Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 013. Mulai Berkultivasi



"Pasti Xin'er sudah menunggu lama, aku harus cepat kembali" ucap Xiao Lan sambil berlari menuju hutan kematian.


Sesampainya di gubuk, dia merasa kalau suasana di sana begitu sunyi. Tidak ada suara orang, bahkan suara jangkrik pun dapat terdengar.


"Apa-apaan suasana yang sunyi ini?" gumam Xiao Lan bertanya-tanya.


Untuk mengetahui apa yang telah terjadi, Xiao Lan langsung saja masuk ke dalam gubuk dan melihat Xin'er tengah menunduk, dengan dihadapannya ada seorang pria dengan ekspresi serius.


"Ada apa ini?" tanya Xiao Lan yang mengejutkan kedua orang itu.


"Nona, anda sudah kembali?" tanya Xin'er dengan gugup.


"Iya, aku sudah kembali. Kenapa kau terkejut begitu? Apa kau tidak senang aku kembali?" tanya Xiao Lan dengan ekspresi bertanya-tanya.


"Tentu saja tidak begitu, nona" jawab Xin'er dengan cepat, takut Xiao Lan salah menanggapi pertanyaannya.


Xiao Lan kemudian melirik pria yang tadinya duduk langsung berdiri, ekspresinya yang serius tergantukan dengan wajah datarnya.


"Oh, Jiang ge, ada apa kau kemari?" tanya Xiao Lan sambil menatap pria yang berada di depannya itu.


"Ah, tidak. Aku hanya ingin mengunjungi dirimu, itu saja" jawab Pria itu dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Dia adalah Pangeran ketiga, dan merupakan anak dari Selir Mu, Lu Jiang Yu. Sama seperti mendiang Ibunya, dia juga sangat baik kepada Xiao Lan.


'Maaf mei mei, aku tidak bisa memberitahu hal ini padamu' batin Jiang Yu.


"Oh, aku senang kalau gege mengunjungi aku" ucap Xiao Lan dengan senyum palsu.


Jiang Yu membalasnya juga dengan senyuman lemah.


Apa kalian ingin tahu apa yang terjadi sebelumnya? Jadi...


Flashback


Beberapa menit setelah kepergian Xiao Lan, seorang Pria masuk ke dalam hutan kematian. Dia adalah Jiang Yu.


Dan kebetulan, Xiao Lan dan Jiang Yu berpapasan. Karena tidak terlalu memperhatikan, mereka tidak menyadari kalau mereka tengah berpapasan dengan seseorang.


Tok tok tok...


Jiang Yu langsung mengetuk pintu yang telah lapuk itu dengan raut wajahnya terlihat cemas. Pikirannya ke mana-mana, dia tidak mampu untuk berpikir jernih.


"Nona, kau sudah kembali?" tanya Xin'er sambil berlari kecil menuju pintu.


Xin'er langsung membuka pintu saat telah berada di depan pintu dan melihat bukan Xiao Lan yang datang, melainkan Jiang Yu.


"P-pangeran ketiga? Ada urusan apa anda kemari? Oh ya, silahkan masuk" ucap Xin'er dengan sedikit gagap.


"Oh, terima kasih, Xin'er" ucap Jiang Yu dengan tersenyum lembut.


"Tidak perlu berterimakasih, Pangeran ketiga" ucap Xin'er sambil sedikit menunduk.


Jiang Yu mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang dan tentunya itu adalah Xiao Lan. Namun, pandangannya tidak menemukan sosok itu.


"Di mana mei mei?" tanya Jiang Yu yang tak menemukan keberadaan gadis itu.


"N-nona sedang pergi" jawab Xin'er dengan gagap.


Raut wajah Jiang Yu seketika berubah menggelap. Dia cemas, juga merasa marah. Perasaannya bercampur aduk. Xin'er yang melihat ekspresi itu langsung takut jika dirinya salah bicara.


"Xin'er, apapun yang terjadi, kau harus melindungi Lan'er, apapun itu caranya. Aku mempercayakan dia kepada dirimu. Kuharap, kau bisa melakukan apa yang aku katakan" ucap Jiang Yu secara tiba-tiba.


"Aku tahu, kau pasti terkejut dengan perkataanku yang ambigu ini. Tapi, aku tidak ingin Lan'er kenapa-kenapa" ucap Jiang Yu dengan tatapan sedih.


"Walaupun saya tidak tahu apa yang Pangeran ketiga maksudkan, tapi saya pasti akan terus melindungi nona" jawab Xiao Lan dengan mendunduk dan tersenyum tipis.


"Ada apa ini?" tanya Xiao Lan yang telah kembali.


Flasback End


"Aku senang kau baik-baik saja, Lan'er. Baiklah, karena sekarang aku sudah tahu bagaimana keadaanmu, sekarang aku bisa tenang. Sampai jumpa" ucap Jiang Yu dengan senyuman menghiasi wajahnya yang tampan.


"Sampai jumpa. Hati-hati di jalan, gege" ucap Xiao Lan sambil melambai-lambaikan tangannya dengan senyuman tipis.


Setelah itu, Xiao Lan langsung menutup pintu dan duduk di kursi yang berada di dekatnya. Dia kemudian melepas cincin penyimpanan yang tadi terpasang di jari manisnya.


Xin'er yang tadi tidak terlalu memperhatikan langsung terkejut saat melihat cincin penyimpan yang dimiliki Xiao Lan.


Xiao Lan yang melihat ekspresi terkejut yang terlihat jelas dari raut wajahnya hanya tersenyum. Dia kemudian mengeluarkan koin emas dari dalam cincin tersebut.


'Xin'er yang tidak dapat mengontrol ekspresinya sudah pasti langsung terkejut' batin Xiao Lan.


"Nona, darimana semua koin emas ini berasal? Apakah ini asli? Apakah saya bermimpi? Apa yang tadi nona lakukan sampai-sampai bisa mendapat koin emas sebanyak ini?" tanya Xin'er dengan bertubi-tubi.


Dan, ya, hasilnya sudah bisa ditebak dengan karakter Xin'er yang seperti itu. Padahal Xiao Lan hanya mengeluarkan sebagian saja.


Kalau tidak, mungkin Xin'er akan pingsan seketika.


"N-nona, tapi, jika Kaisar Lu tau mengetahui akan hal ini, bagaimana?" tanya Xin'er dengan khawatir.


"Ini adalah rahasia diantara kita berdua saja. Jika kau tidak memberitahu pria tua itu, bukankah aman-aman saja? Kau tidak akan bilang bukan?" jawab Xiao Lan dengan enteng.


"N-nona" gumam Xin'er dengan senyum tak berdaya, terlebih karena Xiao Lan menyebut Lu Xucheng dengan sebutan 'Pria tua itu'.


"Xin'er, aku akan pergi keluar lagi untuk berlatih. Aku harus mengejar ketertinggalan" ucap Xiao Lan bangkit dari duduknya.


"Non—" Xin'er yang ingin memanggil Xiao Lan terhenti.


Xin'er hanya tersenyum sambil menatap kosong ke depan. Dia berdoa supaya nonanya berhasil dan baik-baik saja.


"Sudahlah, lebih baik aku mendoakan nona supaya dia baik-baik saja. Nona, anda sudah banyak berubah.


Anda bukan lagi gadis yang pemalu, lemah dan bodoh. Mendiang Permaisuri pasti sangat bangga pada anda dan tidak perlu mencemaskan anda lagi.


Permaisuri, sekarang anda sudah bisa tenang. Mulai sekarang, saya akan menjaga nona dengan baik" ucap Xin'er sambil memejamkan matanya dengan senyum mengembang.


***


Sedangkan di tempat Xiao Lan berada, di hutan kematian lapisan ke-3, kini Xiao Lan sedang duduk bersila sambil menyerap qi yang berada di sana.


Dia memfokuskan pikirannya dan menyerap qi dengan semaksimal mungkin untuk mencapai tingkatan. Ya, walaupun dirinya sudah tertinggal jauh.


Setelah beberapa jam Xiao Lan berkultivasi, akhirnya Xiao Lan telah berada di tahap pengumpulan qi tahap kedua.


Xiao Lan mulai membuka matanya dan melihat ke sekeliling. Dia sebenarnya agak bingung bagaimana cara berkultivasi.


Dulu, saat di dunia modern, dia pernah membaca buku tentang kultivasi. Dulu saat menjadi Lin Yuan dirinya sedikit tertarik dengan hal semacam itu dan membaca buku yang memiliki tebal 10 cm.


Setiap waktu luang dia gunakan untuk membaca itu, namun, suatu hari buku itu menghilang entah kemana.