
Episode sebelumnya .....
Lu Xiao Lan memutuskan untuk keluar lagi dengan membawa pot tanaman rumput merah. Ia meletakkan pot itu di meja kecil yang berada di dalam kamarnya.
Yah, sayang sekali bunga cantiknya layu dan kini tengah diurus oleh bocah penjaga itu. Semoga saya tidak terjadi apa-apa pada bunga cantiknya itu.
“Apakah aku harus tidur lagi? Ini masih cukup pagi.” gumamnya.
Jika di kehidupan sebelumnya, ia akan bangun lebih awal tentu saja. Apalagi gelarnya sebagai Queen Mafia. Tentu banyak hal yang harus ia kerjakan, itu adalah tanggungannya. Bahkan ia pernah terjaga selama beberapa hari di hutan yang cukup berbahaya karena banyaknya binatang buas yang langka dan mematikan. Lengah sedikit saja, mungkin ia akan menjadi bangkai.
Apalagi musuh yang terkadang mengincarnya. Tentu kewaspadaannya sangat ekstra. Itu adalah penderitaan yang sebenarnya masih belum seberapa. Hanya di sini ia bisa hidup dengan tenang walaupun sempat terancam oleh pembunuh bayaran.
Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana kabar saudara kembarnya, Lin Shu?
***
Lin Shu, apa kalian mengingat tentang gadis itu? Saudara kembar dari salah satu tokoh utama kita. Yah, dia sudah dijelaskan di chapter awal. Mungkin kalian bisa melihatnya kembali.
Apa yang membuat hubungan mereka jadi begitu? Entahlah, author juga belum nanya sama mereka.
Yah, daripada memikirkan itu, lebih baik kita kembali pada Lu Xiao Lan. Ia kini tengah berada di dalam kereta kuda. Dengan mengenakan pakaian pria yang pasti membuat orang merasa aneh. Namun, sebenarnya ini juga bisa untuk perempuan. Tapi yah, memangnya ada perempuan yang mau mengenakan pakaian pria? Tentu saja ada! Contohnya, Lu Xiao Lan. Benar 'kan?
Sesampainya di Alchemy Guild, kereta yang ditumpanginya pun berhenti. Lu Xiao Lan segera turun—tentu sendiri tanpa dibantu. Ingat, tidak ada scene romance yang akan terjadi saat ini.
Ia menyerahkan kantong berisi koin perak. Lu Xiao Lan sedikit menggerutu karena biaya untuk perjalanan ini saja hampir seratus koin perak. Huh, namun cukup ia akui, perjalanan cukup nyaman, keretanya bersih, dan sedikit mewah. Walaupun ia masih punya uang, tapi sedikit disayangkan.
“Huh, paman, lain kali berikan bonus untukku dong.” gerutu gadis itu sambil berjalan untuk masuk ke dalam Guild.
“Dasar bocah nakal, ini juga sudah murah! Huh!”
Teriakan itu membuat Lu Xiao Lan sedikit tersentak dan menghentikan langkahnya. Ia kemudian memandangi pria tua yang menjadi kusir—pergi dengan menggerutu. Sebenarnya juga tidak terlalu tua untuk disebut tua. Tapi tunggu, bocah?
Padahal usianya sudah 18 tahun. Tapi bisa-bisanya dipanggil bocah?! Yang benar saja! Yah, apakah tidak kentara? Mungkin karena fisiknya yang kurang menonjol. Apalagi di usia segini ia masih jomblo. Eh, ralat, single.
Sepertinya pikirannya jadi kacau gara-gara paman itu. Yah, tidak perlu mengurusnya lagi. Lu Xiao Lan masuk ke dalam Guild yang cukup ramai di dalam balai pengobatan. Di dalam Guild ada balai pengobatan untuk masyarakat. Tentu dipisah untuk rakyat biasa dan bangsawan, dan itu membuatnya sedikit geram. Kenapa memangnya jika dijadikan satu?
Ngomong-ngomong, apakah ada yang ia lewatkan? Kenapa ada banyak pasien di sini?
“Hoho, Nona, kau datang juga.” ucap ketua menyambutnya.
“Iya, aku datang tentu saja. Tapi, ini ramai sekali?”
Ketua menoleh ke sekitarnya, dan memang pasien di sini lebih banyak ketimbang biasanya. Kemudian, ia kembali menatap Lu Xiao Lan.
“Entahlah, aku juga tidak tahu.” jawabnya.
Namun, selama beberapa menit berlalu, ia mengernyit. Kenapa sedari tadi pasien tidak ada yang menghampirinya? Mereka cenderung memilih untuk pergi ke tabib lain yang tengah merawat pasien. Yah, apakah mereka belum mengenalnya sebagai anggota Guild yang baru? Mungkin, karena saat pelantikan, hanya sedikit orang yang melihat.
Tapi tetap saja ini terasa menyebalkan. Ini seperti mereka tidak menganggap dirinya.
Lu Xiao Lan mengendus bau obat yang tengah diracik. Aromanya sangat khas dan wangi. Kemudian, ia menoleh ke sisi lain dan mendapati seorang gadis tengah meracik sebuah pil di tungku. Ia menyipitkan matanya saat melihat tungku yang digunakan oleh gadis itu. Ia berani menebak kalau itu adalah tungku kualitas menengah. Dan ia juga menebak kalau gadis itu masih dalam tahap percobaan.
“Hah~ ini sudah kesekian kalinya aku gagal.” gumam gadis itu lesu. “AAKKH!! Kenapa gagal, sih? Padahal aku sudah melakukannya sesuai dengan yang di buku!”
Lu Xiao Lan hanya tersenyum dan mendekat pada gadis itu. “Jangan terlalu terpaku pada buku. Seorang peracik tentu harus pintar dalam mengombinasikan bahan-bahan yang akan diolahnya menjadi obat. Apa kau benar-benar ingin menjadi seorang peracik?”
Gadis itu langsung menoleh pada Lu Xiao Lan. Ia merasa kesal karena percobaannya gagal, padahal ia kira akan seperti di novel-novel—sekali coba langsung berhasil. Dan lagi, gadis ini entah dari mana mengatakan hal yang membuatnya semakin kesal.
Gadis itu dengan wajah kesal berusaha untuk berdiri. Ia merapikan pakaiannya yang tertekuk lalu menatap Lu Xiao Lan dengan tidak senang.
“Memangnya kau siapa? Tahu apa kau soal peracik? Jangan sok mengajariku, memangnya kau bisa?” ucap gadis itu sedikit angkuh.
🙂💢
Entah mengapa Lu Xiao Lan merasa kesal. Namun, ia harus menahan diri pada bocah kecil yang masih labil ini. Harus tenang, lagi pula ia juga sudah dewasa.
“Tahu apa? Karena aku seorang peracik.” ucap Lu Xiao Lan sambil tersenyum menyebalkan.
Gadis itu menatapnya dengan dahi berkerut dan menggertakkan giginya.
“Benarkah? Kalau begitu buktikan.” tantangnya. Sepertinya dia tidak percaya padanya.
Yah, bagaimana bisa percaya pada orang asing yang tiba-tiba datang dan mengatakan kalau dirinya adalah seorang peracik? Semua orang juga bisa begitu, bahkan anak kecil juga.
Sekarang fokus semua orang teralihkan pada keduanya. Mereka berpikir mungkin ini akan seru untuk ditonton. Yah, memang selalu begitu bukan?
Lu Xiao Lan tersenyum dan duduk di samping tungku dan mengambil bahan yang ingin dia gunakan untuk membuat pil-nya.
“Perhatikan.”
Gadis itu memperhatikan Lu Xiao Lan dengan sangat teliti, bahkan gerakan-gerakan kecil yang dilakukan juga ia lihat dengan lekat-lekat. Ia mengernyit saat melihat tanaman herbal yang diambil oleh Lu Xiao Lan.
“Mengapa kau mengambil rumput harapan? Itu tidak ada di dalam resepnya sama sekali. Jangan-jangan, kau tidak tahu resepnya?”
Semua orang mulai membicarakan Lu Xiao Lan. Tentu saja banyak yang mengejeknya, padahal mereka sendiri juga tidak tahu apa-apa.
...🌾🌾🌾...