Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 076. Kontes Mencari Tanaman Terbaik



“Hei, gadis, kudengar kau mencariku? Apa kau ada urusan denganku?” Yang Jia Jun kini tengah berdiri di depannya dengan wajah berseri-seri. Mungkinkah ini asal-usul kue seri muka?


Zhang Yui Wei mendengus, “Kalau iya, memangnya apa yang akan kau lakukan, pria?”


Gadis ini mencarinya? Ada urusan apa? Yang Jia Jun memijit pelipisnya. “Apa yang akan aku lakukan? Seharusnya aku yang bertanya, ada apa kau mencariku. Bukan kau yang malah bertanya padaku.”


Yang Jia Jun memandangi Zhang Yui Wei dari atas sampai bawah, lalu menghela nafas. Ekspresi di wajahnya sulit untuk diartikan.


Zhang Yui wei merasa sedikit risih, sedari tadi Yang Jia Jun terus saja memandanginya. Memangnya ada yang akan nyaman jika ditatap seperti kau adalah orang yang punya hutang menumpuk.


Ia berseru ketus. “Hei, berhenti menatapku begitu! Memangnya ada yang salah dengan wajahku?”


Yang Jia Jun segera tersadar, ia sedari tadi menatap gadis itu lamat-lamat. Tentu saja dia akan merasa tidak nyaman. Sekali lagi, Yang Jia Jun menghela nafasnya.


“Iya iya, baiklah, aku minta maaf. Tapi, aku benar-benar serius bertanya. Kenapa mencariku? Jika bukan sesuatu hal yang penting, maka lain kali saja. Aku cukup sibuk, kau tahu.”


Pria konyol ini mengaku sibuk, membuat Zhang Yui Wei ingin tertawa. “Jadi, kau mengaku sibuk untuk menghindar bertemu denganku?” Namun, dilihat dari sisi manapun, Yang Jia Jun memang tampak lelah.


Lihatlah, walaupun samar, namun ada kantong hitam di bawah matanya—yang biasanya tidak ada. Rambutnya juga ditata ala kadarnya dan sedikit acak-acakan. Caranya berdiri juga tidak terlalu tegak. Apakah pria ini habis begadang?


“Ya ya, aku tahu, kau memang terlihat sedang sibuk. Memangnya kau habis begadang? Saranku, lebih baik kau istirahat sekarang, tugas bisa nanti-nanti. Nikmatilah waktu yang ada sebelum kau benar-benar kehilangannya.” entah mengapa ia merasa malu setelah mengatakannya. Ia merasa sedikit puitis dan juga lebay.


Hening.


Yang Jia Jun termangu di tempatnya, membuat Zhang Yui Wei berkeringat dingin. Ia memaksakan sebuah senyuman untuk terbit di wajahnya, menutupi rasa canggung yang segera mengisi atmosfer di sana.


“Hei, setidaknya, katakan sesuatu!” begitulah umpatan Zhang Yui Wei dalam hatinya.


Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Yang Jia Jun mengucapkan beberapa patah kata. “Ya, kau benar. Tapi, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu.”


Dasar keras kepala. Zhang Yui Wei membuntuti Yang Jia Jun hingga ke ruang belajarnya. Pria itu juga tidak keberatan jika ia mengikutinya.


Zhang Yui Wei melihat-lihat isi ruang belajar milik Yang Jia Jun. Tidak ada yang spesial, tampak seperti ruang belajar pada umumnya. Namun, ia tidak bisa jika hanya berdiam di sini sambil memandangi Yang Jia Jun. “Apa aku bisa membantu sesuatu?”


Yang Jia Jun mengangkat kelopak matanya, melirik gadis itu sebentar, lalu kembali menulis. Di mejanya juga ada banyak kertas menumpuk yang telah ditulisi oleh tinta. “Kau bisa tolong merapikan kertas-kertas ini. Kuharap kau bisa, karena aku merasa sedikit terganggu dalam menulis.”


Hanya merapikan kertas? Zhang Yui Wei tersenyum penuh percaya diri dan mengambil kertas-kertas itu dan menumpuknya menjadi satu. Ia hanya melihat sekilas tulisan di kertas lalu menumpuknya dengan kertas yang lainnya. Ia tak berniat untuk membaca tulisannya, karena itu bukan haknya.


Yang Jia Jun menghentikan tangannya sejenak dalam menulis, melirik Zhang Yui Wei untuk melihat apakah ada kesulitan. Namun, gadis itu terlalu fokus pada pekerjaan kecilnya itu, dan sejauh ini tidak ada masalah. Yah, hanya menata kertas, memangnya seberapa sulitnya itu?


Yang Jia Jun kembali melanjutkan menulis.


Begitu juga dengan Zhang Yui Wei. Ia masih fokus menata kertas, namun sekali-kali mencuri pandang pada Yang Jia Jun. Dia termangu sejenak. Suasana di ruang belajar juga mendadak begitu hening. Yah, memang sedari tadi hening, namun, keheningan ini berbeda.


***


“Nona, kau ingin berpartisipasi?”


Lu Xiao Lan mengalihkan pandangannya pada Ketua. “Berpartisipasi? Dalam ....?”


“Ini diadakan setahun sekali. Kontes untuk menemukan tanaman herbal yang berharga,” Ketua terlihat bersemangat untuk menjelaskannya. Namun, dalam sekejap, ekspresinya tergantikan dengan ekspresi suram. “Namun, aku tidak merekomendasikan ini untukmu. Malahan, menurutku sebaiknya kau tidak ikut.”


Bibir Lu Xiao Lan berkedut. Ketua bilang tidak merekomendasikannya. Namun, untuk apa mengatakan ini kepadanya? Tujuannya jelas mudah untuk ditebak.


“Baiklah, kalau begitu, aku tidak perlu untuk berpartisipasi dalam kontes itu. Kau tidak merekomendasikan itu, Ketua.” jawab Lu Xiao Lan enteng.


Ketua menghela nafas kasar. Lidahnya terasa kelu untuk mengatakannya. “Kontes ini adalah untuk mencari tumbuhan terbaik yang tumbuh di sebuah pulau terpencil. Setiap tahun lokasi yang ditentukan akan berbeda. Namun, ini sangat berbahaya, makanya aku tidak bisa merekomendasikannya padamu, Nona. Tapi ....”


“Baiklah, aku akan ikut.” Ketua seketika mengangkat pandangannya. “Hei, bukankah sudah kubilang, kontesnya berbahaya. Apa kau tahu maksudnya pulau terpencil? Itu jelas pulau yang belum memiliki informasi yang selengkapnya. Kita tidak tahu apa yang akan ada di sana ....”


Lu Xiao Lan mendengus. “Lalu, apa tujuan Ketua mengatakan ini padaku jika selain untuk aku ikut?”


Pertanyaan itu menjadi serangan yang telak. Ketua bungkam, diam seribu bahasa. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


“Nona, selama ini kau mengetahui kalau Guild ini adalah tiang kokoh di Kekaisaran Lu ini, bahkan keluarga kerajaan tak ingin berurusan dengan Guild ini.”


Lu Xiao Lan hanya diam, menunggu Ketua untuk melanjutkan kata-katanya.


“namun, itu tidak seperti kelihatannya. Guild ini bahkan bisa kokoh seperti ini karena sesuatu yang tak pernah orang-orang ketahui. Aku sudah muak, namun tak bisa berbuat apa-apa. Ini membuatku kesal pada diri sendiri.” Ketua tersenyum getir.


Lu Xiao Lan tak tahu ke mana arah pembicaraan ini. Perkataan Ketua membuatnya bingung. Ia hanya bisa bungkam, membiarkan suasana hening hinggap sejenak di sana.


“Baiklah, nanti aku akan memberikan informasi detailnya. Aku tidak akan mengganggu lagi.” Ketua beranjak pergi dari sana.


Lu Xiao Lan mengatupkan rahangnya, menatap Ketua yang perlahan berjalan menjauh. Hari ini Guild terasa sedikit sepi, namun—


“Guru!” Lan Dao Dao tiba-tiba muncul di sampingnya sambil berseru memanggilnya. Terkadang Lu Xiao Lan merasa kesal, namun hanya diam saja.


Ia mengacuhkan Lan Dao Dao yang tengah memberikan senyuman lebar.


“Guru, coba tebak, apa yang kubawa,” Lu Xiao Lan tidak menghiraukannya, namun itu tak membuat Lan Dao Dao kecewa. “aku membawa sesuatu yang menarik. Lihatlah, kontes mencari tanaman berharga di pulau terpencil!” Lan Dao Dao berseru.


Tunggu, dia bilang apa? Kontes mencari tanaman terbaik di pulau terpencil?!


...🌾🌾🌾...