Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 077. Guru, Apa Kau Mencariku?



Lu Xiao Lan mengambil selembar kertas di tangan Lan Dao Dao dan membacanya. “Kontes? Darimana kau mendapatkan kertas ini?”


“Tentu saja aku "meminjamnya" dari orang,” Lan Dao Dao berucap dengan bangga. Meminjam? Lu Xiao Lan tak yakin dengan itu, apakah yang dimaksud "meminjam" itu benar-benar meminjam?


Tunggu, sepertinya ia tahu. Tadi baru saja Ketua membicarakan hal ini, berarti itu artinya—“Kau mencurinya dari Ketua?”


Lan Dao Dao hanya tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya. “Hehe, bukankah aku sudah bilang, aku meminjam, bukan mencurinya. Aku juga sudah ijin pada Ketua. Lagi pula, dia kan masih punya banyak, bukankah terlalu pelit jika aku tidak boleh mengambil satu?” ia mengedikan bahu, menjawab dengan enteng.


^^^“Hei, sepertinya kau sedang sibuk,” Lan Dao Dao menatap Ketua yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Hal itu membuat wajahnya tertekuk, sedikit tidak senang.^^^


^^^“Tentu saja aku sibuk, kau pikir aku tidak punya pekerjaan?” Lan Dao Dao mencebikkan bibirnya. Lalu kenapa pria tua ini selalu punya waktu untuk jalan-jalan, apalagi mengganggu Lu Xiao Lan. Begitulah pikirnya.^^^


^^^“Pergilah bermain sana, aku tidak punya waktu untuk mengurusimu, bocah,” lagi-lagi Ketua mengusirnya. Lan Dao Dao mendecih pelan.^^^


^^^Namun, sebuah kertas menarik perhatiannya. Ia berjalan menghampiri meja dengan beberapa kertas diatasnya. Mungkin lebih baik jika disebut selebaran.^^^


^^^“Hei, apakah aku boleh minta satu kertas ini? Kau punya banyak, kan,” tawar gadis itu sambil menunjukkan sebuah kertas, walaupun Ketua tentunya tidak melihatnya.^^^


^^^Hanya sebuah kertas? Tentu ia punya banyak. “Ambil saja semaumu, asalakan cepat pergi dari sini. Aku terganggu,”^^^


^^^Ketua sungguh-sungguh mengusirnya, bahkan dia sangat blak-blakan mengatai kalau ia mengganggu. Baiklah, ia juga tak mau lama-lama di sini!^^^


^^^“Hmph!”^^^


Memikirkan hal itu masih membuatnya kesal. Namun, ia mengesampingkan hal itu dulu. Yang lebih penting adalah, apa respon Lu Xiao Lan? Apakah dia mau? Tentu saja dia harus mau, ia merasa sangat bersemangat!


“Jadi, bagaimana? Guru mau, kan, mengikuti kontes ini? Tenang saja, aku pasti akan melindungimu di perjalanan nanti!”


Gadis itu benar-benar bersemangat. Lu Xiao Lan masih menatap kertas di tangannya, ia sedang berpikir. Sepertinya ini memang bagus, namun, itu artinya ia harus meningkatkan kultivasinya. Mana mungkin ia dengan sembrono mengikuti kontes dengan kekuatannya yang masih kecil ini? Berharap mati.


“Mungkin akan bagus,” gumam Lu Xiao Lan.


Yes!


“Guru, kau benar-benar akan ikut? Baiklah, kita putuskan akan mengikuti kontes ini!” Lan Dao Dao berseru pelan. Tak mungkin ia berteriak di sini seperti orang tak waras.


“Mmn,”


***


“Jadi, kau sudah memutuskan untuk ikut?” Ketua menatap tak percaya pada Lu Xiao Lan. Namun, ekspresinya tampak sulit. Dia menghela napas panjang.


“Ya, apakah ada yang salah?” Lu Xiao Lan bertanya dengan bingung.


Ketua menggeleng pelan. “Tidak, sebenarnya tidak ada yang salah. Hanya saja .... aku ingin memberi peringatan padamu. Jika di kontes nanti, jangan berhadapan dengan orang-orang yang memakai seragam sekte yang berwarna gelap,”


Hah? Apa maksudnya ini? Lu Xiao Lan tak mengerti dengan ucapan yang ambigu ini. Ia sama sekali tak mengerti apa maksud Ketua. Namun, ia tetap mengangguk pelan. Hal ini hanya bisa melihatnya saat kontes nanti.


“Ya, aku mendengarkan.”


Ketua mengangguk-angguk sambil mengelus janggutnya yang masih hitam. Dilihat bagaimanapun juga, Ketua terlihat awet muda, padahal usianya telah senja. Tunggu, ia selama ini tidak mengetahui dengan pasti berapa umur Ketua. Entahlah, tidak ada yang tahu akan umur pria tua itu.


“Ya, ingat baik-baik pesanku ini. Jika kau berhadapan dengan mereka, segera menjauh. Jikalau kau memang terpaksa berhadapan, langsung saja minta maaf dan pergi. Ingatlah,”


Lu Xiao Lan mengangguk.


.


.


.


“Apakah bocah itu akan ikut?”


Lu Xiao Lan mengangkat kelopak matanya dan menatap Ketua sejenak. “Ya, dia ikut,”


Ketua tampak tengah memikirkan sesuatu, “Apa kau yakin akan mengajaknya? Dia kan bukan siapa-siapa-mu. Jika dia muridmu, itu wajar. Namun, sampai saat ini kau belum memberikan kepastian padanya. Haish, aku merasa kasihan padanya,”


Lu Xiao Lan mengatupkan rahang. Ruangan pun kembali hening seperti tadi—tidak, bahkan sekarang lebih hening.


“Pikirkanlah baik-baik, nona,”


***


Lan Dao Dao mengangkat pandangannya. Ia melihat Lu Xiao Lan telah keluar dari ruangan Ketua dan menutup pintu. Ekspresinya juga datar. Yah, kalau itu, dia sudah terbiasa.


Lan Dao Dao beranjak berdiri dan menghampiri Lu Xiao Lan dengan berlari kecil, “Bagaimana bagaimana bagaimana? Apakah dia mengijinkan kita?”


Lu Xiao Lan terdiam sambil memandangi Lan Dao Dao masih dengan ekspresi datarnya.


“Guru? Jadi, bagaimana?” Lan Dao Dao bertanya lagi.


Lu Xiao Lan mengatupkan rahang, terdiam sejenak, lalu buka suara, “Ya, dia mengijinkan.”


Lan Dao Dao mengepalkan tangannya.


Yes!


“Tentu saja dia mengijinkan. Tidak mungkin dia tidak mengijinkan. Kecuali kalau dia memang orang yang pelit,”


Gadis itu benar-benar tidak ada takut-takutnya.


“Ya,”


Lu Xiao Lan berjalan meninggalkan Lan Dao Dao yang masih bersemangat. Lan Dao Dao tak merasa aneh dengan itu, ia telah terbiasa dengan sikap Lu Xiao Lan yang mengacuhkan dirinya.


“Sampai jumpa lagi, Guru,” Lan Dao Dao melambaikan tangannya, padahal ia tahu kalau Lu Xiao Lan tak melihat itu.


***


“Apa kau yakin akan mengajaknya? Dia kan bukan siapa-siapa-mu. Jika dia muridmu, itu wajar. Namun, sampai saat ini kau belum memberikan kepastian padanya. Haish, aku merasa kasihan padanya,”


Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Ia sedari tadi terus memikirkannya sambil sekali-sekali melirik Lan Dao Dao yang entah sedang apa.


Di sela-sela itu, ia berpikir, apakah gadis itu tak merasa sakit hati? Padahal aku selalu mengabaikannya. Dasar bodoh ....


“Ini sangat rumit ....” keluhnya.


Lu Xiao Lan kembali melirik Lan Dao Dao. Gadis itu tengah melambaikan tangannya .... sambil tersenyum lebar. Ia buru-buru memalingkan wajahnya. Rasanya seperti kepergok sedang memandangi crush ....


“Eh, kemana dia pergi?” Lu Xiao Lan terkejut saat melihat Lan Dao Dao tak lagi berada di tempat dia berada tadi. Ia memijat pelipisnya, sungguh, apa yang sedang dia lakukan? Ia jadi seperti orang linglung.


Lu Xiao Lan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menghembuskan nafas kasar. Ia kembali ke pekerjaannya, melihat stok tanaman di dalam.


“Guru, apa kau mencariku?” Lan Dao Dao tiba-tiba saja muncul di hadapannya, membuatnya kaget dan terjungkal.


...🌾🌾🌾...