
Di mansion yang begitu mewah, di kamar seorang gadis yang telah bangun, padahal matahari belum terbit. Gadis itu membuka matanya dan memamerkan mata hitam pekatnya yang indah.
"Fiuh, selamat datang hari Minggu!" seru gadis itu sambil meregangkan tubuhnya yang kaku setelah tertidur selama beberapa jam.
Ya, gadis itu adalah Lin Yuan. Ini author ganti dari Arina jadi Lin Yuan ya. Lin Yuan turun dari ranjangnya dan merapikan tempat tidurnya. Lalu, ia berjalan ke arah kamar mandi.
Ia melepaskan pakaiannya dan menyisakan tubuhnya yang polos dan berendam di bak yang cukup besar. Lin Yuan menikmati dinginnya air.
Setelah selesai membersihkan diri, Lin Yuan memakai handuk yang terlampir. Ia keluar dari kamar mandi dan menuju lemari pakaiannya. Di sana terdapat banyak baju mewah milik Lin Yuan yang tergantung rapi.
Ia memilih-milih baju apa yang akan dia kenakan hari ini. Setelah menemukan pakaian yang dia inginkan, ia pun meletakkan bajunya di ranjang dan mulai memakai pakaiannya.
Kira-kira kayak gitu bajunya Lin Yuan ....
Lin Yuan melihat ke arah cermin dan melihat pantulan dirinya di cermin itu. Ia tersenyum saat melihat dirinya, namun dia juga merasa sedih.
'Kenapa aku jadi teringat Ibu dan Ayah, ya?' batin Lin Yuan yang merasa hatinya begitu sedih saat memikirkan dua orang yang paling berjasa baginya.
Lin Yuan menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk menghilangkan pikirannya yang membuat dirinya sedih. Ia memejamkan matanya sebentar dan menghela nafas lalu turun ke bawah.
Tentunya rumah sepi karena hanya Lin Yuan dan ART yang tengah bersih-bersih yang bangun di pagi hari seperti ini.
DRRRT .... DRRRT ....
Suara Handphone yang berdering terdengar di telinga Lin Yuan. Ia langsung mengambil Handphone-nya dan melihat ada pesan masuk.
'Queen, maaf aku mengganggu waktumu, ada orang yang ingin menemui anda'
Begitulah isi pesan di Handphone-nya. Lin Yuan langsung bergegas menuruni tangga dan menuju ke garasi, tempat di mana mobil mewahnya terparkir.
Sedangkan ART yang tengah bersih-bersih melihat Lin Yuan yang terburu-buru hanya bengong sambil terus menanyakan pertanyaan di pikirannya.
Lin Yuan langsung mengambil kunci mobilnya dan membuka pintu garasi. Ia menaiki mobilnya dan langsung tancap gas. Satpam yang mendengar suara mobil langsung bergegas untuk membukakan pintu gerbang.
Lin Yuan langsung melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia bergegas menuju markasnya. Selama ini, ia merahasiakannya dari semua orang kalau dirinya adalah seorang Queen Mafia.
Setelah melaju selama kurang lebih 50 menit, ia akhirnya sampai di markasnya yang cukup besar dan mewah dengan kesan elegan namun dapat membuat orang merinding.
"Selamat datang Queen," ucap para bawahan Lin Yuan dengan kompak sambil membungkuk dan mempersilahkannya masuk.
"Hm ...." jawab Lin Yuan singkat, memerintahkan para bawahannya secara tidak langsung untuk berdiri.
Lin Yuan bukanlah orang yang gila hormat, karena dia sendiri tidak membutuhkan hal itu. Ia berjalan dengan langkah kaki yang cukup cepat menuju ke ruangannya.
Lin Yuan langsung saja masuk karena pintu telah terbuka dan melihat seorang pria yang tengah duduk. Pria itu tengah menyesap teh yang disediakan untuknya. Sepertinya dia telah cukup lama menunggu.
"Ada urusan apakah anda menemui saya?" tanya Lin Yuan membahana.
Gadis yang tengah berjaga di depan pintu itu sedikit merasa tertekan. Ia langsung menegapkan posisi berdirinya dengan membusungkan dada dan pandangan lurus.
"Queen ...." gadis itu memanggilnya pelan. Lin Yuan mengangkat tangannya dan melewati gadis itu.
Lin Yuan duduk di kursi yang berhadapan dengan Pria itu. Pria itu hanya terdiam sambil menatap nya dengan senyum menawan yang kosong. Lin Yuan tampak tak suka melihatnya.
"Apa urusan anda mencari saya?" tanya Lin Yuan sekali lagi, dan Pria itu hanya terdiam. Ia sudah menahan diri.
Lin Yuan menatap Gadis yang tengah berdiri di sampingnya dan melambaikan tangannya, kode untuk menyuruh para bawahannya keluar. Gadis itu mengangguk dan keluar dari ruangan, diikuti rekan-rekannya yang juga berjaga di depan pintu.
"Baiklah, sekarang sudah tidak ada orang. Anda bisa memberitahu saya, ada apa mencari saya?" Lin Yuan menatap Pria di hadapannya itu dengan intens.
"Memang sudah tidak ada orang, tapi masih ada yang menguping ...." ucapan Pria itu terhenti.
Pria itu mengambil belati yang entah dari mana datangnya dan melemparnya ke arah Lin Yuan. Lin Yuan terkejut dan langsung menunduk untuk menghindari belati itu dari terkena tubuhnya.
"Apa yang–?!"
Bruk...
Ucapan Lin Yuan terhenti saat terdengar suara benda jatuh di belakangnya. Lin Yuan langsung menoleh ke belakang, namun tak tahu apa yang telah terjadi. Ia hanya melihat asap dan belati yang menancap di lantai.
“Nona, apa kau mengingatku?” Pria itu membuat rasa terkejut Lin Yuan hilang, tergantikan rasa penasaran.
Pria itu terkekeh, “Yah, tentu saja kau tidak ingat. Tapi .... Kita akan bertemu lagi. Pasti,” Dia kembali memunculkan senyuman menawan.
Lin Yuan menatap kosong ke arah bawah. Dia tampak tak mendengarkan. Saat Lin Yuan ingin menanyakan apa maksud dari Pria itu mengatakan hal seperti itu, ia tak menemukan siapapun. Tidak ada yang duduk di sofa itu.
Lin Yuan yang mengalihkan pandangannya ke depan terkejut. Ia menoleh ke kanan kiri dan tidak menemukan siapapun di sana, hanya ada ia sendiri.
***
Lin Yuan mengisi gelasnya dengan air putih dan langsung meneguknya. Ia masih terpikirkan kejadian tadi saat tiba-tiba Pria itu menghilang seperti ditelan Bumi.
Apalagi perkataannya yang menurut Lin Yuan ambigu itu juga menghantui pikirannya.
"Apa yang tengah kau pikirkan?" ucap seorang gadis yang membuyarkan lamunan Lin Yuan.
Lin Yuan langsung menoleh ke arah belakang dan mendapati seorang gadis yang sepertinya baru saja mandi, kentara karena terdapat bulir air yang menetes di ujung rambutnya.
"Tidak ada, Lin Shu." jawab Lin Yuan dengan senyuman tipis. (nama Aliana author ganti jadi Lin Shu).
"Oh, Lin Yuan, aku ingin mengajakmu minum teh di gazebo." ucap Lin Shu yang menghentikan langkah Lin Yuan yang ingin naik tangga menuju kamarnya.
"Oh?" Lin Yuan menatap Lin Shu dengan bertanya-tanya, pasalnya Lin Shu tidak terlalu dekat dengannya, apalagi untuk mengajaknya minum teh.
"Tidak ada yang aneh, kan? Aku hanya ingin mengobrol santai denganmu, untuk mempererat hubungan kita. Bukankah sebagai saudara kembar, harusnya kita dekat?" Lin Shu melirik ke arah lain, dia terlihat sedikit gugup.
"Baiklah, nanti aku akan ke sana." ucap Lin Yuan sambil tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kamarnya.
Lin Shu membalasnya dengan senyuman hangat dan berkata, "Baiklah, aku akan menunggu kedatangan-mu nanti, saudariku." ucapnya dengan wajah muram.
Saat Lin Yuan telah menjauh, perlahan senyuman di wajah Lin Shu memudar dan tergantikan dengan ekspresi masam. Dia melenggang pergi menuju kamarnya.
...🌾🌾🌾...