
Lu Xiao Lan masih mengamati dari balik semak-semak. Intinya, mereka membutuhkan telur itu untuk menyembuhkan gurunya. Tapi, dia tidak bisa membiarkan hal itu. Jika tidak, ular itu pasti akan datang lagi, dan itu membuatnya malas untuk mengusirnya.
"Jadi, intinya kalian hanya ingin menyembuhkan guru kalian, kan? Itu mudah, aku bisa bantu." Lu Xiao Lan langsung keluar dari persembunyiannya dan menghampiri mereka berlima tanpa ragu sembari menampilkan senyum samar.
Kehadiran Lu Xiao Lan yang tidak diundang dan tiba-tiba membuat mereka menjadi waspada dan berniat untuk mengambil pedang mereka. Salah satu dari mereka menarik pedangnya dari sarungnya dan mengarahkannya pada Lu Xiao Lan, namun itu dapat ditangkap dengan mudah.
Dengan senyum penuh arti Lu Xiao Lan berkata dengan dua jari yang masih mengapit pedang, "Kenapa? Apa kau tidak percaya? Lagipula, aku membutuhkan telur itu. Ibunya sedang mencarinya, dan memintaku untuk mengembalikan telurnya dengan segera."
Lu Xiao Lan melonggarkan kedua jarinya dan gadis yang menghunuskan pedang ke arahnya segera menarik pedangnya dan menyarungkannya kembali. Dia menatap Lu Xiao Lan dengan intens.
'Gadis ini tidak disangka begitu kuat, bahkan bisa menghentikan pedangku hanya dengan dua jari saja. Sebuah kesalahan aku mencobai gadis ini.' batin gadis itu.
Lu Xiao Lan masih dengan wajah tersenyum-nya. Dia tahu kalau mereka akan menerima tawarannya setelah menyaksikan kejadian tadi. Hanya perlu beberapa detik untuk mereka mengatakan baiklah.
'Baiklah, mari kita hitung ... '
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Empat ...
Li ...
"Baiklah, aku terima tawaranmu! Tapi pastikan kalau kau memang benar-benar bisa menyembuhkan guru kami,"
Sungguh tepat. Di saat hampir hitungan kelima, mereka langsung menerima tawarannya. Lu Xiao Lan tersenyum samar dan berkata, "Baiklah, kalian sudah setuju. Jadi, aku akan datang pada kalian besok, karena hari ini aku sedang sibuk."
"Tentu, tapi telur ini akan kami bawa sebagai jaminannya. Jika saja kau tidak datang, kau akan tahu kan, akibatnya?" gadis itu bernegosiasi dengan Lu Xiao Lan.
Menarik! Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman yang sedikit mengerikan. "Mengancamku? Sungguh menarik. Tentu aku akan datang."
Setelah negosiasi itu, mereka berlima pergi dengan meninggalkan sebuah token untuk memudahkan Lu Xiao Lan masuk ke Sekte. Lu Xiao Lan memasukkan token itu ke ruang dimensi dan memutuskan untuk kembali.
Dia menatap ke arah langit, entah kenapa perasaannya hari ini tidak enak, seperti hal buruk akan terjadi. Lu Xiao Lan memegang dadanya dan menggenggam tangannya. Kekhawatiran yang tidak berdasar ini ....
Lu Xiao Lan melanjutkan jalannya hingga sampailah ke sebuah gubuk. Terkadang saat menatap gubuk itu, perasaannya sedikit miris. Tidak menyangka kalau akan tinggal di gubuk bobrok seperti ini, apalagi di sebuah hutan.
Kakinya melangkah hendak masuk, namun terhenti. Dia melihat ular yang tadi tengah menatapnya dan sesekali menjulurkan lidahnya.
"Di mana telurku? Bukankah kau bilang ingin mengambilnya kembali? Lalu di mana?!" desis ular itu sedikit kesal.
Lu Xiao Lan berjalan melewati ular itu dan berkata, "Kau ini tidak sabaran sekali. Aku akan mengambilnya besok, jadi tunggu saja!"
Si ular itu dengan enggan meninggalkan gubuk itu. Dia berharap kalau Lu Xiao Lan menepati perkataannya dan benar-benar akan mengambil telurnya. Jika tidak, lihat saja apa yang akan dia perbuat.
Lu Xiao Lan menghela nafas, sedikit kesal pada ular itu. Dia mencoba untuk bersabar dan menstabilkan emosinya. Yan Xiao Han yang melihat dirinya telah kembali segera mendudukkan tubuhnya dengan pelan dan bertanya.
***
Di kediaman Zhang, di Paviliun Bugenvil, tepatnya di kamar seorang gadis kecil dengan surai merah muda. Gadis itu tengah tiduran tengkurap dan memeluk bantalnya. Padahal, dia sudah mandi dan berganti pakaian, tapi malah tiduran.
Gadis itu terlihat murung. Terkadang menghela nafas, membuat Hua Hua, sang pelayan pribadi tidak tahu harus berbuat apa. Dia sendiri juga merasa Siyu Hua sedikit berlebihan. Mana mungkin nonanya mau menikah di usia muda? Dia tidak seperti itu.
"Nona, apa ada yang ingin anda lakukan saat ini?" Hua Hua memutuskan untuk bertanya, berharap Zhang Yui Wei memberi sedikit respon.
Zhang Yui Wei menoleh sebentar dan kemudian kembali ke posisinya yang semula, "Ada,"
Mendengar jawaban dari nonanya, Hua Hua sedikit merasa lega. "Apa itu, nona?"
" .... "
Zhang Yui Wei hening untuk sementara, seperti tengah berpikir. Namun sebenarnya dia hanya bengong saja, tidak ada yang dipikirkan. Di saat suasana yang hening ini, Zhang Yui Wei mendengar suara seseorang yang terdengar tidak asing.
Dia menoleh untuk melihat siapa itu, dan melihat arwah Zhang Yui Wei yang asli. Hua Lin langsung bangkit.
"Hua Hua, tolong tinggalkan aku sendiri dulu," Hua Lin meminta pada Hua Hua untuk pergi, dia ingin berbicara pada Zhang Yui Wei.
Pelayan itu merasa kalau nonanya memang butuh waktu untuk sendiri, jadi dia memilih untuk menurut. "Baiklah, nona."
Setelah Hua Hua pergi, Hua Lin menatap Zhang Yui Wei dengan bertanya-tanya. "Apa yang kau lakukan di sini, Wei?"
Zhang Yui Wei menatapnya dengan wajah yang sedikit cemberut, membuatnya tidak mengerti. "Ada apa?"
" .... "
Keheningan terjadi di antara mereka, sepertinya mood Zhang Yui Wei sedang tidak bagus. Namun, Hua Lin bukannya bisa bersabar juga saat menghadapi gadis kecil itu, dia tidak terbiasa dengan tingkahnya.
"Wei, aku bukan orang yang bisa bersabar untukmu, lho." ucap Hua Lin sembari tersenyum manis.
Zhang Yui Wei menghela nafas, memang tidak mudah untuk bersikap di hadapan Hua Lin. "Hah, Kakak, jangan memarahiku lagi. Mood-ku sedang tidak bagus. Aku sedikit kesal pada Nenek, bisa-bisanya dia memintaku untuk menikah? Suruh saja Kakak yang lain."
Mendengar Zhang Yui Wei yang mengeluh, Hua Lin hanya menatapnya, tidak tahu ingin bilang apa. Dirinya juga sedikit tidak nyaman atas permintaan Siyu Hua, juga sedikit risih. Bagaimanapun dirinya masih lajang di kehidupan sebelumnya.
"Yah, itu juga membuatku tidak nyaman. Apakah memang seperti ini, gadis kecil sepertimu sudah bisa menikah?" Hua Lin menyipitkan matanya, sedikit menatap remeh pada gadis kecil itu.
"Kakak, pandanganmu itu terlihat seperti sedang meremehkan aku." Zhang Yui Wei tersenyum tidak berdaya. Apakah dirinya begitu kecil di mata gadis dewasa itu?
"Pfftt,"
Zhang Yui Wei yang merasa ditertawakan—tersenyum kaku. Ya, dia akui dirinya memang masih kecil dan belum dewasa. Masih bersifat kekanak-kanakan. Tapi, di usianya memang telah diperbolehkan untuk menikah.
"Sudahlah, Wei. Lagi pula kenapa memangnya jika menikah?"