
Episode sebelumnya ....
“Bukankah ini terlalu sepi? Walaupun yang tinggal hanya 2 orang, tapi bukankah ini sangat tidak wajar?”
Rekannya menyipitkan mata. Alisnya berkedut. Kemudian, dia langsung membuka pintu dengan kasar hingga pintunya hampir copot. Dia menelisik ke segala penjuru rumah, namun tidak menemukan tanda-tanda kehidupan.
Dia menggebrak meja di sampingnya dengan kesal, “S*al! Apakah mereka sudah tahu? Sepertinya mereka telah kabur.”
Dari suaranya itu adalah suara seorang wanita. Apalagi tubuhnya yang kecil dan juga ramping. Sudah pasti itu adalah wanita.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
Wanita itu menyipitkan matanya dengan tangan mengepal erat hingga buku-bukunya memutih. “Tentu saja menemukannya. Cepat cari kemanapun! Tidak mungkin mereka telah pergi jauh!”
Keduanya langsung mencari ke segala arah dan menemukan jejak kaki. Kemarin hujan dan tanah masih sedikit becek, jadi ini pastilah jejak dari dua orang yang sedang mereka cari.
***
“Ibu, aku sudah tidak kuat lagi.”
Xin'er menghentikan langkahnya sambil memegangi lututnya dan menstabilkan nafasnya. Ia sudah tidak kuat lagi untuk berlari lebih jauh. Dan lagi, untuk apa lari? Jika saja tahu, mungkin bisa jadi motivasi untuk terus berlari.
Ibunya mengelus puncak kepala Xin'er sambil tersenyum pahit. Jujur saja, kakinya juga terasa sangat lelah setelah berlari cukup jauh. Dan lagi, di sini cukup sepi. Tidak ada yang bisa untuk dimintai tolong.
“Anakku, ikut Ibu.”
Ibunya langsung menariknya ke suatu tempat. Xin'er hanya mengikuti. Mereka menghampiri sebuah gerobak yang berisi jerami, entah siapa yang meninggalkan gerobaknya begitu saja. Namun wanita itu sangat bersyukur dapat menemukannya.
“Xin'er, masuklah ke dalam gerobak. Cepat!”
Tidak pernah Xin'er melihat Ibunya sepanik ini. Walaupun tidak tahu apa yang terjadi, ia hanya menurut saja dan masuk ke dalam kumpulan jerami.
Wanita itu langsung mengambil salah satu jerami dan menutupi Xin'er dengan itu supaya tidak kelihatan. Dia juga mengambil sesuatu untuk membuat jeraminya terasa berat sehingga Xin'er tidak bisa keluar.
Xin'er merengek, “Ibu, di sini gelap. Ibu dimana? Aku sangat takut,”
“Bersabarlah, nak. Kau harus bertahan. Ibu akan selalu bersamamu,”
Setidaknya itulah kata yang terakhir ia dengar dari Ibunya. Dia tidak tahu bagaimana ekspresi Ibunya saat itu. Namun, dia menurut dan segera diam.
Sudah beberapa lama dia hanya diam saja. Untuk mengambil nafas saja ia sangat berusaha supaya sangat halus dan tidak menimbulkan suara. Jantungnya berpacu dengan kencang.
Karena merasa janggal, Xin'er memanggil Ibunya. “Ibu?”
Walaupun Ibunya ada di sana, namun wanita itu tidak menjawab. Dia malah fokus pada 2 orang yang berada tak jauh dari mereka sehingga mungkin tidak dapat mendengar anaknya memanggil.
“Xin'er,” bisik wanita itu.
Suaranya terlalu lirih, terbawa oleh angin malam yang dingin. Xin'er tidak dapat mendengarnya. Wanita itu menatap nanar pada tumpukan jerami di mana ada anaknya yang tengah dia sembunyikan di dalam.
Kedua pembunuh itu menghampiri Ibu Xin'er dengan pedang yang telah siap untuk membunuh.
“Akhirnya kami menemukanmu, wanita s*alan.”
Wanita dengan pakaian khas pembunuh bayaran datang menghampirinya. Ia sengaja menurunkan maskernya supaya Ibu Xin'er bisa melihat wajahnya dan mengetahui siapa dirinya.
Sedangkan rekannya berada tak jauh darinya. Namun, atas permintaan dari wanita itu, ia tak akan ikut campur dan hanya akan menonton.
“Wah, sudah lama kita tidak bertemu. Setelah sekian lama, malah kita bertemu dengan suasana yang seperti ini.”
Wanita itu tersenyum ramah, namun Ibu Xin'er tahu jika itu bukanlah hal baik. Dia memasang kuda-kuda untuk berjaga-jaga jika wanita itu menyerang.
“Ada apa, Ye Lian? Oh ya, ngomong-ngomong dimana anakmu itu? Padahal aku juga ingin bertemu dengannya. Pasti sudah besar, ya?”
Ibu Xin'er—Ye Lian, menatap tajam pada wanita itu. Dia melirik sekilas pada gerobak jerami yang berada jauh. Dia hanya berharap wanita ini tidak menemukan anaknya dan membunuhnya.
Wanita itu juga melirik sekilas pada gerobak jerami dan tersenyum. Entah apa yang membuatnya begitu. Itu terlihat seakan dia mengetahui kalau Xin'er ada di sana. Tidak, dia tidak boleh tahu.
Wanita itu masih dengan senyumnya yang menjengkelkannya—menyentuh mata pedang itu dengan tangan yang dilapisi oleh sarung tangan.
“Oh iya, apa kau sudah dengar? Katanya suamimu itu—”
Ye Lian langsung berteriak—memotong ucapan wanita itu. “Jangan berani kau mengatakannya lagi!”
Xin'er samar-samar mendengar suara Ibunya yang berteriak. Namun, ia tidak bisa melihat walaupun ingin karena ada sesuatu yang mengganjal di atasnya hingga membuatnya tidak bisa memindahkan jerami itu.
Wanita itu berpura-pura terkejut dan menutup mulutnya dengan tangannya yang ramping. Walaupun menggunakan sarung tangan, tangannya masih terlihat ramping. Bayangkan saja jika sarung tangannya dilepas, pasti sangat ramping!
Tunggu, kenapa malah membahas ini? Ini tidak ada dalam skenario! Ingat, harus ikuti skenarionya.
Wanita itu kini sedikit menampilkan seringainya. “Oh, sepertinya aku sudah bicara terlalu banyak padamu. Bagaimana kalau kita akhiri sekarang saja?”
Dia menodongkan pedangnya pada leher Ye Lian. Kini mata pedang itu telah menyentuh leher putih Ye Lian, sedikit memberikan goresan hingga darah segar menetes dari goresan itu.
Wanita itu tiba-tiba menarik kembali pedangnya dan menancapkannya ke tanah. Tangannya bertumpu pada pangkal pedang dan miring pada Ye Lian. Wanita itu terlihat sedikit gila, dia tersenyum di situasi yang menegangkan ini.
Wanita itu sedikit cemberut. “Kau ini tidak seru. Padahal hanya ingin bermain, tapi kau malah menanggapinya itu-itu saja.”
Ye Lian mengepalkan tangannya erat-erat. Di balik bajunya, ia tengah mengumpulkan Qi untuk dilemparkannya pada wajah wanita ini. Setelah cukup besar, dia segera melemparkannya saat wanita itu tengah lengah.
Wanita itu langsung membuat perisai saat qi itu hampir mengenai wajahnya. Namun, saat dia berhasil mengatasinya, sebuah pisau kecil terlempar ke wajahnya. Dia tidak sempat menghindar dan pisau kecil itu membuat goresan di pipinya dan membuat beberapa helai rambutnya terpotong.
Kini pisau kecil itu telah tertancap di batang pohon cukup dalam. Ye Lian sengaja melemparnya saat wanita itu membuat sebuah perisai. Ia tahu jika wanita itu tidak akan mudah dibodohi hanya dengan sebuah qi yang bahkan tidak ada apa-apanya.
...🌾🌾🌾...