
Di sebuah gubuk, seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 11 tahun tengah menoleh ke arah pintu di mana seorang gadis membawa seekor hewan buruan. Anak itu kembali menatap langit-langit gubuk yang seperti bisa roboh kapan saja.
Lu Xiao Lan, gadis itu menyerahkan hewan hasil buruannya. "Xin'er, aku serahkan urusan memasak padamu."
"Baiklah,"
Xin'er mengambilnya untuk dibersihkan lalu dimasak atau mungkin dibakar. Sudah menjadi tugasnya untuk memasak sementara Lu Xiao Lan yang menangkapnya.
"Kau diamlah di situ, aku akan segera kembali setelah membersihkan diriku." ucap Lu Xiao Lan sambil membawa baju ganti dan berjalan menuju ke sungai.
Anak itu hanya terdiam, namun patuh. Dia hanya diam berbaring, lagi pula kalau bergerak akan membuat tubuhnya sakit. Jadi, diam adalah yang terbaik.
Kini Lu Xiao Lan tengah berendam di sebuah sungai. Dia memandang ke arah sekitar untuk berwaspada. Untunglah ini adalah sebuah hutan, jadi tidak ada banyak orang. Koreksi, hanya ada dirinya, anak itu, dan Xin'er.
Ngomong-ngomong soal anak itu, Lu Xiao Lan belum tahu siapa nama anak itu. Apakah setiap kali memanggilnya dengan panggilan 'Hei' ? Tentu saja tidak.
Setelah merasa tubuhnya cukup bersih, Lu Xiao Lan mengakhiri kegiatannya dan memakai pakaian bersih yang dia bawa tadi. Dia mengeringkan rambutnya supaya tidak mengembang saat kering dan memutuskan untuk kembali. Mungkin saja Xin'er telah selesai.
Setelah Lu Xiao Lan tiba, dia bisa mencium bau harum dari daging. Dia masuk ke dalam dan melihat kalau anak itu masih berbaring dengan patuh. Baguslah ...
Lu Xiao Lan menyiapkan piring untuk mereka bertiga dan duduk di lantai yang telah didasari tikar, jadi tidak akan kotor jika duduk di sana. Dia menatap anak itu yang juga menatapnya.
"Siapa namamu? Aku belum sempat menanyakannya tadi." tanya Lu Xiao Lan yang masih menatapnya.
"Namaku ... Yan Xiao Han." jawab anak itu dengan menatap ke bawah.
"Hahaha, dipikir-pikir namamu hampir sama sepertiku. Itu membuatku ingin tertawa. Maaf, maaf. Namaku adalah Lu Xiao Lan." ucap Lu Xiao Lan dengan tertawa, merasa sedikit lucu.
Pipi Yan Xiao Han sedikit memerah, sudut bibirnya terangkat. Tidak menyangka gadis yang selalu datar saat berbicara dengannya kini tertawa karena merasa lucu. Ini ...
"Nona, makanannya telah siap. Maaf harus membuat menunggu." ucap Xin'er yang keluar dari dapur sambil membawa daging yang telah dimasak.
Air liur Yan Xiao Han hampir menetes saat mencium bau harum yang menyeruak di hidungnya. Belum lagi tampilannya begitu menggoda, membuatnya ingin langsung memakannya.
Namun, bukankah sangat tidak sopan jika ikut makan, padahal dirinya hanya orang asing yang terluka dan kebetulan bertemu Lu Xiao Lan yang menolongnya, bahkan mengobati lukanya. Yan Xiao Han hanya menatap mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan? Tidak ikut makan dan hanya berdiam diri?" tanya Lu Xiao Lan yang tengah mengambil beberapa potong daging. Yan Xiao Han hanya terdiam.
"Lukamu mungkin masih belum sembuh, tapi setidaknya kau bisa bergerak ke sini untuk duduk, bukan?" ucap Lu Xiao Lan lagi yang kini menatapnya.
Sekali lagi Yan Xiao Han hanya terdiam. 'Memangnya boleh?' batin Yan Xiao Han dengan ragu.
"Tentu saja boleh," ucap Lu Xiao Lan yang membuat Yan Xiao Han terkejut. Seperti bisa menebak isi pikirannya! Dan nyatanya memang bisa ...
Jangan lupakan kemampuan Lu Xiao Lan~
Yan Xiao Han perlahan bangkit dan mendudukkan dirinya lalu perlahan berdiri dan menghampiri mereka berdua dan duduk bersama mereka.
"Ambil saja, tidak perlu ragu." ucap Lu Xiao Lan yang tahu kalau dirinya tengah ragu untuk makan.
Yan Xiao Han mengambil beberapa potong daging dan meletakkannya ke piring yang telah disediakan. Suasana di sana hening, karena di saat makan tidak boleh bicara. Itu akan terkesan kurang sopan.
***
Seorang gadis dengan surai merah muda tengah memejamkan matanya, namun dia tidak tidur. Saat mendengar sura pintu diketuk, gadis itu berkata dengan mata yang masih terpejam, "Masuklah."
Setelah mendapatkan izin dari dalam kamar, seorang gadis pelayan masuk ke dalam dan menutup pintunya kembali.
Hua Hua melirik ke arah ranjang di mana sang nona yang dia layani tengah mengistirahatkan tubuhnya setelah pergi ke pasar dengan Zhang Ji Xiao.
Hua Hua meletakkan sebuah keranjang yang ada di tangannya ke atas meja dan berniat untuk pergi.
Zhang Yui Wei membuka matanya, menampilkan mata magenta yang begitu unik. Dia melirik sebuah keranjang yang ada di atas meja. Zhang Yui Wei tidak dapat melihat isinya dengan posisinya yang saat ini tengah berbaring.
"Apa yang kau antarkan itu, Hua Hua?" tanya Zhang Yui Wei yang perlahan mendudukkan tubuhnya di ranjang dan menatap Hua Hua yang kini tengah berada dekat pintu.
"Oh, itu? Saya hanya mengantarkan buah dari Nyonya tua, nona." jawab Hua Hua sambil menoleh ke arah Zhang Yui Wei.
"Nyonya tua?" gumam Zhang Yui Wei yang mencoba mengingat sesuatu.
"Iya, Nyonya tua, Ibu dari Tuan Besar Zhang Xiuzhu." ucap Hua Hua saat melihat ekspresi Zhang Yui Wei.
Terlihat kalau dia tengah berpikir. "Oh,"
Hanya kata itu yang keluar dari bibir mungilnya. Dia berjalan menuju meja dan mengintip isi keranjang itu. Memang isinya hanyalah buah-buahan.
Dia mengorek isi keranjang dan menurunkan buah-buahnya ke atas meja satu persatu. Rasanya tidak mungkin kalau hanya buah yang diantarkan oleh Neneknya.
Dari memori yang ada, Neneknya sedikit jahil. Mungkin saja ada kejahilan Neneknya di keranjang itu. Dan, sepertinya sifatnya juga turun dari Neneknya🙄
Zhang Yui Wei menemukan sebuah kertas di dasar keranjang dan mengambilnya. Dia membuka kertas yang dilipat menjadi kecil itu dan membacanya.
Malam ini di paviliun Bugenvil~
Zhang Yui Wei hanya membaca sekilas dan melemparnya kembali ke keranjang itu. Dia menghela nafas kasar dan membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.
Dia menjadikan bantal untuk menjadi penyangga dagu dan tangannya. Zhang Yui Wei membenamkan wajahnya di bantalnya dan menatap ke kepala ranjang.
'Sebenarnya apa yang ingin dilakukan Nenek?' batinnya.
Hua Hua yang melihat tingkah nonanya juga menghela nafas. Sepertinya akan ada kejutan. Terbukti dengan sebuah kiriman buah dari Nyonya tua dan reaksi Zhang Yui Wei, itu sudah cukup.
"Nona, apa yang akan nona lakukan?" tanya Hua Hua dengan ragu.
"Nenek memintaku untuk menemuinya malam ini," gumam Zhang Yui Wei.
Hua Hua masih bisa mendengar gumaman itu dan tidak bisa mengatakan apapun. Dia pamit untuk mengundurkan diri dan menutup pintunya kembali. Kini hanya Zhang Yui Wei yang tersisa di sana.