
“Apa yang dia berikan padaku ini?” tanya Lu Xiao Lan terheran-heran sambil melihat beberapa pil—dengan warna agak kusam—di tangannya. Ia baru saja tiba di Guild dan Ketua telah menyambutnya di pintu depan sambil menyerahkan beberapa pil ini.
“Itu pil. Kau lihat juga, kan?” ucap Ketua sedikit menunjukkan sifat judes. Ada apa ini? Lu Xiao Lan juga melihat ada kantung hitam di bawah mata pria tua itu. Seperti habis begadang.
“Apa tadi malam Ketua lembur?” tanyanya sambil menaikkan sebelah alis. Ketua menghela nafas saat pertanyaan itu diajukan.
“Kau lihat kantong hitam di bawah mataku ini? Ini cukup untuk membuktikan kalau aku benar-benar lembur ....” Lu Xiao Lan tersenyum hambar. Tidak ada yang meminta bukti, ia hanya bertanya. “.... haih, si bocah kecil itu. Dia merengek untuk membuat pil yang sama seperti yang kau buat. Katanya dia merasa bersalah dan ingin menggantinya. Tapi malah aku yang disuruh untuk membuatnya. Yang aku herankan, kenapa aku mau-mau saja disuruh-suruh begitu?”
Bocah kecil? Sepertinya itu adalah Lan Dao Dao. Ia melihat ke sekitar, namun juga tidak menemukan batang hidung gadis itu. Suaranya yang cempreng juga tidak terdengar. Lu Xiao Lan tak menghiraukan Ketua yang masih mengoceh tidak jelas dan lebih memilih untuk masuk ke dalam.
Ia meletakkan pil yang dibungkus dengan kantong itu di sembarang tempat. Sekarang ia harus bekerja, melayani pasien yang minta untuk menebus obat. Kalian tidak bertanya mengapa ia tidak membuat pil saja? Itu karena Lu Xiao Lan berpikir—masih ada yang bisa membuat pil lebih baik darinya. Kemampuannya juga masih terlalu rendah baginya.
Oh, ngomong-ngomong, ia jadi penasaran akan sesuatu. Mengapa Lan Dao Dao ngotot ingin berguru dengannya? Padahal masih banyak peracik-peracik di Guild ini yang bahkan kemampuannya lebih hebat dan memadai. Yah, terkadang manusia satu tidak bisa mengerti pola pikir manusia yang lainnya. Manusia memang rumit ....
“Permisi. Aku ingin menebus obat ini,” Lu Xiao Lan langsung menoleh pada orang di depannya yang menyodorkan secarik kertas. Dari suaranya yang serak, ia bisa menebak kalau orang ini seorang pria. Pakaiannya menunjukkan kalau dia adalah seorang bangsawan. Namun, ia tak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh tudung.
“Baiklah tuan, tunggu sebentar.” Lu Xiao Lan mengambil kertas yang disodorkan padanya dan membacanya. Tak lama setelah itu, ia mengernyit heran. Resepnya seperti kenal, namun ia tak terlalu ingat ini resep pil apa.
Ia melirik sejenak pada pria di depannya, namun seketika ia sedikit terkejut saat pria itu tengah menatapnya lamat-lamat dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Ia tak tahu ekspresi apa itu. Namun, kenapa mendadak matanya terasa panas?
Lu Xiao Lan segera menyadarkan dirinya untuk tidak terpaku. “Maaf, sebentar.” ucapnya pelan sambil memeriksa daftar tanaman herbal dan obat-obatan yang dibutuhkan.
Ia tak terlalu kesulitan ataupun takut kalau ada yang tidak ada, karena Guild hampir mengoleksi 79% tanaman obat di dataran ini. Bisa dibilang lengkap. Namun, saat menuju tanaman yang terakhir, ia menjadi bingung sendiri. Ia sudah mencari di seluruh rak, namun tak juga menemukan yang dicarinya. Padahal baru saja tadi mengatakan kalau di Guild, tanaman herbal lengkap.
Lu Xiao Lan menoleh ke belakang. Pasti pria itu telah menunggu cukup lama. Ia memutuskan untuk membawa tanaman yang sudah diambilnya dulu dan menjelaskan tentang tanaman yang tidak ada itu.
“Semua tanaman herbalnya telah aku ambil, namun—”
“Yang terakhir tidak ada.” Lu Xiao Lan yang sedikit tertunduk segera mengangkat wajahnya. “Aku tahu, tanaman itu memang tidak ada di sini. Itu adalah tanaman yang sangat langka. Aku bisa mengerti kalau itu tidak ada di sini, karena memang benar-benar sulit untuk mengumpulkannya.”
Lu Xiao Lan seketika bungkam. Ternyata orang di depannya ini bukan orang sembarangan. Dia terlihat seperti seorang pengelana—dilihat dari setelan yang dikenakannya—dan auranya seperti seorang pemimpin yang berwibawa.
“Saya minta maaf soal itu.” Lu Xiao Lan sedikit membungkuk, menunjukkan rasa penyesalannya dengan profesional.
***
Lenggang sejenak. Walaupun suara sedikit gaduh berada di sekitarnya, namun ia merasa suasananya begitu lenggang. Entahlah—apa yang yang membuat dia berpikir demikian.
Oh, tunggu dulu. Sejak tadi ia belum melihat Lan Dao Dao di Guild. Gadis itu tidak seperti biasanya—kalau tidak pasti sudah mengganggunya sedari tadi sambil mengucapkan hal yang tidak jelas.
“Nona, apa yang sedang kau cari?” Ketua mengernyit heran sambil menatap Lu Xiao Lan.
“Tidak. Hanya saja, aku merasa aneh di sini.” ucap Lu Xiao Lan tidak jelas. Ketua merasa bingung. “Apanya yang aneh?” tanyanya.
Lu Xiao Lan menghela nafas. “Entahlah. Tidak ada gadis itu membuat Guild jadi terasa sepi.” gumamnya.
Gadis itu? Apakah yang dimaksud itu adalah Lan Dao Dao? Ketua hanya manggut-manggut sambil tersenyum. Ia menebak—sepertinya Lu Xiao Lan merindukan Lan Dao Dao. Rasanya aneh saat mengatakannya, namun itulah kenyataannya.
“Haha, nona. Sepertinya kau sudah merindukan bocah itu. Lagi pula, kenapa tidak mengambilnya menjadi murid saja? Ada keuntungannya. Kau bisa mendapat murid yang imut. Dan juga, kemampuannya lumayan. Apakah itu kurang untuk meyakinkanmu?”
Yah, sepertinya Ketua tengah membujuknya. Entah apa yang gadis kecil itu berikan hingga pria tua ini mau-mau saja bersekongkol untuk membujuknya.
“Bukan dari segi itu saja yang aku pertimbangkan. Lagi pula, kemampuanku juga masih kurang. Masih ada Guru yang lebih berpengalaman. Lalu, mengapa harus aku?”
Baiklah, sepertinya Ketua sulit untuk membantahnya. Namun, ia masih tak kehabisan ide. “Memang benar. Namun, kau adalah genius yang berbakat. Mana mungkin di usia seperti ini sudah bisa membuat pil tingkat 2? Kau tahu, di sini langka orang sepertimu. Kurasa tidak aneh jika Dao Dao ingin belajar darimu.”
Yah, Lu Xiao Lan mengakuinya. Ia memang seorang genius—apalagi posisinya sebagai Queen Mafia. Oh, ngomong-ngomong, apa yang terjadi pada organisasinya setelah ia mati? Apakah orang kepercayaannya mengurus organisasi untuknya? Oh, dan, kapan mereka mengetahui kabar kematiannya? 1 hari? 2 hari? Ia penasaran akan hal itu, namun juga tidak bisa menuntaskannya. Ia sudah mati, tidak bisa kembali lagi.
“Ketua, apakah kau tahu di mana rumahnya? Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padanya,” tanyanya.
“Sesuatu? Sesuatu apa? Apa akhirnya kau akan mengangkatnya menjadi muridmu? Itu bagus.”
...🌾🌾🌾...