
"Akhirnya ada juga yang dapat mengambil liontin itu. Sekarang, aku akan mengambil itu darimu"ucap sebuah suara yang membuat mereka berdua sedikit terkejut.
"Kau ingin mengambil ini dariku? Coba saja jika kau bisa! Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain merebut milikku!" ucap Xiao Lan mulai waspada.
"Hahaha, menarik sekali kau. Ini akan menjadi pertarungan yang menyenangkan" ucap suara yang kentara kalau itu adalah suara seorang wanita.
Bersamaan dengan itu sebuah asap menyerbu tempat itu beberapa waktu dan langsung menghilang. Dari asap itu muncul seorang wanita dengan busur panah di tangannya beserta anak panah di punggungnya.
Wanita itu tersenyum dengan penuh percaya diri dan maju beberapa langkah supaya bisa lebih dekat dengan Xiao Lan.
"Liontin ini, aku akan merebutnya darimu. Kau tadi bilang ini milikmu, bukan? Tapi liontin ini belum mengakui dirimu sebagai tuannya. Jadi aku berhak untuk mengambilnya, kau tahu?" ucap wanita itu dengan tersenyum sambil memegang liontin yang terpasang di leher Xiao Lan.
"Singkirkan tanganmu itu. Jika aku sudah mengklaim itu adalah milikku, maka itu akan menjadi milikku. Aku akan membuat liontin ini mengakui aku sebagai tuannya" ucap Xiao Lan dengan tegas.
Wanita itu tersenyum sinis mendengar jawaban dari Xiao Lan. Tak pernah ia sangka gadis di depannya itu dengan berani menantangnya secara tak langsung.
Ya iyalah, berani. Dia kan tokoh utama di cerita ini๐
"Heh, gadis kecil, berani juga ya kau menantang diriku? Aku suka gadis sepertimu. Tapi, aku sudah menginginkannya, bagaimana dong?" ucap wanita itu sambil mengapit dagu Xiao Lan.
Xiao Lan dengan kasar memalingkan wajahnya dan kembali menatap wanita itu dengan tatapan dingin. Dia menganggap wanita yang berada di depannya adalah ancaman baginya.
Karena terlalu fokus pada Xiao Lan, wanita itu tidak menyadari akan keberadaan pria yang bersama Xiao Lan. Dia tersadar dan melirik Pria itu dan mengernyitkan dahinya.
Pria itu juga mengernyitkan dahinya dan langsung menetralkan ekspresinya. Dia memalingkan wajah ke arah lain dengan cepat dan kembali menatap wanita itu, mengisyaratkan untuk pergi dari sini.
Wanita itu yang melihat kode yang diberikannya langsung merasa jengah dan menatap Xiao Lan kembali yang sepertinya bingung dengan perubahan ekspresinya yang tiba tiba.
"Haha, sampai jumpa. Jaga baik-baik liontin itu, atau aku akan mengambilnya darimu, gadis kecil" ucap wanita itu yang langsung saja menghilang.
Xiao Lan mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat, terkejut karena wanita itu tiba-tiba saja menghilang. Lalu, pandangannya teralihkan pada pria yang berada di belakangnya.
"Kenapa?" tanya Pria itu memalingkan wajahnya untuk tidak menatap Xiao Lan.
"..."
Xiao Lan terdiam selama beberapa saat sambil terus menatap pria itu dengan mata memicing dan membuat pria itu berkeringat dingin. Dia terus memalingkan wajahnya sambil bersiul.
Namun, Xiao Lan tidak mempedulikan hal itu dan mengibaskan tangannya. Yang terpenting baginya sekarang adalah liontinnya telah menjadi miliknya sekarang.
Pria itu menoleh ke arah pintu gua dan tidak melihat Xiao Lan karena dia telah keluar dari gua. Pria itu pun langsung bernafas lega dan langsung menghilang dari sana.
***
Di paviliun Yui Wei, di gazebo dengan berhiaskan tanaman merambat yang indah dan juga bunga yang menghiasi sekeliling, Yui Wei tengah menyeruput tehnya dengan ditemani beberapa kue.
"Angin sepoi-sepoi membuatku nyaman di sini. Hah, sudah berapa lama aku tidak bersantai seperti ini ya?" gumam Yui Wei yang membayangkan kehidupan modernnya.
Dulu Yui Wei tidak memiliki begitu banyak waktu senggang untuk bersantai seperti ini dikarenakan tugasnya sebagai pembunuh bayaran. Waktu untuk tidur pun cukup terbatas saat ada misi sulit.
Memang benar bisa memilih misi di papan misi, namun itu juga setiap 1 minggu sekali. Jika di hari biasanya mereka akan diberikan misi sesuai dengan kemampuan mereka dan partnernya.
Ngomong-ngomong soal partner, di kepalanya teringat seorang gadis yang sangat akrab dengannya dan dia adalah partner yang dipilih untuk berdampingan saat menjalankan tugas.
"Hua Lin"
Di telinganya terngiang-ngiang suara gadis itu bagaimana dia memanggil namanya dengan tersenyum manis dan menjulurkan tangannya untuk dirinya.
Mengingat momen yang dia habiskan bersama dengan Qiyue membuat hati Yui Wei terasa seperti diremas-remas. Yui Wei mencengkram dadanya. Dan tanpa sadar, air matanya mengalir dengan derasnya.
Yui Wei menatap kosong ke depan dengan air mata yang terus mengalir dan membuatnya pipinya yang mungil itu basah. Bajunya juga menjadi basah karena air matanya menetesinya.
Hua Hua yang telah kembali dari membawa kue yang Yui Wei minta untuk bawakan pun memiringkan kepalanya saat melihat ekspresi Yui Wei yang kosong.
Apalagi air mata menuruni wajahnya yang imut membuat Hua Hua langsung berlari menghampiri Yui Wei dan segera meletakkan kue yang berada di tangannya.
"Nona, kenapa anda menangis, nona?" ucap Hua Hua dengan panik sambil mengguncang-guncang badan Yui Wei yang membatu.
Yui Wei segera tersadar dan mengedipkan matanya berkali-kali. Dia merasa pipinya basah dan menyekanya dengan tangannya dengan pelan.
Hua Hua langsung mengambil sapu tangan dan menyeka air mata Yui Wei dengan lembut. Yui Wei segera berdiri saat Hua Hua telah selesai mengelap air matanya.
"N-nona, anda baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu pada nona? Katakan saja, siapa yang membuat nona menangis? Akan saya pastikan untuk menghajarnya!" ucap Hua Hua dengan menggulung lengan bajunya, sepeeti bersiap untuk bertarung dan dengan wajah serius.
Namun, bagi Zhang Yui Wei, apa yang dilakukan Hua Hua sangat lucu. Perutnya pun tergelitik dan membuatnya ingin tertawa, bahkan mukanya sampai memerah karenanya. Sampai akhirnya Zhang Yui Wei tidak bisa menahan tawanya dan langsung tertawa lepas.
"Pfftt, Hahahaha, Hua Hua, bagaimana kalau aku mengatakan yang membuatku menangis adalah kedua gege ku?" tanya Yui Wei yang tadinya tertawa sekejap berubah menjadi serius dan terlihat menakutkan.