
“Intinya, anda tahu atau tidak di mana rumah Lan Dao Dao?” tanya Lu Xiao Lan sedikit tidak sabaran. Ia tidak ingin berbasa-basi. Dan soal mengangkat murid .... akan ia pikirkan nanti saja.
“Haish, itu sangat disayangkan, nona. Aku juga tidak tahu di mana rumah bocah itu. Entahlah, dia sering muncul di sini secara tiba-tiba—dan mencoba membuat pil warisan turun-temurun milik keluarganya, kadangkala berteriak frustasi saat percobaannya gagal—lalu menghilang entah kemana.”
Ketua juga tidak tahu dimana rumahnya. Lalu, bagaimana caranya ia menghampiri gadis itu? Mungkin ia akan menunggu saja besok. Siapa yang tahu jika gadis itu akan datang ke sini lalu mengganggunya.
***
TUK
TAK
TUK
TAK
Terdengar suara kereta kuda yang bergerak menuju Guild. Di dalam, Lu Xiao Lan membuka tirai dan melihat ke sekitar. Hari masih pagi. Biasanya ia akan berangkat sedikit siang—dan Ketua tidak masalah dengan itu. Namun, hari ini ia berangkat pagi-pagi. Bahkan Guild baru saja buka.
Xin'er yang telah bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan—juga kebingungan melihat Lu Xiao Lan yang telah siap dengan setelan pria. Dia tidak terlalu kaget melihat Lu Xiao Lan yang tampak aneh itu karena telah terbiasa. Lagi pula, menurutnya, selera orang itu berbeda-beda. Tidak masalah baginya jika nonanya suka mengenakan setelan pria.
“Nona, anda ingin berangkat sekarang?” tanya Xin'er tanpa menatapnya. Ia tengah mencuci sayuran.
“Iya, hari ini aku berangkat lebih awal. Maaf, tapi aku tidak bisa menunggu untuk sarapan. Aku akan sarapan di sana saja. Oh, dan jika dua bocah itu mencariku, maka bilang saja kalau aku suddah berangkat.”
“Sampai nanti!”
Lu Xiao Lan masih mengingat percakapan tadi. Perutnya tak terlalu lapar, tapi ia mungkin akan tetap sarapan di Guild. Saat ini ia naik di kereta kuda milik 'Paman pelit'. Sekarang ia telah menjadi langganan setiap akan pergi ke Guild. Paman pemilik kereta juga memberi diskon karena telah menjadi pelanggan tetap—walaupun hanya secuil. Yah, sepertinya dia kurang rela dalam memberikan diskonnya.
“Kita sudah sampai, nak.” ucap Paman kusir memberhentikan keretanya. Ia memberhentikan keretanya di pinggir jalan.
Lu Xiao Lan turun dengan hati-hati dan memberikan koin emas sebagai bayarannya. “Terima kasih, paman.” ucap Lu Xiao Lan sambil tersenyum.
Wajah Paman itu masih sama seperti saat ia pertama menggunakan keretanya—datar. Setelah menerima bayarannya, Paman itu segera pergi dari sana. Belakangan Lu Xiao Lan tahu jika nama Paman itu adalah Long Yan.
Lu Xiao Lan menghela nafas. Dasar, Paman pelit. Dia bahkan tidak mengatakan apapun dan terus pergi dengan wajah datarnya.
***
Di depan Guild, Lan Dao Dao tengah duduk di tangga sambil memangku dagunya. Ia kemudian melirik pada gadis yang menggunakan setelan pria—baru saja turun dari kereta. Lu Xiao Lan terlihat tengah menggerutu. Ia hanya tersenyum tipis melihatnya. Saat ini, ia tak berencana untuk menghampiri orang yang ia panggil 'Guru' itu dan merusuh. Ia benar-benar tidak akan melakukannya hari ini.
Lan Dao Dao berencana akan diam saja sambil melihat Lu Xiao Lan. Tentang keinginannya untuk menjadi muridnya .... Entahlah, ia juga tidak punya rencana untuk membujuknya. Mungkin berhenti berharap sekarang lebih baik.
Tunggu, semudah itukah untuk menyerah? Apakah karena insiden tungku yang meledak itu makanya ia jadi menyerah sekarang? Bisakah kalian memberinya semangat? Dia membutuhkannya saat ini.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Lan Dao Dao langsung menurunkan tangannya dan mengangkat pandangannya untuk melihat sosok yang berdiri di depannya itu. Gadis dengan setelan pria.
“Guru—maksudku itu ....” lagi-lagi ia memanggil gadis itu Guru. Ia menebak pasti Lu Xiao Lan risih mendengar panggilan itu. Sudah jelas dia tidak akan mengangkatnya menjadi murid. Namun, selakn panggilan Guru, ia tak tahu bagaimana akan memanggilnya.
“Apa kemarin kau sakit?” Lan Dao Dao tertegun mendengar pertanyaan itulah yang terlontar dari mulut Lu Xiao Lan. Ia juga jadi sedikit bingung, merasa seperti diperhatikan.
Lan Dao Dao menggeleng pelan. “Syukurlah.” ucap Lu Xiao Lan masih dengan wajah datarnya.
Eh? Jadi, saat ia tak datang ke Guild, Lu Xiao Lan berpikir kalau dirinya sedang sakit, makanya tidak bisa datang? Dia bahkan mengkhawatirkan dirinya. Rasanya Lan Dao Dao ingin menangis karena terharu. Namun, sepertinya itu juga tidak bagus karena Lu Xiao Lan mungkin akan merasa tambah risih.
“Kau tak seperti biasanya?” ujar Lu Xiao Lan heran. “Untuk soal tungku yang kemarin, kau tidak perlu memikirkannya. Lagi pula, aku juga tidak mempermasalahkan hal itu. Dan juga, kau tidak perlu menggantinya. Pil buatanmu itu ....”
Entah bermaksud untuk mengejek atau tidak. Mungkin Lu Xiao Lan tak menyadarinya.
“Tetap saja, aku merasa bersalah. Gu—anu, nona Lan'er. Sekali lagi, maaf soal yang itu. Aku .... mulai sekarang tidak akan mengganggumu lagi. Aku tahu kau risih, maka dari itu .... aku minta maaf.”
Lu Xiao Lan hanya tersenyum hambar. Bocah itu tak lagi memanggilnya Guru? Entahlah, serasa ada yang kosong di hatinya, namun ia juga tidak tahu apa yang membuatnya kosong.
Ia berjalan mendahului Lan Dao Dao dan menaiki anak tangga yang hamya ada beberapa itu. Langkahnya terhenti sejenak. Lu Xiao Lan memandang ke arah langit-langit sambil tersenyum.
“Tanpa ada kau, Guild ini terasa sedikit sepi bagiku.” gumamnya.
Lu Xiao Lan kembali melangkah masuk ke dalam Guild.
Apa yang barusan dia katakan? Lan Dao Dao dapat mendengarnya. Ia benar-benar mendengarnya. Dia bilang, Guild ini sepi tanpanya? Perkataan ini cukup menyentuh.
Lan Dao Dao segera beranjak menaiki tangga dan menyusul Lu Xiao Lan—yang telah berada cukup jauh di depannya—dengan berlari kecil.
“Apa yang baru saja kau katakan, Nona Lan'er?” tanyanya yang ingin mendengar kalimat itu terucap lagi. Namun, Lu Xiao Lan hanya menatap datar ke arah depan—tak menghiraukan gadis kecil yang kembali merusuh di sekitarnya. Ia merasa ingin menarik kembali kata-katanya.
Sepertinya Lan Dao Dao melupakan tekadnya untuk berhenti berharap menjadi murid Lu Xiao Lan. Kini ia kembali seperti biasanya—merusuh di sekitar orang yang kini dipanggilnya Nona Lan'er itu. Haih, sepertinya hal yang tadi hanya omong kosong belaka.
“Memangnya aku berkata apa?” tanya Lu Xiao Lan yang terdengar acuh. Meskipun begitu, Lan Dao Dao di sampingnya hanya cengar-cengir tidak jelas.
“Ayolah, bisakah nona mengatakannya sekali lagi?”
“Tidak.” Lu Xiao Lan menolak dengan tegas.
...🌾🌾🌾...