo Xi. Aku dan dia telah makan di kedai, tapi siapkan saja sesuatu untuk dimakan. Mungkin saja dia masih lapar,”
Setelah mengatakan hal itu, Lu Xiao Lan segera melanjutkan langkahnya. Xin'er menunduk.
“Baiklah,”
Xin'er kembali menatap Luo Xi yang masih terpaku di tempat sambil menunduk. Entah apa yang dipikirkan gadis kecil itu. Xin'er melangkah mendekat pada Luo Xi, namun gadis kecil itu langsung memundurkan langkahnya. Dia selalu melangkah mundur saat Xin'er mencoba untuk mendekat, hingga tanpa sadar tubuhnya telah menemui pintu.
Xin'er mengulurkan tangannya sambil tersenyum dan mengajaknya, mengisyaratkan untuk mengikutinya. Namun, tatapan dari matanya adalah perasaan was-was, tatapan yang takut orang akan mendekatinya.
Xin'er masih mengulurkan tangannya sembari menampilkan senyuman supaya Luo Xi tidak takut kepadanya, “Mari, aku akan membantumu. Luo Xi,”
Mata Luo Xi membulat. Entah kenapa dia merasakan aura yang kuat darinya. Tangannya juga telah terulur untuk menyentuhnya, membuatnya terlihat ketakutan. Saat tangan Xin'er hampir mendekat dan hendak meraih Luo Xi, gadis kecil itu malah menggigit tangannya.
“Auww,”
Xin'er mendesis, merasa sakit di bagian tangannya karena digigit. Namun, dia tidak perduli dan menatap Luo Xi dengan bingung. Gadis kecil itu sepertinya tampak terkejut dengan perbuatannya sendiri dan menunduk.
Lu Xiao Lan yang mendengar suara itu langsung pergi menghampiri keduanya. Telinganya cukup sensitif, jadi masih bisa samar-samar mendengar suara Xin'er. Dia mengernyit, menatap mereka yang hanya diam saja.
Xin'er tidak mendekat pada Luo Xi dan hanya diam, tidak ingin membuat gadis kecil itu takut padanya. Sedangkan Luo Xi hanya diam dan menunduk. Apa-apaan ini?
“Apa aku memang harus memandikan gadis kecil ini sendiri? Yang benar saja,”
“Luo Xi, kau harus menurut padanya. Jangan takut, dia baik kok.”
Luo Xi segera mendongak dan menatap Lu Xiao Lan yang acuh tak acuh, lalu menatap Xin'er yang tengah mengusap tangannya yang telah dia gigit.
“Baiklah,”
Luo Xi menuruti Lu Xiao Lan, ia pergi bersama Xin'er menuju pemandian. Gadis kecil itu hanya memandangi Xin'er yang tengah mengisi bak mandi dengan air, juga ditambah wewangian.
“Maaf,”
Luo Xi terdiam menunduk. “Tidak apa-apa, tidak perlu dipikirkan lagi. Aku mengerti, kau pasti tidak terbiasa saat mendapat perlakuan seperti ini. Kau terbiasa diperlakukan dengan .... ”
Xin'er terdiam, dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Luo Xi mendongak, ada sedikit jejak keterkejutan di wajahnya yang mungil. Wajahnya masih saja datar.
“Melihat gadis ini membuatku teringat dengan mendiang Ratu,”
Xin'er menatap nanar pada Luo Xi. Gadis kecil ini membuatnya teringat kembali akan pertemuan pertamanya dengan Ratu Xia. Rasanya tidak ingin mengingatnya kembali, namun juga tidak bisa melupakannya. Mendiang Ratu itu ....
Xin'er's Story
Di sebuah kediaman di hutan kematian, sebuah keluarga hidup dengan bahagia. Walaupun mereka tinggal di perbatasan sebuah hutan yang mengerikan, namun mereka tidak merasa takut dan hidup dengan damai. Itu kira-kira saat gadis itu berusia 5 tahun.
Seorang gadis kecil berlari menghampiri Ayahnya sambil membawa sebuah boneka yang terbuat dari jerami. “Ayah, lihat boneka jerami yang aku buat! Bagus, kan?”
Tak lama setelah menunjukkan hasil karyanya, tiba-tiba ikatan boneka jerami buatannya terlepas yang membuat jeraminya tercerai berai. Xin'er kecil yang melihatnya langsung menangis. Padahal ia telah berusaha keras untuk membuatnya untuk pamer di depan Ayahnya.
Xin'er merengek dengan air mata mengalir deras dan membasahi pipi gembulnya. “Huwaa, boneka jeramiku rusak!”
Pria di sampingnya tersenyum dan mengusap pucuk kepala Xin'er, “Baiklah, akan Ayah perbaiki.”
“Wah, sudah jadi. Bahkan lebih bagus dari punyaku,”
Xin'er mengambil boneka jerami dari tangan Ayahnya dengan wajah berbinar. Tidak ada lagi jejak kesedihan di wajahnya yang mungil, hanya ada sebuah senyuman manis yang terukir di wajahnya.
“Kalian sedang apa?”
Seorang wanita menghampiri mereka. Xin'er menoleh mendapati Ibunya yang menghampiri mereka. Ibunya tersenyum menatap anaknya dan mengelus pucuk kepalanya.
“Nak, bisakah kau bermain di tempat lain dulu? Ibu ingin bicara dengan Ayah sebentar,”
Xin'er terdiam dan menatap Ibunya, lalu menoleh untuk melihat Ayahnya. Sepertinya mereka akan membicarakan hal yang serius. Xin'er mengangguk dan segera berlari kecil ke tempat lain. Namun, sebenarnya ia hanya bersembunyi di balik pohon.
Ibunya masih menatap ke arah Xin'er pergi. Saat yakin bocah itu sudah pergi, wanita itu kemudian menatap suaminya dengan wajah lesu dan menghela nafas.
Pria itu menghampiri istrinya dan memegang bahu istrinya, “Ada apa?”
Wanita itu memegangi tangan suaminya dengan erat, seolah ini adalah terakhir kali mereka bertemu. Dia menatap nanar pada suaminya dan menunduk.
“Ada surat dari Kaisar. Sepertinya beliau ingin kau pergi ke perbatasan. Tapi .... ” ucapnya lirih.
Pria itu menghela nafasnya, surat Kaisar kini telah tiba. Entah apa yang akan Kaisar perintahkan, namun melihat ekspresi istrinya yang terlihat cemas, ia juga merasa demikian.
Pria itu menepuk pelan bahu istrinya, “Aku akan bicara pada Kaisar supaya menugaskan orang lain. Tapi, jika beliau tidak menyetujuinya—”
Wanita itu langsung menurunkan tangan suaminya dan menggenggamnya dengan erat. Pria itu merasakan sedikit dingin saat ada air yang menetes di tangannya. Istrinya menunduk sambil terisak. Dia menangis.
...🌾🌾🌾...