
Sebelumnya author minta maaf karena kemarin gk update ...
Happy reading ...
...----------------...
Lu Xiao Lan menatap kedua bocah kecil itu dengan mengernyitkan keningnya. "I-ini, apa yang sebenarnya terjadi? Aku ada di mana? Dan lagi, kenapa mereka tidak bisa melihatku?" gumam Lu Xiao Lan dengan segudang pertanyaan menghantui benaknya.
"Kakak, sudah, jangan kejar aku lagi. Aku capek." ucap bocah kecil yang berusia 4 tahun itu dengan nada terengah-engah sambil mengusap keringat yang ada di keningnya itu.
"Bukankah aku juga sudah bilang jangan berlari? Kau ini nakal sekali sih. Kenapa tidak menuruti aku?" ucap gadis berusia 7 tahun yang tampaknya kelelahan setelah berlarian.
"Jian Yue, Xian Yu, kenapa kalian berlarian sih? Bukankah Ibu sudah seringkali bilang untuk tidak berlarian seperti tadi? Jadi kelelahan, kan?" ucap seorang wanita kira-kira berusia seperempat abad datang menghampiri mereka.
Gadis berusia 7 tahun itu langsung saja memeluk kaki jenjang wanita yang notabenenya adalah Ibunya itu. Sedangkan gadis kecil yang berusia 4 tahun itu hanya diam saja melihat interaksi keduanya sambil menatap kosong.
"Jian Yue, ada apa? Apa kau tidak ingin memeluk Bibimu ini?" ucap wanita itu dengan senyuman lembut dan merentangkan tangannya untuk memeluk keduanya.
" ... "
Gadis berusia 4 tahun yang dipanggil Jian Yue itu tidak mengatakan apapun. Dia maju selangkah demi selangkah dengan keraguan yang menyelimuti dirinya.
Setelah berada tepat di hadapan wanita itu yang sekarang tengah berjongkok, Jian Yue menjulurkan tangannya ragu saat akan memeluk wanita di depannya itu.
Setelah Jian Yue memeluk wanita itu dengan Xian Yu yang berada di sampingnya—yang juga memeluk wanita itu dengan erat—membuatnya merasakan kehangatan. Senyuman kecil pun terbit di wajahnya.
Namun, seketika keraguan mulai menyelimuti dirinya lagi. Dia berpikir, ada apa dengan keraguan ini? Apakah aku pantas menerima kehangatan ini?
Dan di pikirannya terlintas seorang wanita yang kira-kira berusia 21 tahun dengan senyuman lembutnya yang membuatnya merasa hangat. Warna rambutnya yang berwarna biru muda dan matanya yang berwarna hijau, membuatnya terlihat mempesona.
Walaupun Jian Yue tidak tahu siapa wanita itu. Wanita itu entah kenapa terus muncul di pikirannya, bahkan tak jarang selalu menemui dirinya di dalam mimpi.
Namun, wanita itu tidak pernah mengatakan apapun dan terus menatap Jian Yue dengan penuh kesedihan dan setelahnya langsung pergi tanpa mengatakan sepatah katapun sebelum dirinya pergi.
Tunggu, tapi kalau diingat-ingat lagi, Jian Yue ingat kalau wanita itu pernah mengatakan sesuatu.
"Jian'er, hiduplah dengan bahagia. Kuharap kau tidak akan pernah menemuiku." wanita itu mengatakannya sambil air mata membasahi pipinya dan membuat Jian Yue merasa sesak dan air mata pun juga membasahi pipinya yang gembul.
Jian Yue sungguh tidak pernah bisa melupakan saat dimana wanita itu bersedih dan menangis di hadapannya. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa dirinya menjadi seperti itu sejak wanita itu muncul.
"Jian Yue, ada apa? Kenapa kau melamun begitu?" ucap wanita yang dipanggilnya Bibi itu saat sadar kalau Jian Yue telah melepaskan pelukannya sambil melamun.
"Tidak apa-apa, Bibi." jawab Jian Yue dengan senyuman manis yang palsu. Tentu saja yang dia katakan itu bohong, dia tidak baik-baik saja ...
Ctak
"Ada apa ini? Kenapa semua orang panik begitu?" Lu Xiao Lan saat itu melihat para pelayan dengan cepat berjalan menuju sebuah kamar lalu keluar lagi dan masuk lagi.
Kamar itu merupakan pusat dari kericuhan yang terjadi di sini. Lu Xiao Lan yang penasaran memutuskan untuk melihat apa yang sedang terjadi di kamar itu.
Saat dirinya telah berada di dalam kamar itu, dia melihat semua orang panik sambil melihat ke arah Jian Yue yang kini tatapannya kosong. Dan sekarang Jian Yue juga terlihat lebih besar dari sebelumnya, kira-kira sekarang usianya 6 tahun.
Dengan gadis kecil yang kira-kira berusia 9 tahun menggenggam erat tangan mungil Jian Yue sambil memasang ekspresi khawatir. Dia adalah Xian Yu yang kini tengah meringis seperti merasakan sakit yang kini tengah dirasakan oleh Jian Yue.
"Bertahanlah, Jian Yue. Sebentar lagi tabib pasti datang." ucap Xian Yu dengan nada gemetar mencoba untuk menguatkan Jian Yue yang mengerutkan kening karena menahan rasa sakit yang dia rasakan di matanya.
Walaupun Xian Yu takut, tapi dia tidak bisa menunjukkannya di hadapan adik kecilnya itu. Dia harus bersikap kuat agar adiknya tidak ketakutan. Tapi tangannya yang gemetaran sambil mengeratkan pegangannya pada tangan Jian Yue tidak bisa membohongi.
Jian Yue tahu kalau Kakak ya itu mungkin lebih takut darinya. Tapi sebisa mungkin dia memasang sebuah senyuman yang terlihat dipaksakan.
"Aku ... baik-baik saja, Kak. Tolong jangan khawatirkan aku ..." ucap Jian Yue sambil terus menahan rasa panas di matanya.
Tiba-tiba saja Jian Yue pingsan. Wanita yang dipanggil sebagai Bibi itu langsung saja dengan sigap menangkap tubuh mungil Jian Yue yang kini kehilangan kesadarannya.
"Jian Yue, Jian Yue?! Di mana tabib?! Kenapa belum tiba juga?!" teriak Wanita itu dengan frustasi dan panik karena tiba-tiba saja Jian Yue pingsan.
"Tenanglah, Jiu Li, aku yang akan mengurus cicit-ku sendiri, bukan tabib!" ucap seorang pria tua yang kira-kira usianya 70 tahun yang tiba-tiba muncul dengan tegas.
Aura mendominasi yang dimilikinya membuat siapa saja yang merasakannya menjadi sesak. Wanita yang dipanggil Jiu Li itu langsung menoleh dan terkejut.
"Kakek ... apa yang kakek lakukan di sini?" tanya Jiu Li yang terkejut dan memeluk erat tubuh mungil Jian Yue dengan erat.
Pasalnya, entah mengapa orang tua itu begitu tidak suka kepada Jian Yue. Jiu Li sendiri tidak tahu alasan mengapa kakeknya itu tidak menyukai Jian Yue.
"Jangan terlalu khawatir, aku tidak mungkin akan melakukan hal yang membuatnya terluka" ucap pria tua itu dengan wajah datar.
Jiu Li terkejut, namun saat ini yang paling terpenting adalah Jian Yue. Akhirnya pelukannya pun melonggar. Dengan perlahan dia membaringkan Jian Yue yang kini kondisinya lemah.
"Anak yang bernama Jian Yue ini begitu aneh. Bagaimana bisa tiba-tiba dia menjadi seperti ini tanpa ada penyebab yang jelas? Bahkan aku tidak merasakan adanya racun." ucap Lu Xiao Lan yang sedari tadi diam dan hanya memperhatikan.
Tapi tentu saja tidak ada yang menyadari kehadirannya, karena dia kan arwah. Koreksi, jiwa maksudnya. Kalo arwah berarti arwah penasaran dong? Kan belum mati.
Pria tua itu pun mendekat dan memeriksa nadi Jian Yue, dan denyut nadinya sangat kacau. Lalu dia memeriksa nafasnya, dan nafasnya pun tidak teratur, seperti sedang berlari karena dikejar oleh monster. Lalu, saat memeriksa matanya, pria itu terkejut.
"Ini ..."
...🌾🌾🌾...