Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 051. Kabur, Tapi Untuk Apa?



Episode sebelumnya ....


Ibunya masih menatap ke arah Xin'er pergi. Saat yakin bocah itu sudah pergi, wanita itu kemudian menatap suaminya dengan wajah lesu dan menghela nafas.


Pria itu menghampiri istrinya dan memegang bahu istrinya, “Ada apa?”


Wanita itu memegangi tangan suaminya dengan erat, seolah ini adalah terakhir kali mereka bertemu. Dia menatap nanar pada suaminya dan menunduk.


“Ada surat dari Kaisar. Sepertinya beliau ingin kau pergi ke perbatasan. Tapi .... ” ucapnya lirih.


Pria itu menghela nafasnya, surat Kaisar kini telah tiba. Entah apa yang akan Kaisar perintahkan, namun melihat ekspresi istrinya yang terlihat cemas, ia juga merasa demikian.


Pria itu menepuk pelan bahu istrinya, “Aku akan bicara pada Kaisar supaya menugaskan orang lain. Tapi, jika beliau tidak menyetujuinya—”


Wanita itu langsung menurunkan tangan suaminya dan menggenggamnya dengan erat. Pria itu merasakan sedikit dingin saat ada air yang menetes di tangannya. Istrinya menunduk sambil terisak. Dia menangis.


***


“Tapi, Kaisar telah banyak membantu kita. Apalagi Ratu Xia. Bagaimana mungkin mengajukan hal itu? Biarpun Kaisar mengizinkan, tetap saja aku merasa tidak enak. Apalagi setelah kejadian itu .... kerabat memilih untuk menjauh dan membuang kita. Bagaimana bisa kita tidak tahu balas budi?”


Pria itu terdiam. Apa yang dikatakan oleh istrinya ada benarnya juga. Lagi-lagi ia menghela nafas, dan menggenggam tangan kecil istrinya.


Wanita itu menatap nanar, “Berjanjilah padaku, kau akan kembali. Kau pasti akan kembali, 'kan?”


Pria itu tersenyum tipis, lalu memeluk istrinya. Dia mengusap lembut pucuk kepala wanita itu.


Xin'er sedari yang sedari tadi mengintip—terdiam saat menguping percakapan kedua orang tuanya. Ia tahu ini sangat tidak sopan, menguping pembicaraan orang lain. Tapi, jika saja ia tidak melakukannya, ia pasti tidak akan tahu.


Ayahnya akan pergi.


Xin'er mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku tangannya memutih. Ayahnya akan pergi ke perbatasan, tempat yang sangat berbahaya. Selain ada musuh, juga penduduk di perbatasan cukup membahayakan.


Walaupun mereka masih penduduk Kekaisaran Lu, namun mereka bisa melakukan apapun untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Biarpun itu juga berarti memakan manusia.


Bisa dibilang, mereka kanibal.


Perbatasan seringkali menjadi tempat medan perang. Banyak orang tak bersalah mati karenanya. Perbatasan adalah daerah yang kurang terurus dan jarang mendapat perhatian dari Kaisar. Tentu dapat membuat penduduknya menjadi perampok dan bandit. Sama gak sih?


“Ayah .... ”


***


Di istana kekaisaran, Ayah Xin'er yang menjabat sebagai seorang jendral menghadap Kaisar Lu dengan berlutut, pandangannya masih tertuju pada tanah tempatnya berpijak saat ini.


Suara serak Kaisar berdengung di telinga sang Jenderal. “Kenapa kau malah datang? Bukankah di surat tertera jelas kalau aku menyuruhmu untuk tinggal saja? Temanilah istri dan putrimu, biar aku yang maju ke medan perang.”


Sang Jenderal langsung mendongak untuk menatap Kaisar Lu dengan ekspresi yang serius. “Yang Mulia, saya tidak bisa membiarkan anda untuk maju ke garis depan. Anda adalah seorang Kaisar, tentu anda hanya harus duduk dan memberi perintah pada kami. Biar saya—”


Kaisar langsung memotong ucapan Ayah Xin'er. “Zhen, aku tahu kau ingin mengabdikan dirimu padaku. Namun, kau tidak bisa meninggalkan istri dan anakmu. Kau bertanggungjawab atas mereka. Lagi pula, jikapun aku mati, ada Xia yang akan menggantikan aku.”


Ayah Xin'er hanya terdiam. Namun, dia masih tetap berpegang teguh dengan keinginannya. “Yang Mulia, biarkan hamba untuk menemani anda. Hamba tidak bisa membiarkan Kaisar pergi,”


Kaisar menghela nafas, “Baiklah, kau bisa pergi menemaniku. Namun, berjanjilah satu hal. Teruslah hidup. Bukan untukku, tapi untuk keluarga yang menantimu.”


***


“Apakah aku perlu membangunkannya?”


Itu adalah suara Ibunya. Terdengar samar. Ayahnya menolak untuk membangunkannya dan membuka pintu perlahan supaya tidak membangunkan Xin'er. Perlahan dia melangkah menuju Xin'er dan membelai pipi mungilnya.


“Xin'er, Ayah akan berangkat.”


Ayahnya mengecup kening Xin'er lalu pergi. Saat tidak ada orang di kamarnya, Xin'er segera membuka matanya. Dia mendudukkan dirinya dan menatap pintu kamarnya. Dia memeluk erat selimutnya.


Air mata mulai membasahi pipinya yang gembul. Xin'er memeluk lututnya dan menangis dalam diam.


“Ayah .... semoga baik-baik saja,”


***


Telah lewat beberapa minggu, hampir satu bulan. Xin'er menatap ke arah langit malam yang redup dengan boneka jerami di tangannya. Itu adalah boneka jerami yang saat itu Ayahnya perbaiki. Malam ini langit begitu redup, bulan tertutupi oleh awan sehingga cahayanya tak sampai pada daratan.


“Apakah Ayah baik-baik saja?”


Xin'er bergumam. Pandangannya masih ke atas sana. Bintang dan bulan tak terlihat karena awan-awan yang hampir menutupi seluruh langit dalam pandangannya.


“Xin'er, kita harus segera pergi dari sini!”


Ibunya tiba-tiba menghampirinya dan menarik lengannya supaya berdiri dan mengajaknya untuk lari. Tapi, untuk apa?


Xin'er menghentikan langkahnya dan berbalik untuk mengambil boneka jerami yang terjatuh. Namun, Ibunya segera menarik lengan Xin'er supaya segera pergi dari sana.


“Ibu, sebenarnya ada apa? Kenapa harus lari?”


Ibunya menghentikan langkahnya dan terdiam sejenak. “Xin'er, kita harus segera pergi. Di sini sudah tidak aman lagi. Ingatlah, apapun yang terjadi, tetaplah lari dan jangan menengok ke belakang!”


Ibunya terlihat panik. Xin'er masih penasaran dengan apa yang terjadi. Namun, dia tetap mengikuti Ibunya dan berlari entah kemana.


Sementara di tempat tadi, beberapa orang dengan pakaian serba hitam muncul. Mereka memakai masker hitam sehingga hanya matanya saja yang terlihat.


“Bukankah ini terlalu sepi? Walaupun yang tinggal hanya 2 orang, tapi bukankah ini sangat tidak wajar?”


Rekannya menyipitkan mata. Alisnya berkedut. Kemudian, dia langsung membuka pintu dengan kasar hingga pintunya hampir copot. Dia menelisik ke segala penjuru rumah, namun tidak menemukan tanda-tanda kehidupan.


Dia menggebrak meja di sampingnya dengan kesal, “S*al! Apakah mereka sudah tahu? Sepertinya mereka telah kabur.”


Dari suaranya itu adalah suara seorang wanita. Apalagi tubuhnya yang kecil dan juga ramping. Sudah pasti itu adalah wanita.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”


Wanita itu menyipitkan matanya dengan tangan mengepal erat hingga buku-bukunya memutih. “Tentu saja menemukannya. Cepat cari kemanapun! Tidak mungkin mereka telah pergi jauh!”


Keduanya langsung mencari ke segala arah dan menemukan jejak kaki. Kemarin hujan dan tanah masih sedikit becek, jadi ini pastilah jejak dari dua orang yang sedang mereka cari.


...🌾🌾🌾...