
Travel in a Different World Ch 41
Episode sebelumnya ....
Bayangan itu hanya sekilas saja. Namun, Xiao Gui yakin, ia tak salah lihat! Dia menggunakan efek khusus untuk melihat sesuatu di dalam kegelapan. Tidak ada apapun. Tapi .... Ia melihat ada sepasang kaki di sana.
Itu artinya ....
Sekelompok orang dengan baju hitam dan wajah yang ditutupi oleh kain hitam tiba-tiba muncul di saat bersamaan. Ini .... Jumlah mereka cukup banyak. Dan lagi, sepertinya mereka mengincar gubuk Lu Xiao Lan.
Beruntung Lu Xiao Lan ada di sini. Tapi, bagaimana dengan Yan Xiao Han dan juga Xin'er? Mereka ada di dalam gubuk. Ini bahaya ....
Namun, Xiao Gui tidak bisa mengganggu Lu Xiao Lan yang masih berkultivasi. Ia harus menahan para pembunuh bayaran itu sampai Lu Xiao Lan berhasil menerobos. Tapi, dengan apa?
Xiao Gui mendapat sebuah ide. Ia bergegas menuju ke ruang latihan. Ia akan menggunakan patung-patung—yang biasa digunakan Lu Xiao Lan untuk berlatih—untuk menahan para pembunuh bayaran itu. Biarkan mereka kelelahan.
***
Xiao Gui mengirimkan patung-patung itu ke dunia luar dan menyuruh mereka untuk menghalau para pembunuh bayaran. Setidaknya sampai Lu Xiao Lan menerobos.
***
Sedangkan di gubuk Lu Xiao Lan, Yan Xiao Han saat ini tengah terlelap. Begitu pula dengan Xin'er. Namun, saat merasakan ada hawa pembunuh, tidak, beberapa hawa pembunuh, Xin'er langsung membuka matanya.
Ia mengendap-endap untuk membangunkan Yan Xiao Han. Saat ini mereka sedang dalam bahaya. Ia harus segera keluar dari sini bersama Yan Xiao Han. Tidak mungkin bocah itu ia tinggal sendirian.
“Hei, bangun.”
Xin'er mencoba membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipi bocah itu dan berkata lirih. Jangan sampai para pembunuh bayaran itu tahu kalau ia telah bangun.
Yan Xiao Han membuka matanya dan melirik siapa yang membangunkannya. Padahal ini tengah malam, ia masih mengantuk. Sambil mengucek matanya yang berair, ia bertanya. “Ada apa?”
Xin'er berbisik, “Sssttt .... Jangan berisik. Kita harus segera pergi dari sini.”
Yan Xiao Han bingung, kenapa harus pergi? Lagi pula di luar itu gelap. Ini masih tengah malam tahu. Tidak bisakah menunggu besok?
Namun, melihat ekspresi Xin'er yang khawatir, membuatnya mengurungkan niatnya untuk mengeluh. Yan Xiao Han perlahan turun dari ranjang kayu dengan dibantu oleh Xin'er.
“Ayo, kita pergi,”
Yan Xiao Han mengangguk dan berjalan perlahan. Lukanya sudah membaik, namun masih butuh pemulihan. Untuk berjalan ia bisa. Namun, jika untuk berlari .... ia ragu.
Mereka berjalan menuju pintu belakang gubuk. Namun, Xin'er langsung berhenti dan menarik tangan Yan Xiao Han supaya bocah itu juga berhenti.
Sepertinya mereka telah terkepung. Mereka tidak bisa keluar dari sisi manapun, semuanya telah dijaga oleh pembunuh bayaran! Oh tidak, apa yang harus dilakukannya?
Xin'er menarik tangan Yan Xiao Han dan mereka pergi menuju dapur. Yan Xiao Han lagi-lagi bingung. Kenapa ke dapur? Sebenarnya mereka sedang apa, sih?
Xin'er mengangkat jerami yang berada di sudut dapur. Yan Xiao Han mengernyit. Apa yang dilakukan Xin'er? Namun, ia membuka mulutnya, terkejut melihat ada lubang di bawah jerami itu. Ternyata, ada lorong rahasia?
Xin'er masuk ke lubang itu dan diikuti oleh Yan Xiao Han. Xin'er segera mencari lentera dan menyalakannya supaya ruangan itu tidak terlalu gelap, lalu meletakkannya di atas tanah.
Xin'er melangkah menuju tangga dan menoleh pada Yan Xiao Han. “Kau tunggu di sini. Jangan keluar sampai aku datang.”
Yan Xiao Han hanya terdiam di tempat. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Kenapa harus sembunyi?
Yan Xiao Han menatap Xin'er yang hendak keluar dari ruang bawah tanah. Matanya menyipit, ia melihat kilauan di tangan Xin'er. Apa itu? Saat melihatnya dengan lebih jelas, akhirnya ia tahu kalau itu adalah sebuah pisau.
Yan Xiao Han mengernyit. Untuk apa pisau itu? Tiba-tiba langkah Xin'er terhenti. Samar-samar ia mendengar suara teriakan. Yan Xiao Han juga mendengarnya. Suara teriakan itu terdengar dari luar.
Yan Xiao Han memberanikan dirinya untuk bertanya. “Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?”
Xin'er mengisyaratkan untuk tidak berisik. “Sstt, jangan berisik. Di luar sana ada pembunuh bayaran yang sedang mengepung kita.”
Yan Xiao Han terkejut. Pembunuh bayaran? Untuk apa mereka mengincar mereka? Tidak, pasti saat ini mereka mengincar Lu Xiao Lan. Dan mereka juga pasti membunuh keduanya karena mereka adalah saksi.
Untunglah Lu Xiao Lan tidak ada di sini. Tapi, tunggu, bagaimana dengan nasib kami? Yan Xiao Han juga tidak ingin mati. Dan lagi, ia juga khawatir jika Lu Xiao Lan bertemu dengan mereka. Apa yang dilakukan sekarang?
“Mereka ini sebenarnya apa?! Kenapa keras sekali?!”
“Kenapa mereka terus kembali sepeeti semula?! Padahal kita sudah menghancurkannya! Monster, mereka monster!”
“Aakkhh!!! S*alan. Jumlah mereka banyak sekali!”
Yan Xiao Han merasa sedikit lega. Ia menghela nafas, syukurlah. Ada yang menyelamatkan mereka. Tapi, siapa? Yan Xiao Han penasaran dan ingin mengintip. Namun, Xin'er mencegat tangannya, menghentikannya dari melakukan hal bodoh.
Ia sendiri juga merasa penasaran, sebenarnya siapa yang sedang dihadapi oleh para pembunuh bayaran? Apakah itu kawan, atau lawan?
Yang jelas, ia harus tetap berwaspada. Xin'er memegang erat gagang pisau di genggamannya. Bersiap jikalau ada pembunuh bayara yang berhasil menyusup ke dalam.
‘Nona .... Semoga dia baik-baik saja.’
Sementara di luar, para pembunuh bayaran tengah bersusah payah melawan patung batu yang tiba-tiba saja menyerang mereka. Jumlah mereka tidak ada habisnya. Mereka terus menyatu walaupun sudah dihancurkan.
Para pembunuh bayaran merasa lelah menghadapi patung batu yang terus muncul. Energi mereka sedikit terkuras karena melawan patung batu itu. Mereka juga merasa jengkel, kapan ini akan selesai?
“Baguslah, setidaknya mereka bisa menghalangi para pembunuh bayaran untuk sementara waktu. Sampai tuan berhasil menerobos ke tingkat selanjutnya,”
Xiao Gui saat ini tengah duduk di batang pohon yang ada di dekat gubuk sambil memakan permen lolipop yang ada di tangannya. Dia terlihat menikmati pertarungan yang ada di depan matanya. Di sampingnya juga ada Ling Luo yang juga tengah melihat pertarungan yang tidak ada habisnya itu.
Xiao Gui mengajak bicara pada Ling Luo. “Makhluk aneh, kira-kira kapan tuan akan selesai? Dia kan melewati pertarungan yang menarik ini. Oh, tidak. Jika saja dia ada di sini, mungkin saja dia kan kehilangan kendali seperti tadi.”
...🌾🌾🌾...