Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 048. Pertarungan Seorang Gadis Kecil



Untuk sebelumnya, Leo mau ucapin thanks banget buat like dari kalian!! Gak nyangka juga sih bisa sampai dapet 100 like! Sekali lagi, Leo ucapin thanks banget buat dukungan kalian🤧


Plak!!


Iya iya deh, author lebay. Kalo gitu, lanjut Ch. 048. Pertarungan Seorang Gadis Kecil


Happy Reading!!


Episode sebelumnya ....


Hua Hua menghela nafas, “Nona, lebih baik anda jangan melakukannya lagi. Yang ada nanti saya yang kena.”. Hua Hua melanjutkan, “Oh iya, Nona. Saya dengar dari beberapa pelayan yang bergosip kalau beberapa hari lagi ada festival yang diadakan kekaisaran. Anda pasti ingin pergi, kan?”


Zhang Yui Wei menatap Hua Hua dengan pandangan tak percaya. ‘Tampangnya saja yang begini. Ternyata dia juga suka ghibah. Memang, perempuan .... ’


Seolah tahu apa yang dipikirkan Zhang Yui Wei, Hua Hua langsung menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangan. “Tidak, tidak seperti itu. Saya bukan penggosip. Kan hanya dengar,”


Zhang Yui Wei masih menatapnya. Sepertinya gadis ini masih menganggapnya penggosip. Oh, ayolah. Dia bukan penggosip.


*Jangan-jangan kalian juga menganggapnya tukang ghibah?*


Sudahlah, ini memang nasibnya🙃


“Ya ya, baiklah. Aku percaya itu,”


Walaupun yang dikatakan gadis itu seperti itu, namun masih ada tatapan tak percaya darinya. Sudahlah, tidak percaya ya tidak percaya saja.


***


Seorang gadis tengah menoleh ke belakang, mata hitamnya tengah menatap pintu yang tertutup. Itu adalah kamar orang yang baru saja ia sembuhkan. Surai coklatnya menutupi setengah wajahnya yang tengah menoleh.


“Dia akan berguna nantinya. Jangan sampai dia melakukan hal yang bodoh lagi,” gumam gadis itu.


Gadis itu—Lu Xiao Lan, segera pergi meninggalkan wanita itu dengan ekspresi datar. Sebenarnya tadi ia menghirup sedikit aroma racun di kamar wanita itu. Kenapa ada aroma racun? Apakah ada yang ingin membunuhnya dan meletakkan benda yang mengandung racun namun sulit terdeteksi?


Namun, Lu Xiao Lan tidak berpikir demikian. Aroma racun itu memang tercium di seluruh bagian kamar wanita itu, namun sebenarnya racun itu berasal dari kalung yang dipakai wanita itu. Racun itu menguar dari batu yang dijadikang sebagai hiasan kalung. Wanita itu tidak mungkin tidak sadar, apalagi dengan kultivasinya yang cukup tinggi.


Itulah yang membuat Lu Xiao Lan merasa curiga kalau wanita itu sendiri yang menggunakan racun. Tapi ia tidak tahu apa alasannya. Yang jelas, dia tidak bisa membiarkan wanita itu mati karena racun yang dia gunakan sendiri.


Wanita itu adalah sumber informasinya, dari dia ia mungkin bisa mengetahui rahasia dibalik kematian Ibunya yang terasa janggal. Tidak mungkin Lu Xia Lin mati begitu saja tanpa ada penyebabnya.


Mungkin saja .... racun?


Namun Lu Xiao Lan tidak dapat memastikan itu. Kejadian itu sudah sangat lama, 18 tahun telah berlalu. Tentu saja itu cukup lama. Sangat tidak mungkin untuk mengetahui penyebabnya. Jikapun tahu, juga tidak bisa menangkap si pelaku. Pasti pelakunya telah kabur, atau bersembunyi, atau telah mengganti identitasnya.


Kecuali kalau pelakuknya menyerahkan dirinya sendiri ....


Lu Xiao Lan menghampiri murid-murid wanita itu yang kini tengah menunggu dirinya. “Aku sudah menyembuhkan Guru kalian. Jadi, bisakah aku minta telurnya sekarang?”


Sesuai perjanjian, mereka harus menyerahkan telur ular yang mereka ambil dari hutan kematian. Kini telur itu telah berada di tangan Lu Xiao Lan. Gadis itu sudah tidak ada urusan di sini dan segera pergi dari sana. Tapi, tunggu dulu.


Lu Xiao berbalik dengan ekspresi yang serius. “Ada hal yang ingin kukatakan. Jika ingin wanita itu tetap hidup, maka jauhkan kalung itu darinya. Itu sangat berbahaya untuknya,”


“Apa kau bilang? Berbahaya? Tapi kami tidak bisa mengambil kalung itu dari Guru. Kalung itu sangat berarti baginya, kenapa kami harus mengambilnya?”


“ .... ”


Lu Xiao Lan terdiam untuk sementara, lalu kembali berucap. “Terserah saja. Jika kalian ingin dia mati, ya sudah.”


Lu Xiao Lan segera pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Hal itu membuat mereka kesal. Apa-apaan dia? Pergi tanpa menjelaskan apa-apa. Bagaimana mereka bisa mengambil keputusan.


Tapi, itulah Lu Xiao Lan. Dia ingin mereka mengambil keputusan yang tepat. Mendengarkannya supaya Guru mereka tidak mati, atau mengabaikannya dan merelakan Guru mereka untuk pergi. Seharusnya mereka bisa mengambil keputusan itu.


“Senior, apa yang harus kita lakukan?”


Gadis yang dipanggil itu menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. “Sepertinya kita akan mengikuti saran dari gadis itu. Kita tidak mungkin membiarkan Guru mati hanya karena sebuah kalung. Kita percaya saja padanya,”


***


Lu Xiao Lan kini telah pergi meninggalkan gerbang. Dia memakai sebuah jubah dengan kerudung yang tersambung pada jubah itu dan menutupi setengah wajahnya.


Karena telah cukup lama terasingkan, mungkin orang-orang telah melupakannya. Namun, tidak menutup kemungkinan jika ada orang yang mengetahui siapa dirinya.


Lu Xiao Lan melangkahkan kakinya menuju kediaman barunya. Memang cukup jauh, namun ia tidak ingin menggunakan kereta kuda untuk pergi ke kediamannya. Bukankah itu terlalu boros? Mungkin saja dia yang terlalu pelit.


Di perjalanan, terdapat banyak kerumunan massa yang tengah menonton sesuatu. Lu Xiao Lan merasa penasaran dan masuk ke kerumunan itu. Bahkan ia rela berdesakan dengan orang-orang untuk melihat apa yang sedang terjadi hingga menarik perhatian banyak orang.


Ternyata mereka sedang menonton pertarungan. Lu Xiao Lan mengernyit. Seorang gadis kecil yang kira-kira berusia 13 tahun tengah melawan beberapa orang dewasa. Gadis kecil itu hanya diberikan pedang kayu yang kini telah tergores-gores oleh pedang.


Sepertinya pertarungan telah terjadi beberapa lama. Namun, orang dewasa yang dilawannya menggunakan pedang sungguhan. Bukankah ini sangat tidak adil? Ini namanya ingin membunuh gadis kecil itu. Pantas saja orang-orang banyak berkumpul untuk menonton. Pantaskah hal ini menjadi sebuah tontonan?


Sebuah senyuman terukir di wajah Lu Xiao Lan yang tertutupi setengahnya. Walaupun hanya menggunakan pedang kayu, gadis kecil ini mampu bertahan. Sorot matanya yang tajam memperlihatkan kepercayaan diri dan juga keberanian.


Pertarungan terus berlangsung. Gadis kecil itu nampak kewalahan, namun masih mampu bertahan hanya dengan pedang kayu yang hampir patah.


*Kretak*


...🌾🌾🌾...