
Sorry bgt author baru update, jadwalnya lagi kacau nih π~π
Happy reading
***
Lu Xiao Lan menunggu lanjutan dari perkataan pria tua itu. Jujur saja, dia itu sangat penasaran. Dia dengan wajah serius menunggu lanjutan ucapan pria tua itu. Namun, saat pria tua itu mengatakan sesuatu, Lu Xiao Lan tidak bisa mendengar apapun.
Ctak
Suasana di sana kemudian berubah menjadi sunyi. Bahkan hanya ada kegelapan yang mengisi. Lu Xiao Lan membuka matanya dan dia tidak bisa melihat apa-apa. Dia ragu kalau saat ini matanya tengah terbuka.
Kemudian, seorang gadis yang familier dan baru dia temui(?) berada di depannya. Jarak di antara mereka cukup jauh, tapi Lu Xiao Lan bisa tahu siapa gadis itu. Ya, dia adalah Jian Yue.
"Kau, bukankah ..."
Lu Xiao Lan ingin menggapai gadis kecil itu, namun seolah ada sebuah tembok yang memisahkan mereka berdua. Dia tidak bisa menggapai gadis kecil itu ...
"Kakak, pergilah ... Aku akan baik-baik saja." ucap Jian Yue tersenyum lemah.
Kemudian, gadis kecil itu berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan Lu Xiao Lan yang kini tengah bingung. Apa yang baru saja dia katakan?
"Tunggu, kenapa kau begitu? Apa yang kau katakan? Siapa yang kau panggil Kakak? Kenapa kau pergi? Setidaknya katakan sesuatu!" ucap Lu Xiao Lan dengan frustasi.
***
Di sebuah kamar yang cukup luas dan cukup mewah dan elegan, terlihat seorang gadis yang kira-kira berusia 18 tahun dengan surai berwarna hitam legam dan matanya yang juga berwarna hitam sehitam malam perlahan membuka matanya.
Saat kesadarannya telah sepenuhnya kembali, Lu Xiao Lan langsung terkejut dan segera bangkit dari alam kubur, wkwkwk, nggak lah, bangkit dari tidur maksudnya 🙃
"Hah hah hah"
Nafas Lu Xiao Lan yang memburu dan keringat yang membasahi keningnya. Dia menoleh ke sekitar dan mendapatinya berada di kamarnya yang ada di ruang dimensi.
"Ini ... aku kembali? Itu tadi apa?" tanya Lu Xiao Lan dengan nada yang gemetar.
Lu Xiao Lan menjatuhkan pandangannya ke bawah dan melihat kalau tangan kanannya gemetar. Tangan kirinya berusaha menahan tangan kanannya, namun tangan kirinya juga ikut gemetar.
Lu Xiao Lan menempelkan tangannya pada dada kirinya untuk merasakan detak jantungnya. Dan yang sekarang dia rasakan adalah jantungnya berpacu dengan kencang seperti atlet yang habis lari maraton.
Dia pun memilih untuk keluar dari kamarnya dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian latihan. Rambutnya yang juga di-kuncir kuda kini telah membuatnya terlihat tangguh namun cantik.
"Baiklah, sekarang waktunya aku untuk latihan. Aku ingin mencoba untuk bertarung dengan boneka kayu itu."
***
Seorang gadis kecil dengan mata berwarna magenta dan surai berwarna merah muda tengah berlari kecil sambil melompat-lompat. Setelah puas berjalan-jalan di pasar, dia memutuskan untuk kembali.
Ya, walaupun dirinya tidak terlalu siap untuk menerima hukuman, tapi tetap saja dirinya harus menerima konsekuensinya. Dan gadis itu siapa lagi kalau bukan Zhang Yui Wei.
Dengan Hua Hua yang berjalan di belakangnya. Dia terus memandangi gelang giok yang terpasang di tangan mungilnya. Sempat sesekali dirinya hampir terjatuh, dan untung saja Hua Hua dengan sigap menangkap pergelangan tangannya sehingga tidak jatuh.
"Nona, jangan lihat gelang giok itu terus. Nanti kalau nona jatuh bagaimana? Saya kan tidak selalu sigap seperti itu. Lagi pula, senyum nona itu mengerikan ..." ucap Hua Hua dengan nada lelah menghadapi kenyataan hidup, wkwkwk ...
Zhang Yui Wei menghela nafas dan menuruti perkataan Hua Hua. "Ya ya ya, memang Hua Hua yang perhatian."
Hua Hua menggelengkan kepalanya dan menghela nafas tipis. Tak terasa berjalan sedikit jauh akhirnya mereka telah sampai di kediaman Zhang, atau lebih tepatnya di tembok yang mereka lalui tadi.
"Nona, apa sungguh-sungguh kita akan memanjat tembok ini lagi?" tanya Hua Hua yang kini tengah menatap ke atas dengan ragu, berharap nonanya sedang bercanda.
"Tentu saja iya! Jangan takut, Hua Hua. Bukankah kita tadi lewat sini? Ayo, kalau kau jatuh nanti paling juga cuma patah tulang kok." ucap Zhang Yui Wei tanpa dosa.
Wkwkwk, dasar, cuman patah tulang lu bilang?!
Zhang Yui Wei tanpa menunggu lagi langsung menarik tali tambang, memastikan kalau tali tambangnya kuat. Setelah memastikannya, Zhang Yui Wei langsung memanjat tembok sedikit berlari.
Kayaknya jadi ninja cocok deh ...
Setelah Zhang Yui Wei sampai di puncak tembok, dia menjatuhkan pandangannya ke bawah dan menatap Hua Hua dengan wajah tersenyum dan membuat siapa saja terpesona. Bahkan Hua Hua sampai mimisan.
"Hei, Hua Hua! Ayo, cepat naik!" ucap Zhang Yui Wei sedikit berteriak supaya Hua Hua dapat mendengar suaranya dan supaya dirinya tidak ketahuan.
Hua Hua pun memberanikan diri untuk memanjat ke atas. Walaupun sesekali berhenti dan menatap ke bawah itu membuatnya takut, tapi akhirnya dia sampai juga di ujung tembok.
Setelah Hua Hua berhasil menyusul Zhang Yui Wei, dia memberikan dua jempolnya sambil tersenyum. Setelah itu, dia memilih untuk turun duluan. Supaya jika Hua Hua jatuh, dia bisa menangkapnya.
Hadeuh, yang ada tulangmu remuk lah, ini bukan adegan romance "-_-
Setelah kakinya menapak di tanah, Zhang Yui Wei mendongak ke atas dan ingin mengatakan kepada Hua Hua untuk segera turun. Namun, sebuah suara menghentikannya.
"Kau darimana, Zhang Yui Wei?" tanya suara pria itu dengan mengintimidasi.
Zhang Yui Wei seketika menegang dan menoleh ke belakang dengan takut-takut. Di belakangnya terdapat seorang pria tampan dengan surai coklat dan matanya yang berwarna coklat tengah menatapnya dengan wajah serius.
"Oh, gege ..." panggil Zhang Yui Wei dengan wajah tersenyum tanpa dosa.
"Darimana saja kau? Aku sudah sangat khawatir, kau tahu?! Kau pergi tanpa bilang-bilang!" ucap pria yang dipanggilnya gege itu dengan nada semakin meninggi.
"Kenapa? Aku kan hanya jalan-jalan saja. Untuk apa kau begitu khawatir, sih? Lagipula aku juga tidak mungkin hilang ..." gumamnya dengan wajah menunduk dan sedikit mengumpat.
"Apa kau sedang berusaha membantah? Bagaimana bisa kau begitu? Padahal dulunya kau itu sangat imut, huhu, adikku yang lama telah hilang." ucap Pria itu tiba-tiba berubah menjadi dramatis.
Manusia aneh yang berada di depanku ini adalah gege-ku. Seperti yang kalian lihat, gege-ku ini sangatlah dramatis. Tapi disaat-saat tertentu, dia bisa menjadi serius dan itu membuatnya menjadi terlihat tampan. Ya, aku akui itu. Namanya adalah Zhang Ji Xiao. ~Zhang Yui Wei
"Sudahlah gege, jangan tunjukkan ekspresi menyebalkanmu itu lagi." ucap Zhang Yui Wei dengan wajah jengah.
"Huhuhu, lihatlah, sekarang dia bahkan berani berkata begitu pada kakaknya." ucap Zhang Ji Xiao lagi.
"Anu, nona, tuan muda, bisakah tolong aku sebentar?" ucap Hua Hua dengan ragu, takut mengganggu pertengkaran mereka.
Ekspresi ketiganya saat ini : 0.0