
"Memangnya apa yang harus kuceritakan kepadamu?" tanya Zhang Jiu Zhi mengerutkan keningnya. Menurutnya, tidak ada hal yang bisa dia ceritakan, kehidupan sehari-hari nya juga begitu membosankan, tidak ada yang spesial sama sekali.
Zhang Yui Wei yang mendengarnya langsung berubah cemberut. Sungguh membuatnya kesal saja. Dia sempat berpikir, kenapa kakaknya ini kaku sekali sih? Entahlah, dia juga tidak tahu.
***
Angin sepoi-sepoi khas sore hari bertiup dengan santainya dan membuat surai merah muda milik seorang gadis kecil sedikit berterbangan. Matanya yang berwarna magenta terlihat tidak bersemangat, tidak seperti biasanya.
Zhang Yui Wei kini tengah duduk dan melihat ke sekitar, bosan. Itulah yang kini tengah dirasakannya. Dia tidak tahu apa yang ingin dia lakukan saat ini. Yang jelas, dia merasa sangat bosan.
Kakaknya tiba-tiba saja pergi, sangat tidak menyenangkan. Tiba-tiba saja Hua Hua datang dengan membawa kue kering dan juga teko berisi teh dan cawan kecil. Zhang Yui Wei pun menoleh.
"Oh, Hua Hua, akhirnya kau datang juga. Kau baik-baik saja? Tadi kau langsung lari begitu saja meninggalkan aku. Menyebalkan sekali," ucap Zhang Yui Wei dengan wajah cemberut.
Hua Hua yang mengingat kejadian tadi wajahnya langsung memerah. Sungguh, dia ingin sekali melupakan kejadian tadi dan menganggap hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Namun, Zhang Yui Wei malah membuatnya teringat hal itu kembali.
"N-nona, aku membawa ini untukmu karena kau pasti bosan. Aku akan menuangkan teh nya untukmu." ucap Hua Hua dengan gugup, mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Hua Hua, kau kenapa? Apa kau merasa malu? Tidak apa-apa Hua Hua. Lagipula aku tidak akan menghalangi jika kalian punya hubungan. Untuk apa merasa malu?" ucap Zhang Yui Wei menggoda Hua Hua.
Alih-alih mengalihkan topik, malahan yang dibahas adalah yang sangat tidak diinginkan oleh Hua Hua. Sungguh, saat ini dia ingin menggali lubang dan kemudian bersembunyi di sana karena malu.
"Hahaha, sudahlah, aku kan hanya bercanda." ucap Zhang Yui Wei dengan mulut penuh dengan kue kering, membuatnya terlihat begitu menggemaskan.
Wajah Hua Hua samar-samar memerah saat Zhang Yui Wei mengatakan hal itu. Sungguh menggemaskan, pikirnya. Saat ini dia ingin sekali mencubit pipi Zhang Yui Wei, tapi itu tidak sopan, lancang.
"Nona, saya dengar 3 minggu lagi akan ada festival di danau Youxi. Pasti ada cukup banyak gadis bangsawan yang seumuran dengan nona akan datang ke festival tersebut. Apakah nona tertarik ingin pergi ke sana?" ucap Hua Hua memecahkan keheningan yang ada di sana.
"Gadis bangsawan? Aku tidak terlalu tertarik untuk berbaur dengan mereka. Mereka itu kurasa menyebalkan. Tapi, festival ya? Kurasa aku ingin ke sana," gumam Zhang Yui Wei sedikit malas.
Setelah itu, tidak ada yang mereka berdua bicarakan. Suasana di sana begitu canggung. Zhang Yui Wei tidak tahu harus mengatakan apa untuk mencairkan suasana. Dia sungguh bingung saat ini.
***
Di sebuah ruangan yang luas, di mana terdapat perlengkapan untuk olahraga, sepertinya itu adalah ruangan yang digunakan khusus untuk berlatih. Terlihat seorang gadis cantik dengan kulit putihnya yang mulus dan wajahnya dipenuhi dengan keringat.
Dia adalah Lu Xiao Lan yang kini tidak hanya roh, tapi juga dengan raga. Sejak Lu Xiao Lan memasuki ruang dimensi, dirinya hanya jiwanya yang asli saja. Namun, saat hendak berlatih, tiba-tiba saja dia memiliki raga.
Lu Xiao Lan sempat terkejut saat mendapati dirinya memiliki raga, namun dia tidak mengenali raga siapa itu. Dan lagi, rasanya dia pernah melihatnya di suatu tempat, tapi dimana? Entahlah, dia tidak ingat.
Lu Xiao Lan kemudian memilih untuk berlatih bersama dengan boneka kayu tanpa jiwa. Ini sangat berguna untuk dirinya melatih fisik. Dan tentunya Xiao Gui memantau Lu Xiao Lan untuk berjaga-jaga jikalau nanti terjadi sesuatu kepada gadis itu.
"Hah ... Hah ... Ternyata memang boneka kayu tanpa jiwa. Bahkan, setelah aku hancurkan berkali-kali, tetap saja masih bisa membentuk kembali dan menyerang," gumam Lu Xiao Lan sambil menyeka keringat dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Xiao Gui menjentikkan jarinya dan boneka kayu tanpa jiwa seketika bergerak ke tempat penyimpanan bersama boneka yang lainnya, seolah dengan sengaja dikendalikan oleh orang lain.
Lu Xiao Lan menatap Xiao Gui yang masih dengan permen lollipop-nya. Dia bertanya, "Mengapa kau menghentikan boneka itu? Aku sedang berlatih!" ucapnya dengan nada sedikit tinggi di akhir ucapannya.
"Tidak bisa. Tuan, aku tahu kau ingin berlatih. Tapi, jika memaksakan dirimu terlalu jauh, itu malah akan berdampak buruk bagi tubuhmu. Aku sarankan agar kau istirahat dulu," ucap Xiao Gui dengan nada memerintah.
Dia sendiri tidak mengerti mengapa Lu Xiao Lan sangat terobsesi untuk berlatih, bahkan sampai tidak mempedulikan tubuhnya sendiri. Apakah gadis ini sudah gila? Berlatih ya berlatih, tapi itu juga ada batasnya.
"Aku sendiri juga tidak tahu, ada apa denganku? Kenapa setelah aku menempati raga ini, aku memiliki perasaan yang aneh? Itu tidak bisa dijelaskan ..." gumam Lu Xiao Lan yang tersadar. Pedang kayu yang digenggamnya seketika terjatuh karena tangannya melonggar.
Xiao Gui seketika terdiam saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Lu Xiao Lan. Dia sedikit mengerti tentang perasaan aneh yang saat ini dirasakan oleh Lu Xiao lan, rasanya saat kehilangan sesuatu yang sangat kau sayangi dan seperti sulit untuk bertemu.
"Sudahlah, tuan, kau harus beristirahat. Aku ingin mengingatkan sesuatu. Jika tuan ingin berkultivasi menggunakan tubuh lemah tuan putri itu, sebaiknya jangan memaksakan diri dan jangan berkultivasi dengan begitu tinggi. Setidaknya, hanya boleh sampai tahap pemurnian qi tingkat 3. Atau akibatnya tidak bisa ditanggung."
"Hah? Memangnya apa 'akibat yang tidak bisa ditanggung' itu?" tanya Lu Xiao Lan penasaran karena dia sendiri tidak mengerti, apa maksudnya itu?
Xiao Gui langsung memalingkan wajahnya supaya tidak melihat mata Lu Xiao Lan. Jujur saja, sangat berat untuk mengatakan hal itu. Dia takut jika Lu Xiao Lan akan mengingat hal di waktu yang tidak tepat.
Ekspresi Xiao Gui terlihat kesulitan, dan Lu Xiao Lan juga dapat melihatnya. Dia tahu ada hal yang boleh dia ketahui dan ada juga hal yang lebih baik tidak diketahui, setidaknya sampai waktu yang tepat.
"Baiklah, aku akan pergi dulu, sampai jumpa," ucap Lu Xiao Lan yang langsung menghilang dari sana, lebih tepatnya keluar dari ruang dimensi.
Xiao Gui menatap kepergian Lu Xiao Lan dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan, "Tuan, setidaknya kau tidak boleh mengingat gadis itu. Memikirkan dia hanya akan membuatmu tersiksa."