
Episode sebelumnya ....
“Nona, maaf saya baru menyambut anda. Silahkan.” ucap ketua Guild mempersilahkan mereka masuk.
Mereka berbincang sembari berjalan menuju ruangan ketua. “Kau terlihat lebih segar dari saat aku bertemu denganmu waktu itu, ketua.” ucap Lu Xiao Lan terlihat sedikit cuek.
“Tentu saja ini juga berkat anda.”
Lu Xiao Lan mengangguk, ini memang karenanya. Sedangkan dua orang di belakangnya hanya melongo. Mereka heran, bagaimana bisa ketua Alchemy
“Jadi, ada apa nona datang ke mari?” ketua Guild mulai membuka pembicaraan mereka.
***
“Hanya ingin berkunjung, sekaligus meminta bantuan.” ucap Lu Xiao Lan. Lalu, gadis itu melanjutkan. “Aku butuh bantuan untuk mencarikan rumah. Rumahku tidak aman, jadi ingin pindah.”
Ketua Guild mengangguk paham. Jadi gadis ini sedang mencari rumah? Baiklah.
“Tentu, aku akan memberikan rumah. Lagi pula kau adalah anggota di sini.” ucap ketua Guild yang tidak se-formal tadi.
Lu Xiao Lan menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak. Aku ingin rumah sendiri, bukan rumah anggota.”
Ketua Guild langsung menyetujui permintaan Lu Xiao Lan dan menyuruh asistennya untuk mencarikan sebuah rumah. Asistennya hanya menurut saja dan segera mengerjakan tugas yang diberikan padanya.
Tak butuh waktu yang sangat lama, asisten ketua Guild kembali dengan sertifikat rumah. Ketua Guild mengambil sertifikat itu dan memberikannya pada Lu Xiao Lan.
Lu Xiao Lan memeriksa sertifikat itu dan tersenyum puas. Setelah itu, ia dan Yan Xiao Han serta Xin'er pergi untuk melihat rumah baru mereka.
“Kalian tunggu saja di sini. Aku akan pergi untuk menyelesaikan janjiku.”
Setelah mengatakan itu, Lu Xiao Lan langsung pergi meninggalkan keduanya. Ia pergi untuk menyelesaikan janjinya waktu itu dan pergi menuju Sekte untuk menyembuhkan seseorang.
Setelah sampai di Sekte, Lu Xiao Lan menunjukkan token yang dia dapatkan dari murid Sekte yang ia temui saat di hutan kematian.
Salah satu penjaga mengantarkannya ke tempat orang-orang itu. Saat telah sampai, seorang gadis menyambutnya dengan berkacak pinggang.
“Akhirnya kau datang juga. Kami kira kau tidak akan datang. Hampir saja kami mau menggunakan telur itu untuk mengobati Guru.” ucap gadis itu.
“Aku ini menepati janjiku. Lagi pula, ini juga masih pagi, dan aku tidak terlambat.”
Gadis itu menghela nafas dan menuntun Lu Xiao Lan untuk pergi menemui Gurunya. Lu Xiao Lan mengagumi interior di dalam kamar itu. Unik dan klasik.
“Itu Guru. Kuharap kau tidak akan mengecewakan kami jika kau ingin telur ini.” ucap gadis yang waktu itu memberinya token untuk bisa masuk ke Sekte.
Lu Xiao Lan tidak menanggapi ucapan gadis itu dan memeriksa denyut nadi wanita yang tengah terbaring lemah di ranjang. Denyut nadinya tidak stabil, tangannya juga dingin. Lu Xiao Lan menghela nafas.
“Kenapa ekspresi mu begitu? Jangan bilang kalau kau tidak bisa menyembuhkan Guru,”
Lu Xiao Lan mendecak kesal. “Sepertinya kau meragukan kemampuanku dalam mengobati.”
Pria yang tadi meragukan Lu Xiao Lan kini hanya terdiam dan memperhatikan gadis itu yang tengah menyiapkan obat untuk Gurunya.
“Baiklah, sepertinya ini cukup.”
Lu Xiao Lan telah selesai membuat sebuah obat cair untuk mengobati wanita itu. Dia membantu wanita itu untuk duduk dengan bantal untuk menyangga dan meminumkan obat cair buatannya.
“Uhuk uhuk,”
Wanita itu terbatuk dan memuntahkan obat cair yang baru saja dia minum. Namun, warnanya jadi lebih pekat.
“Apa yang terjadi?!”
Lu Xiao Lan mendelik kesal. “Diamlah, kenapa kalian berisik sekali? Cepat, gantikan dia baju.”
Murid gadis wanita itu segera melakukan apa yang diperintahkan Lu Xiao Lan. Entah mengapa mereka langsung melakukan perintahnya.
“Guru, apa guru baik-baik saja?”
Wanita itu mengangguk lemah. “Guru baik-baik saja. Sepertinya racunnya telah keluar.”
Wanita itu lalu menoleh pada Lu Xiao Lan yang tengah menatapnya dengan ekspresi datar. Dia mengernyit, siapa gadis itu?
Tapi, tunggu dulu. Kenapa rasanya dia kenal? Gadis ini ....
Wanita itu langsung terkejut dan memanggilnya dengan nama lain. “Xia?”
Lu Xiao Lan merasa bingung dengan wanita itu. Xia? Dia bukan Xia, tapi Xiao Lan. Lu Xiao Lan. Kenapa wanita itu malah memanggilnya Xia?
“Kalian pergilah dulu. Aku ingin bicara dengannya,” ucap wanita itu sambil melambaikan tangan, mengisyaratkan murid-muridnya untuk meninggalkan keduanya.
Setelah hanya kedua orang itu yang tersisa, Lu Xiao Lan berkata pada wanita itu. “Maaf, sepertinya anda salah orang.”
Wanita itu tersenyum pahit. “Ah, iya benar. Kau bukan dia, dia sudah meninggal. Padahal kukira kau adalah Xia Lin. Siapa namamu.”
Lu Xiao Lan sedikit terkejut, wanita ini mengenal Ibunya? Sepertinya ia harus mengorek informasi darinya. “Xia Lin? Apakah maksudmu adalah Lu Xia Lin? Ratu Xia?”
Wanita itu mengangguk dan menoleh pada Lu Xiao Lan. “Iya,”
Sepertinya wanita ini adalah teman Ibunya. Ia tertarik untuk mengorek informasi lebih dalam. “Jadi, kau temannya? Kau sangat dekat dengannya? Apa kau juga mengenal anaknya?”
***
Di kediaman Zhang, di paviliun milik Zhang Yui Wei, gadis itu saat ini tengah menatap gelang giok yang terpasang di tangan kecilnya. “Xishu, aku ingin berkultivasi. Apakah di ruang spirit ada ruang untuk itu?”
Xishu yang berada di ruang spirit langsung mengangguk. “Tentu saja ada! Nona muda, kau ingin berkultivasi?”
“Bukankah aku sudah mengatakannya dengan jelas? Tentu saja.”
“Kenapa saat itu rupaku tidak seperti ini?” gumam Zhang Yui Wei bingung sekaligus bertanya pada Xishu.
“ .... ”
Xishu hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan yang Zhang Yui Wei ajukan. Malah mengalihkan pembicaraan. “Nona muda, kau bukannya ingin berkultivasi? Ayo, ikut aku.”
Zhang Yui Wei mengikuti Xishu dengan pertanyaan di benaknya. Sepertinya Xishu sengaja tidak menjawabnya. Mungkin lain kali dia akan memberi tahu.
Keduanya telah sampai di ruang untuk kultivasi yang ditunjukkan oleh Xishu. Ada banyak bebatuan di sana. Zhang Yui Wei mengambil salah satu batu itu dan mengamatinya. Bukankah ini batu biasa? Tapi ....
Zhang Yui Wei sedikit terkejut. Ia telah salah menilai. Ini bukanlah sebongkah batu biasa, namun batu ini mengandung spiritual yang mampu membantu dalam berkultivasi.
“Kenapa ada banyak sekali batu kultivasi di sini?” tanya Zhang Yui Wei yang penasaran. Memang, ruang spirit serba ada. Namun, jumlah batu ini tidak lazim. Hanya untuk membantu berkultivasi, kenapa ada bergunung-gunung batu?
“Itu .... Tentu saja untuk membantu kultivasi.” jawab Xishu sambil
Zhang Yui Wei menatap aneh pada makhluk ruang spirit itu. Kenapa setiap dia mengajukan pertanyaan, jawabannya selalu begitu. Gugup. Seperti ada yang coba disembunyikan. Xishu juga memalingkan wajahnya, tidak ingin menatapnya. Apa yang salah dengannya?”
Namun, Zhang Yui Wei tak berniat untuk menguaknya. Lagi pula, dia hanya ingin berkultivasi. Masalah ini tidak terlalu penting.
Ia berjalan menuju salah satu tumpukan batu dan mengambil satu batu. Zhang Yui Wei merasa penasaran dengan tumpukan batu itu. Namun, ia merasa bingung. Batu ini adalah batu biasa. Semua batu di tumpukan ini adalah batu biasa.
Tidak, sepertinya batu itu adalah batu spiritual yang telah habis dipakai. Tapi, kenapa ada sebanyak ini? Ia lalu menoleh pada Xishu dan bertanya.
“Kenapa ada banyak batu spiritual di sini yang telah habis terpakai? Sepertinya ada seseorang yang menggunakannya sebelumnya.”
“Nona muda, anda kan ingin berkultivasi. Untuk apa mempedulikan tumpukan batu yang sudah tidak bisa dipakai itu?”
Zhang Yui Wei merasa curiga, namun tetap mengangguk membenarkan ucapan Xishu. Dia harus berkultivasi. Ia tidak ingin menjadi wanita yang lemah.
Zhang Yui Wei mengambil posisi duduk bersila dan mulai menyerap spiritual di sekitarnya dari batu kultivasi yang ada di sekitarnya. Matanya mulai terpejam dan memfokuskan dirinya.
Xishu menatap Zhang Yui Wei dengan pandangan rumit dan bergumam. “Setidaknya nona muda bisa merasakannya,”
Cahaya remang-remang keluar dari tubuh Zhang Yui Wei menandakan ia telah dalam proses mengubah spiritual menjadi qi di dalam tubuhnya. Rasanya tubuhnya bergejolak, seperti ada sesuatu yang mengalir bebas di tubuhnya. Namun, ia tetap fokus supaya spiritualnya tidak buyar dan kacau.
Xishu langsung menghilang dari sana, membiarkan Zhang Yui Wei untuk tetap fokus selama berkultivasi. Ia juga membuatkan pelindung untuk Zhang Yui Wei sebelum menghilang dari tempat itu.
Xishu kembali muncul di sebuah kamar. Perlahan, ia membuka pintu itu, takut mengganggu orang di dalamnya. Ia menghampiri ranjang di mana terdapat seorang gadis yang tengah terbaring kaku di atasnya. Sebuah selimut menutupi tubuhnya sampai bahu, dan tangannya berada di atas selimut.
Wajah gadis itu begitu polos. Kulitnya putih seperti putri salju. Rambutnya yang berwarna perak tergerai dan menyebar. Bibirnya berwarna pucat dan pecah-pecah. Gadis itu tak sadarkan diri cukup lama, namun Xishu selalu merawatnya dan mengganti pakaiannya.
Tidak ada tanda-tanda gadis itu akan membuka matanya. Ia seolah hanya ingin menutup mata dan tidak ingin bangun. Xishu hampir putus asa, namun tak menyerah.
Xishu berlutut di samping ranjang dan menggenggam tangan gadis itu dengan lembut. “Nona muda, aku berharap bisa melihatmu kembali.”
***
Di sebuah kamar yang klasik, ada 2 orang yang sedang saling menatap. Seorang gadis duduk di kursi, sedangkan seorang wanita duduk di ranjang dengan bantal yang menyangga punggungnya.
Gadis itu adalah Lu Xiao Lan. Ia menatap wanita itu yang juga tengah menatapnya. Wanita itu belum menjawab pertanyaan yang diajukannya dan malah menatapnya. Sungguh membuatnya sedikit tidak nyaman.
“Kami dulu adalah sahabat. Dia adalah temanku di Sekte ini.” wanita itu tersenyum dengan tatapan menerawang.
Wanita itu melanjutkan ucapannya, “Aku dan dia sangat dekat. Selama misi, dia selalu menjadi partner-ku. Dia orang yang menyenangkan, namun juga ceroboh. Namun, sikapnya berubah menjadi pendiam dan murung setelah menikah dengan pria itu!”
Wanita itu merasa kesal saat menceritakan Lu Xia Lin yang berubah karena pria itu. Lu Xiao Lan tahu siapa pria itu. Lin Xucheng, Kaisar Lu saat ini.
Wanita itu tersenyum miris, “Xia bahkan rela mengorbankan dirinya. Saat itu, keluarga Lin ingin memberontak. Mereka mengajukan syarat untuk menjadikan Lin Xucheng sebagai menantu Kaisar untuk perjanjian perdamaian. Kaisar dan Permaisuri saat itu tidak menyetujuinya. Namun .... wanita bodoh itu .... bisa-bisanya dia langsung setuju.”
Ya, Lu Xiao Lan juga merasa Ibunya itu bodoh. Bagaimana bisa menyetujui hal itu secara langsung? Pria itu saja membencinya, kenapa tidak cerai saja?
Wanita itu menangis, namun masih melanjutkan ceritanya. “Lalu, 2 bulan setelah pernikahannya dengan pria itu, Xia mengandung. Namun, pria itu malah tidak mau mengakuinya dan mengambil selir. Sungguh tidak tahu diri. Aku sudah menyuruh Xia untuk menggugurkan anak itu, namun ia malah menolak dan berkata .... ”
Lu Xiao Lan melanjutkan perkataan wanita itu. “*Anak ini tidak bersalah.*”
Lu Xiao Lan menunduk, ekspresinya tak terbaca. Rasanya hatinya sakit saat mengatakan itu. Wanita itu sedikit terkejut. Ia seperti melihat bayangan Lu Xia Lin dalam diri Lu Xiao Lan.
“Ya, dia mengatakan itu.” ucap wanita itu sendu.
Suasana seketika hening. Setelah beberapa lama, wanita itu bergumam. “Ini aneh, kenapa aku menceritakannya padamu? Mungkin aku butuh seseorang untuk melampiaskan perasaan yang telah kupendam selama ini,”
Lu Xiao Lan hanya terdiam. Wanita itu kembali menatap Lu Xiao Lan dan tertawa kecil. “Gadis, kenapa aku seperti bersama Xia, ya? Aku bahkan pernah berpikir kalau kau adalah anaknya,”
Ya, memang benar, Lu Xiao Lan adalah anaknya. Namun, Lu Xiao Lan tidak berniat untuk membuka itu. Dia masih merasa aneh dengan kematian Lu Xia Lin, jadi memutuskan untuk tidak mengungkapkan identitasnya sekarang.
“Oh iya, aku belum tahu namamu.” ucap wanita itu tersenyum lemah.
“Xiao Lan'er,”
Wanita itu mengangguk dan bergumam, “Marga-mu Xiao? Apakah kau dari bangsawan Xiao?”
Lu Xiao Lan menatap ke bawah, tidak ingin melihat mata wanita itu. “Tidak, aku hanya .... Penduduk biasa.”
Lu Xiao Lan berbohong dengan identitasnya. Ia hanya ingin menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya.
“Karena urusanku telah selesai, aku akan pergi.”
Wanita itu mengangguk dan menatap Lu Xiao Lan yang telah menutup pintu. Gadis itu telah pergi. Ia menyenderkan kepalanya di kepala ranjang dan memejamkan mata. Sebuah bulir bening mengalir menuju pipi lalu dagu dan menetes ke pakaiannya.
“Kenapa kau menyembuhkan aku, Lan'er?”
...🌾🌾🌾...