Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 034. Mungkin ...



"Kau saja yang selaku datang seperti itu. Untunglah aku segera mengenali dirimu, jadi lengan-mu terselamatkan." ucap Zhang Jiu Zhi enteng.


Pria itu mendengus, sudah cukup bosan dengan jawab itu. Tidak adakah jawaban lainnya? Dia sendiri memang sering muncul dengan cara seperti itu, tak jarang membuat Zhang Jiu Zhi kesal.


"Ada apa menemuiku, Tuan Muda Yang?" tanya Zhang Jiu Zhi sedikit tidak ramah.


"Ayolah, aku hanya ingin berkunjung. Tidak bolehkah bertemu denganmu?" ucap Pria itu sambil merangkul Zhang Jiu Zhi, namun segera ditepis olehnya.


"Berkunjung apaan? Kita sudah cukup sering bertemu di sekte, lagi pula tempat tinggal di sekte juga tidak terlalu berjauhan."


Pria itu tersenyum tak berdaya. Dia mengalihkan topik pembicaraan, "Oh iya, kulihat kau tadi sedang melihat seorang gadis. Siapa dia? Aku belum pernah bertemu dengannya di sini. Kekasihmu?"


Pria itu sepertinya telah berada di dekat Zhang Jiu Zhi, namun dia tidak menyadarinya karena terlalu fokus pada Adiknya. Pria itu tidak melihat wajah gadis itu dengan jelas, namun dia bisa menebak usianya 15 tahun kurang.


Zhang Jiu Zhi segera memukul kepala Pria itu, namun tidak terlalu keras. Yang Jia Jun, Pria itu meringis sambil mengusap kepalanya. Apa? Apakah dirinya salah.


"Sembarangan! Dia itu Adikku!" ucap Zhang Jiu Zhi tidak senang. Bisa-bisanya Yang Jia Jun mengira kalau Adiknya adalah kekasihnya? Konyol!


0.0


Pria itu sedikit terkejut. Adik? Dia tidak tahu kalau Zhang Jiu Zhi punya adik. "Benarkah? Aku tidak tahu kalau kau punya adik. Apalagi gadis secantik dia," ucap Yang Jia Jun sedikit menggoda.


"Awas saja, berani menggoda Adikku, Yang Jia Jun." ucap Zhang Jiu Zhi dengan nada penuh penekanan.


"Hahaha tentu." ucap Yang Jia Jun sambil tersenyum. 'Mungkin,' batinnya sambil tersenyum penuh arti.


***


Mentari kini mulai menampakkan dirinya, menandakan malam telah berganti pagi. Di hutan kematian, seorang gadis dengan surai coklat tengah berlari mengitari hutan, tak jauh dari sebuah gubuk.


Gadis itu menyeka keringatnya yang membuat tubuhnya basah. Sepertinya hari ini cukup. Lu Xiao Lan menatap ke sekitarnya, hari masih pagi dan hutan masih terlihat sedikit seram seperti saat malam hari karena cahaya matahari yang terhalang oleh pepohonan rindang.


Yan Xiao Han telah bangun dan mendudukkan tubuhnya. Dia menatap ke luar gubuk dan melihat Lu Xiao Lan. Dia menatap aneh, seorang Tuan Putri bangun pagi-pagi seperti ini?


Lu Xiao Lan membungkuk sambil memegangi lututnya, dia menyeka keringat dengan punggung tangannya sambil mengatur nafasnya. Tubuhnya masih terlalu lemah, hanya berlari puluhan kilometer saja rasanya seperti tidak berada di tubuhnya lagi.


"Tubuh ini masih lemah, tapi aku harus melatihnya setiap hari. Lagipula, ... " —menatap ke arah langit— " ... perasaanku tidak enak."


Lu Xiao Lan masuk ke dalam gubuk dan minum untuk mencegah dehidrasi. Tubuhnya juga lumayan rentan.


Yan Xiao Han masih menatapnya. Dia masih penasaran dengan Lu Xiao Lan yang notabenenya adalah seorang Tuan Putri hidup dan tinggal di sebuah hutan, apalagi hutan kematian. Untunglah ini adalah hutan kematian yang paling awal, jadi tidak terlalu berbahaya. Namun, itu tidak menjamin kalau tidak akan ada bahaya.


"Akh!"


Suara Yan Xiao Han yang berteriak membuat Lu Xiao Lan menoleh. Dia melihat sebuah ular yang berukuran sedikit besar tengah mendesis ke arah Yan Xiao Han.


Kini wajah Yan Xiao Han telah pucat. Dia meraih benda di sekitarnya lalu memukulnya ke udara. Matanya terpejam dan berusaha memukul ular itu supaya pergi menjauh, namun karena tidak bisa melihat, dia hanya memukul udara.


Ular itu perlahan tenang dan mendesis ke arah Lu Xiao Lan, namun tidak berniat untuk menggigit. Ular itu sekarang terlihat jinak setelah Lu Xiao Lan mengucapkan sesuatu.


"Tenanglah, ular manis. Apa yang membuatmu begitu marah? Aku akan menolong-mu." ucap Lu Xiao Lan lirih.


Pembicaraan mereka terlihat seperti privasi karena terlihat Lu Xiao Lan berbicara lirih.


"Manusia, apa kau yang telah mengambil telurku? Sungguh berani!" ucap ular itu sedikit marah dari nadanya.


Lu Xiao Lan memiringkan kepalanya, dia tidak tahu menahu mengenai telur ular. Lagi pula dia tidak pernah mengambil telur ular untuk dimakan.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Aku tidak pernah mencuri telur-mu. Mungkin ini salah paham."


Ular itu terdiam sambil sesekali menjulurkan lidahnya. Karena sarangnya berada tak jauh dari sini, ular itu berpikir Lu Xiao Lan yang mencurinya karena melihat sebuah gubuk.


Ular itu memutuskan untuk bertelur di sini karena wilayahnya cukup bagus dan juga hewan di sini tidak terlalu kuat, jadi bisa melindungi anaknya setidaknya sampai menetas dan kembali.


Namun, ada yang mencuri telurnya, membuatnya begitu marah.


"Baiklah, mungkin aku bisa membantumu mencarinya." ucap Lu Xiao Lan sambil tersenyum.


Ular itu langsung pergi karena Lu Xiao Lan telah berjanji. Sekarang, Lu Xiao Lan hendak keluar untuk mencari orang yang telah mencuri telur.


Yan Xiao Han hanya menatap Lu Xiao Lan yang pergi begitu saja. Dia bahkan tidak mengatakan apapun. Sejujurnya, Yan Xiao Han penasaran dengan apa yang dibicarakan Lu Xiao Lan dengan si ular, namun sebelum sempat bertanya gadis itu sudah pergi.


"Hah, aku masih penasaran," gumamnya sambil menghela nafas.


Yan Xiao Han memilih untuk berbaring dan beristirahat supaya lukanya lebih cepat sembuh, dia tidak suka begini. Dan lagi, dia juga tidak suka merepotkan orang lain, apalagi jika seorang gadis. Itu melukai harga dirinya.


Sementara Lu Xiao Lan kini tengah berjalan dengan sedikit malas. Dia mencari orang yang berada di hutan kematian, dan mungkin jika orang itulah yang mencurinya. Namun, dia belum menemukannya. Hutan ini begitu sunyi ...


"Susah sekali mencari mereka. Sungguh malas, tapi aku harus melakukannya supaya ular itu tidak mengganggu lagi." Lu Xiao Lan menghela nafas sambil terus mencari.


Telinganya menangkap suara beberapa orang yang tengah berbincang, namun tidak terlalu keras. Dia berjalan mendekati suara itu dan melihat ada beberapa orang yang tengah sedikit berdebat(?), salah satu dari mereka membawa sebuah telur.


Lu Xiao Lan mengernyit, apakah itu adalah telur dari si ular? Dia memilih untuk mengamati terlebih dulu sebelum mengambil tindakan.


"Kakak seperguruan, apakah tidak apa-apa jika kita mengambil telurnya?"


"Kita tidak punya pilihan lain, guru harus bisa diselamatkan! Hanya dengan telur ini kita bisa menyelamatkan guru,"


"Jadi intinya kalian hanya perlu untuk menyelamatkan guru kalian, bukan?"


🌾🌾🌾