Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 079. Aku Ingin Tidur



Lu Xiao Lan masih berdiri di tempatnya, diam seribu bahasa, tak percaya dengan yang dilihat oleh matanya. Mulutnya terkatup rapat sambil terus memandangi lahan berwarna merah yang terhampar di depannya.


“Ini ....” Lu Xiao Lan menelan ludahnya. Semuanya berubah drastis, ruang dimensinya kini terasa berbeda. Rasanya seperti mahasiswa baru yang tersesat hingga ke asrama Pria.


“Tidak perlu terkejut seperti itu, tuan. Yang kau lihat tidak salah.” ucap Xiao Gui dengan lollipop di tangannya.


Lihatlah apa yang terjadi dengan ruang dimensinya. Kini tanah yang dipijaknya telah tumbuh rumput berwarna merah. Padahal ia yakin jika rumput yang ditaburkan oleh Xiao Gui adalah berwarna hijau, seperti rumput pada umumnya.


“Rumput ini sebenarnya berwarna merah, hanya saja ....” Xiao Gui mengatupkan rahang. Ia mengamati rumput yang mengeluarkan cahaya lembut berwarna merah. Tak lama setelah itu, cahayanya redup dan hamparan rumput itu berubah menjadi hijau.


“Eh, apa yang terjadi? Tadi rumputnya berwarna merah, sekarang malah jadi hijau.” gumam Lu Xiao Lan yang merasa bingung. Ia menatap hamparan rumput di depannya, lalu menatap Xiao Gui, dan kembali menatap rumput, dan begitu seterusnya.


“Hah~, apa yang kuharapkan? Rumput ini tumbuh liar di sebuah bukit dengan banyak tanaman herbal yang—kuakui agak berguna. Tentu saja tidak akan bertahan lama.”


Menanggapi Lu Xiao Lan yang masih tak mengerti, ia melanjutkan, “Rumput ini adalah rumput yang bisa mengeluarkan cahaya. Namun, ini tak bertahan lama. Sekalipun di ruang dimensi, juga hanya bisa menambah sedikit durasi".


Lu Xiao Lan hanya mengangguk pelan, setengah mengerti setengah tidak. Yah, karena tidak ada urusan lagi, sepertinya tidak perlu berlama-lama lagi di sini.


“Oh ya, soal rencana untuk ikut kontes, apa sudah memikirkannya baik-baik?” tanya Xiao Gui.


Lu Xiao Lan menghentikan langkahnya dan terdiam sejenak. Ia tak menjawab untuk beberapa saat.


Ia berbalik badan dan tersenyum, “Tentu saja, aku sudah menetapkan pilihanku. Jadi, jangan khawatir”.


“Bukan kau, maksudku adalah si **** ****** imut itu yang terus mengikutimu seperti buntut.” ucap Xiao Gui dengan tatapan tak peduli. Ucapannya jelas mengarah pada seseorang.


“Maksudmu adalah Lan Dao Dao?” tanya gadis itu dan hanya dibalas oleh Xiao Gui dengan mengedikan bahu.


“Yah, Lan Dol Dol atau siapa lah dia.”


“Karena dia ingin ikut, biarkan saja. Lagi pula dia mungkin akan cukup membantu di sana.”


Lu Xiao Lan tak menunggu respon darinya dan memejamkan matanya untuk keluar dari sana. Xiao Gui hanya menatap kepergiannya sambil mencengkram stik lollipopnya dengan kuat.


“Entahlah, aku tidak merasa begitu.” gumamnya.


Entah gadis itu mendengarnya atau tidak.


***


Seorang gadis dengan rambut merah muda tengah duduk di bangku halaman dengan bunga warna-warni yang menjadi background. Gadis itu tersenyum tulus menatap berbagai macam bunga yang menyuguhkan pemandangan indah baginya.


Surai merah muda miliknya tergerai setengah dan lembut tertiup angin. Ia menyelipkan anak rambutnya yang bergerak-gerak di wajahnya di belakang telinganya.


Tangannya mengetuk-ngetuk bangku tempatnya duduk sambil memandang orang-orang yang berlalu lalang. Entah sekedar singgah atau mungkin menikmati waktu bersama pasangan masing-masing.


Di tengah orang-orang yang numpang lalu, seorang gadis berlari kecil sambil sedikit menjinjing pakaiannya. Napasnya terlihat memburu, wajahnya juga dipenuhi oleh keringat.


“Nona, maaf membuatmu menunggu. Hosh.” ucap Hua Hua sambil menyentuh dadanya yang berdegup kencang dan mengambil oksigen sebanyak yang ia bisa.


“Tidak masalah. Ayo kita pulang, setelah itu menemui Xuan Yi.” ucap Zhang Yui Wei yang beranjak dari tempat duduknya.


“Iya!”


***


“Huff, hari ini sangat melelahkan.” gumam Zhang Yui Wei sambil menyeka peluh yang mengalir di pelipisnya.


“Dan hari ini juga panas.” tambah Hua Hua.


“Karena rebahan itu lebih penting!” ucap Zhang Yui Wei dengan keras mengepalkan tangannya ke udara.


—_—"


Suara gadis itu membuat salah satu prajurit milik kediaman Zhang—yang kebetulan sedang lewat—hampir terjatuh oleh kakinya sendiri. Dia mengelus dada dan menghela napas. Ini sudah biasa, bukan hanya satu dua kali terjadi.


Sesampainya di kamar, Zhang Yui Wei langsung merebahkan dirinya.


“Nona, apa anda ingin langsung tidur? Anda harus ganti dulu, ayo cepat.” ujar Hua Hua sambil menarik kaki gadis itu supaya turun dari kasur.


Zhang Yui Wei langsung saja berpegangan pada pinggiran kasurnya, “Tidak mau!”


Hua Hua menghela napas. Memang, benar-benar, Nona Muda Ketiga Zhang itu beda dari yang lain!


“Biarkan aku tidur,” gumam Zhang Yui Wei. Matanya telah tertutup rapat, dan ia terus mengatakan hal itu. Sepertinya gadis itu sedang mengigau.


Hua Hua menggelengkan kepalanya. Kebiasaan tidur nonanya sangat buruk. Yah, namun ia tak masalah dengan itu. Dia berlutut di samping kasur dan tersenyum sambil memandangi wajah gadis itu.


“Benar-benar ....” gumamnya.


***


Meninggalkan suasana damai di kamar Zhang Yui Wei, ruang kerja milik Bendahara Kerajaan—Zhang Xiuzhu—terasa suram. Pria dengan rambut yang telah memiliki uban itu tengah memijit pelipisnya dengan dahi yang berkerut.


Zhang Xiuzhu menghela napas panjang. Kepalanya begitu pening saat ini. Ditambah selirnya datang menemuinya.


“Selir memberi salam pada Tuan.” ucap Selir itu sembari tersenyum. Ia kemudian mendekati kursi Zhang Xiuzhu.


“Sepertinya kau sedang banyak pikiran? Bagaimana jika aku memijat anda?” selir itu menyentuh bahu Zhang Xiuzhu sembari terus mempertahankan senyumnya.


Zhang Xiuzhu segera menepis tangannya. Ia menoleh dan menatap jijik pada wanita itu. “Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu di sini.”


Selir itu terkejut dengan perlakuan kasar dari Zhang Xiuzhu. Walaupun ini seringkali terjadi padanya, namun ia masih tetap merasa sakit hati.


“Kenapa?” tanyanya dengan menggigit bibir.


“KELUAR.” ucap Zhang Xiuzhu dengan sedikit keras. Dia tidak ingin wanita ini berlama-lama di sini.


Selir itu mundur beberapa langkah. Kemudian, dia langsung berlari kecil keluar dari sana dengan bersungut-sungut.


“Menyebalkan, sangat menyebalkan!”


Lan Xi Diu hanya memandang kepergian wanita itu. Dia mengepalkan tangannya, tatapannya terlihat tajam. Ia telah berdiri di depan pintu saat wanita itu sedang berada di dalam.


“Masuklah, Xi Diu.” ucap Zhang Xiuzhu.


Lan Xi Diu melangkah masuk ke dalam. Dia memberi hormat pada suaminya itu, lalu berjalan mendekat ke arahnya. Tangannya yang ramping menyentuh bahu Zhang Xiuzhu. Tak seperti tadi, Pria itu menerimanya.


“Apa yang membuatmu begitu marah?” suara dalam yang lembut dari istrinya telah meredakan sedikit amarahnya.


“Belakangan ini pekerjaanku menumpuk. Kaisar itu memang sengaja membuatku begini. Ditambah lagi tadi wanita itu dengan lancang masuk ke ruang kerjaku!”


Lan Xiu Diu tersenyum lembut, memeluk bahu suaminya, “Tenanglah. Aku yakin pasti akan ada jalan keluar,”


...🌾🌾🌾...