Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 067. Aku akan Menunggumu



Episode sebelumnya .....


Yah, bagaimana bisa percaya pada orang asing yang tiba-tiba datang dan mengatakan kalau dirinya adalah seorang peracik? Semua orang juga bisa begitu, bahkan anak kecil juga.


Sekarang fokus semua orang teralihkan pada keduanya. Mereka berpikir mungkin ini akan seru untuk ditonton. Yah, memang selalu begitu bukan?


Lu Xiao Lan tersenyum dan duduk di samping tungku dan mengambil bahan yang ingin dia gunakan untuk membuat pil-nya.


“Perhatikan.”


Gadis itu memperhatikan Lu Xiao Lan dengan sangat teliti, bahkan gerakan-gerakan kecil yang dilakukan juga ia lihat dengan lekat-lekat. Ia mengernyit saat melihat tanaman herbal yang diambil oleh Lu Xiao Lan.


“Mengapa kau mengambil rumput harapan? Itu tidak ada di dalam resepnya sama sekali. Jangan-jangan, kau tidak tahu resepnya?”


Semua orang mulai membicarakan Lu Xiao Lan. Tentu saja banyak yang mengejeknya, padahal mereka sendiri juga tidak tahu apa-apa.


***


Apapun itu, Lu Xiao Lan acuh tak acuh dengan keadaan di sekitarnya yang mulai ramai dengan bisik-bisik orang yang meremehkan kemampuannya. Orang-orang model seperti itu memang tidak pernah tidak ada di sekitar. Walau menyebalkan, namun tak perlu untuk dipedulikan. Anggap saja mereka hanya lalat.


Ia hanya fokus untuk meracik pil yang telah ia ambil sari dari bahan-bahannya. Sementara gadis yang tengah berdiri di sampingnya sedikit tak menyangka. Ia mengernyit.


“Bahkan dengan keadaan begini dia masih tetap untuk fokus. Sebenarnya gadis ini benar-benar peracik atau bukan? Dan lagi, pakaiannya.... ”


Sudahlah, ini bukan saatnya untuk mengomentari pakaian yang dipakai oleh Lu Xiao Lan. Walaupun merasa aneh, namun ia tak akan menanyakannya.


Gadis itu memperhatikan dengan rinci setiap proses yang dilakukan oleh Lu Xiao Lan. Ia merasa bingung saat bahan yang digunakan berbeda dengan saat ia melakukan percobaan. Namun, ia kembali mengingat perkataan Lu Xiao Lan.


...“Jangan terlalu terpaku pada buku. Seorang peracik tentu harus pintar dalam mengombinasikan bahan-bahan yang akan diolahnya menjadi obat. Apa kau benar-benar ingin menjadi seorang peracik?”...


Namun, sebelum melihatnya sendiri, ia masih belum terlalu percaya. Apalagi buku panduan yang ia jadikan referensi adalah resep turun temurun di keluarganya. Bagaimana bisa mengubahnya tanpa tahu hasilnya?


Eh?


Gadis itu langsung memperhatikan Lu Xiao Lan yang mulai menyatukan esensi-esensi dari lima bahan yang diambilnya, membentuknya menjadi sebuah pil.


Samar-samar dari dalam tungku itu mengeluarkan sebuah cahaya. Terlalu samar untuk dilihat, namun gadis itu masih bisa melihatnya karena berada di jarak yang cukup dekat. Yang membuatnya terkejut adalah saat cahaya itu mulai membentuk bayangan sebuah corak. Ia menatap tak percaya pada lu Xiao Lan yang masih dalam tahap menyelesaikan pil. Ada keringat yang menetes dari dahinya.


“Ini.... apakah mungkin? Tapi, kenapa gadis ini tahu aku ingin membuat pil itu?”


Ini masih membuatnya merasa sedikit shock. Ternyata Lu Xiao Lan benar-benar seorang peracik. Jika tahu seperti ini, seharusnya tadi ia menyikapinya dengan lebih baik. Tapi setidaknya, ia bisa minta maaf dan memperbaiki sifat buruknya.


Lu Xiao Lan mengernyit, bulir-bulir keringat keluar dari dahinya. Kini wajahnya telah dipenuhi dengan keringat. Tentu saja, karena ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Dan lagi, tidak mudah untuk membuat pil.


Kini ia tinggal menyempurnakan bentuk pil-nya. Setelah beberapa saat, pil yang ia racik pun telah jadi. Ia mengeluarkan pil tersebut dari dalam tungku dan meletakkannya di kain putih yang tersedia di sana. Ia mengusap keringat yang membasahi wajahnya secara asal dan menghela nafas. Akhirnya, pil-nya telah jadi.


Gadis itu tentu tidak bisa menahan rasa terkejutnya. Ia menatap pil dengan corak yang samar-samar dengan teliti. Ini memang sepertinya benar. Ia langsung menyambar buku panduannya dan membuka halaman resep pembuatan pil-nya.


Matanya terbelalak kaget saat melihat gambar di buku itu, pil yang ditunjukkan oleh Lu Xiao Lan sama persis, bahkan mungkin lebih sempurna!


“I-ini.... bagaimana kau bisa tahu?” tanya gadis itu tak percaya.


Lu Xiao Lan tersenyum sambil menatap pil-nya samar. “Tentu dari baunya.”


Jadi, Lu Xiao Lan mengetahuinya dari baunya? Sungguh luar biasa! Terbesit sebuah keinginan di kepala gadis itu untuk berguru pada Lu Xiao Lan. Tentu ia tak akan rugi, malah akan untung.


“Woah, anda sangat hebat! Mulai sekarang aku akan memanggilmu Guru! Guru, bolehkah kau mengajariku? Ku mohon~” ucap Gadis itu dengan mata anak anj*ng. Sungguh berbeda dengan sikap angkuhnya yang tadi.


Lu Xiao Lan memundurkan sedikit tubuhnya saat gadis itu mendekat ke arahnya. Hei, ini jelas bukan scene romantis seperti yang ada di novel-novel!


“Jangan dekat-dekat!” ucap Lu Xiao Lan sambil sedikit mendorong dahi gadis itu agar menjauh darinya. Itu membuatnya sedikit merinding. Ingatlah, genre-nya tidak akan berubah menjadi Yuri!


“Lagi pula, aku tidak akan mengajarimu apapun, apalagi menerimamu sebagai muridku. Aku tidak akan membuka lowongan penerimaan murid!” tegas Lu Xiao Lan sambil membersihkan tangannya dengan sapu tangan.


Mendengar hal itu membuat gadis itu menjadi lemas. Matanya kini tak lagi menunjukkan semangat. Bahkan telinga imajinernya menjadi turun, membuatnya seperti anak anj*ng yang kesepian.


Gadis itu tiba-tiba langsung berdiri dan menatap Lu Xiao Lan sambil menunjuknya dengan jari telunjuk dan ibu jari. Matanya memancarkan keseriusan.


“Aku—Lan Dao Dao, tidak akan menyerah hanya karena Guru menolakku satu kali! Dua kali? Tiga kali? Sepuluh kali? Berapapun Guru menolakku, aku tidak akan pernah menyerah! Aku pasti akan membuatmu mengakui diriku sebagai murid!”


Setelah mengatakan itu, Lan Dao Dao langsung berlari keluar dari balai pengobatan. Sementara Lu Xiao Lan, dia terkejut mendengar hal itu. Fyuuh, gadis labil itu sangat keras kepala. Mungkin beberapa hari ke depan, ia akan direpotkan oleh Lan Dao Dao.


...“Aku tidak akan pernah menyerah, Guru! Tunggu saja!” ...


Namun, hal itu membuatnya tersenyum. Semangat gadis itu patut untuk diapresiasi, tidak bisa diremehkan.


“Mari lihat apa yang akan kau lakukan untuk mendapat pengakuan diriku.” gumamnya tersenyum.


“Aku akan menunggumu, Lan Dao Dao.”


Lu Xiao Lan menghela nafas dan hendak mengambil pil yang telah ia racik begitu lama. Namun, ia tak melihatnya. Padahal ia yakin tadi diletakkan di sampingnya, kenapa sekarang malah tidak ada? Tunggu, apakah .....


🙂💢


Lu Xiao Lan mendengus dan bergumam. “Menunggumu? Heh, aku akan menunggumu untuk mengganti semua pil yang telah aku buat, Lan Dao Dao!”


...🌾🌾🌾...