Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 078. Glow in the Dark



Darimana bocah rese ini datang? Membuatnya kaget saja. Setidaknya, jantungnya ini masih terletak di tempat yang seharusnya dengan baik. Dan yang penting sekarang ....


“Kau mengagetkanku, kau tahu?” Lu Xiao Lan mengelus dadanya sambil menghela napas tipis.


Lan Dao Dao tersenyum tanpa dosa. Ia tak merasa bersalah akan hal itu.


“Sudahlah. Guru mencariku? Apa ada sesuatu yang ingin dikatakan?”


Lu Xiao Lan langsung menjawab dengan lugas, “Tidak!” ia sedikit berseru.


Lan Dao Dao masih menatapnya dengan mata memicing, berusaha menggodanya, “Heu heu, benarkah? Lalu, kenapa menatapku terus? Tidak mungkin tidak ada sesuatu.” Lan Dao Dao masih bersikeras.


***


“Ini bagus, yang ini juga ....”


Lu Xiao Lan memetik beberapa herbal yang menurutnya bagus untuk meningkatkan kultivasinya. Kalian ingat? Kontes mencari tanaman terbaik di pulau terpencil, ia harus bersiap untuk itu.


Pagi-pagi buta—atau mungkin sekarang masih tengah malam—Lu Xiao Lan pergi ke bukit yang berada beberapa mil dari belakang kediamannya. Ini waktu yang cukup bagus untuk memetik tanaman, dimana tempat ini sepi.


Selain itu, tanaman-tanaman ini juga menjadi lebih segar. Cahaya bulan yang temaram membuat ia tak bisa melihat dengan baik. Kemampuannya jadi menurun, namun, itu menjadi hal yang begitu berarti baginya.


Lampu yang mirip seperti lampu gantung juga tergeletak di sampingnya, memberikan pencahayaan yang cukup membantu.


Lu Xiao Lan mendongak untuk melihat bulan sabit yang masih berada di langit. Warnanya perak dan menawan, namun, guratan di wajahnya tak menunjukkan sebuah senyuman. Hanya .... kesedihan.


“Sebenarnya kau ini siapa?” ia bergumam sambil menatap nanar bulan sabit itu.



Bayangan gadis itu masih saja menghantuinya. Ini bukanlah dirinya yang sesungguhnya. Lu Xiao Lan mengusap matanya yang berair. Ia bertanya-tanya mengapa belakangan ini ia jadi melankolis. Apakah masa remaja memang begini?


Ia lanjut memetik tanaman yang menurutnya bagus untuk kultivasi, ataupun yang lainnya.


“Tuan, ambil rumput yang itu. Yang di sebelahmu itu ....”


Lu Xiao Lan menunduk untuk melihat apa yang ditunjukkan oleh Xiao Gui. Ini .... rumput. Terlihat seperti rumput biasa. Ia tak tahu apa istimewanya rumput ini. Lalu, kenapa menunjukkan ini padanya?


“Ambil saja, itu akan berguna nanti.” Xiao Gui tampaknya tak ingin menjelaskan apapun. Baiklah, ambil saja.


Ia memetik rumput itu lalu memasukkannya ke ruang dimensi. Kali ini, ia tak membawa keranjang untuk membawa semua tanaman yang telah ia petik sedari tadi.


“Ambil yang banyak, Tuan. Apakah segini akan cukup?” Xiao Gui tampak tak puas dengan hasil yang dimasukkan oleh Lu Xiao Lan. Dan dia meminta untuk mengambilnya lagi? Padahal ini sudah hampir sepertiga yang ia ambil!


Lu Xiao Lan menggerutu. Namun, ia tetap menurutinya. Ia mengambil semua rumput yang dilihatnya. Ya, semua. Biarkan makhluk itu puas.


“Apa kau puas sekarang?” Lu Xiao Lan bertanya dengan tidak senang.


Xiao Gui hanya tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya. Eh, dia punya gigi ternyata. “Ya ya, sepertinya ini akan cukup.”


Baiklah, berhenti untuk mengerjai tuannya, ia tak ingin kualat karena mengerjai tuannya sendiri. Dia juga masih takut dengan karma yang akan menimpa.


“....”


—_—"


Lu Xiao Lan menjadi sebal sendiri karena pertanyaannya tak mendapat respon apapun. Sebenarnya, dia ini sedang apa? Ia memutuskan untuk masuk ke ruang dimensi.


“Hei, kau ini sangat sibuk ya? Kenapa tidak ....”


Lu Xiao Lan termangu sekaligus tercengang. Apa yang terjadi? Ia yakin ia tak salah masuk. Ini memang benar ruang dimensi miliknya, memangnya dimana lagi? Ia benar-benar yakin kalau ia tidak kesasar di ruang dimensinya sendiri. Ini memang benar tempat ia biasa muncul.


Tapi, pemandangan yang ia lihat ini berbeda sama sekali, bukan lagi tempat yang ia kenal. Lu Xiao Lan memijit pelipsnya, ia benar-benar tak mengerti apa yang terjadi pada ruang dimensinya. Kenapa disini .... tidak ada rumputnya?!


Seluruh tanah di ruang dimensi kebanyakan ditumbuhi oleh rerumputan. Namun, di sini hanya ada hamparan tanah yang berwarna merah. Mungkin ini akan menjadi daerah Tanah Abang yang kedua ....


“Hei, Xiao Gui! Apa yang terjadi pada ruang dimensiku!?” Lu Xiao Lan berseru, namun, ruang dimensi ini terasa kosong. Ia mengatupkan rahangnya. Ke mana yang lainnya pergi? Hei, ini tidak akan berganti genre menjadi horor, 'kan?


“Ya, di sini!” dari arah lain Xiao Gui telah muncul dengan membawa tumpukan rumput yang dipetiknya tadi.


“Katakan, apa yang telah kau lakukan pada ruang dimensiku!?” Lu Xiao Lan mencengkram kerah Xiao Gui hingga tumpukan rumput di tanahnya terjatuh.


Ia hanya bisa tersenyum tak berdaya. Yah, positif thinking saja, mungkin dia terkejut dengan keadaan ruang dimensi yang sekarang.


“Tenang dulu, aku sedang mengganti rumputnya,”


Cengkraman di kerahnya melonggar, membuat Xiao Gui bisa kembali bebas dan mengambil rumput yang terjatuh.


“Mengganti rumput?”


Xiao Gui mengangguk. Ia melepaskan ikatan tali yang mengikat rumput yang cukup banyak itu, lalu memotongnya menjadi potongan yang kecil-kecil. Lu Xiao Lan yang melihatnya langsung mematung menjadi batu. Hei, dia ini sedang apa?


“Kau .... memotong-motong rumputnya? Padahal aku sudah mencabutinya dengan susah payah ....” rasanya kini ia sekarang seperti boneka balon yang berada di depan toko cat.


“Setidaknya bantu aku jika tuan hanya diam saja,”


Xiao Gui mengambil segenggam rumput lalu meniupnya hingga potongan kecil rumput itu menyebar bagai tertiup angin, lalu perlahan-lahan jatuh ke tanah.


“Perhatikan baik-baik,” ucap Xiao Gui.


Tanpa disuruh pun ia sudah memandanginya sejak tadi. Tidak ada hal khusus yang terjadi, kecuali .... Hei, tunggu! Lu Xiao Lan membulatkan matanya. Potongan kecil rumput yang tersebar itu perlahan mulai menghilang. Tidak, lebih tepatnya, tanah di sini menyerap rumput-rumput itu bagai pasir hisap! Ini sungguh luar biasa.


Namun, ia tetap berada di posisinya tanpa bergerak ataupun tertelan, hanya rumput-rumput itu yang telah dihisap ke dalam tanah. Lu Xiao Lan mengatupkan rahang, tetap mengamati apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Apa yang terjadi? Kenapa tidak ada ...?” ucapannya terhenti ketika melihat sebuah tanaman muncul dari dalam tanah, warnanya merah. Awalnya kecil, namun, lama-lama tanaman itu tumbuh memanjang dan membesar. Eh, apa yang terjadi?


Tanah yang dipijaknya pun terasa aneh, seperti ada sesuatu yang bergetar di bawah kakinya. Ia mengambil langkah mundur dan tetap mengamati sambil menjaga jarak.


Perlahan, tanah yang tadinya kosong kini ditumbuhi oleh rumput berwarna merah, warna merahnya sedikit menyala. Yah, kalian mungkin bisa menyebut tanaman ini glow in the dark.


...🌾🌾🌾...