
Episode sebelumnya .....
Xuan Yi masih dalam kereta kuda dalam perjalanan menuju kediaman Zhang. Ia memangku dagunya dengan tangan dan melirik ke arah luar. Pohon-pohon yang berada di luar seolah sedang berjalan. Ia menghela nafas bosan.
“N-nona, anda .... baik-baik saja?” tanya Yilan dengan ragu.
“Yilan, sepertinya kita harus membelikan sesuatu untuknya. Mana bisa berkunjung dengan tangan kosong. Kebetulan kita melewati pasar.“ ucap Xuan Yi tiba-tiba. Entah dia dengar apa yang dikatakan oleh Yilan atau tidak. Yilan menatap ke arah luar, dan memang sekarang melewati pasar.
***
Kini kereta kuda milik kediaman Yan telah tiba di depan kediaman Zhang. Xuan Yi segera turun dari sana dengan dibantu oleh Yilan yang turun terlebih dulu untuk membantu nonanya. Ia menatap sejenak bagian depan dari kediaman Zhang yang dijaga oleh 2 orang.
“Permisi, aku datang untuk memenuhi undangan dari Nona Ketiga Zhang.” sapa Xuan Yi pada kedua penjaga sambil tersenyum.
Kedua penjaga itu menatap sejenak pada Xuan Yi, lalu menatap kereta kuda yang memiliki lambang 'Yan'. Mereka pun tahu jika gadis di depan mereka ada nona dari Kediaman Yan.
“Izinkan saja dia, Nona Yan ini adalah tamuku.” ucap sebuah suara dari balik gerbang.
Kedua penjaga itu langsung membuka gerbang karena mengenali siapa pemilik suara tersebut. Mereka menundukkan badan saat gadis itu lewat. “Hormat pada Nona Ketiga.”
Zhang Yui Wei mengibaskan pelan tangannya dan menghampiri Xuan Yi. Xuan Yi tertegun sejenak saat melihat gadis merah muda itu. Kini ia ingat, dia adalah gadis yang bersama Zhang Jiu Zhi saat di festival. Ternyata dia adiknya. Sepertinya dia lupa kalau ada Yang Jia Jun juga di sana.
“Ternyata kita bertemu lagi, Nona Zhang. Maaf saat itu aku tidak memperkenalkan diri.“ ucapnya sambil tersenyum. “Perkenalkan, aku Yan Xuan Yi, Nona Pertama kediaman Yan.” lanjutnya memperkenalkan diri dengan anggun.
Zhang Yui Wei hanya mengibaskan tangannya. Ia tidak ingin berbasa-basi lagi dengan Xuan Yi dan menyuruhnya untuk masuk. Mungkin ia bisa menanyakan soal hubungan gadis itu dengan kakak pertamanya.
***
DOEENG
Xuan Yi dan Zhang Yui Wei kini tengah duduk berhadapan—dengan camilan dan teh sore yang dihidangkan di depan mereka. Xuan Yi kini tengah menyeruput tehnya dengan anggun dan tersenyum menatap Zhang Yui Wei—seperti tengah menunggu gadis merah muda itu untuk membuka pembicaraan sore mereka.
Namun, Zhang Yui Wei hanya duduk manis di kursinya dan tersenyum kikuk sambil meremas rok hanfunya. Ia sungguh tak tahu bagaimana mengawalinya. Padahal, ia sendiri yang mengundangnya, namun malah terdiam seperti orang t*lol.
Xuan Yi meletakkan cangkir tehnya di atas lambar cantik—yang memang bagian dari peralatan teh—dan menatap cangkir teh itu sejenak dengan pandangan seperti tengah menerawang.
“Ada keperluan apa nona Zhang ini mengundangku? Mungkinkah ada sesuatu yang penting?”
Zhang Yui Wei terpaku sejenak dan menghela nafas. “Sebenarnya, tidak ada hal yang penting juga untuk aku bahas. Namun, aku hanya merasa bosan di sini. Makanya, aku mengundangmu untuk menjadi teman sore. Apakah kau keberatan akan hal itu?”
Lagi-lagi Xuan Yi hanya memberikan sebuah senyuman padanya. “Yah, aku tidak keberatan juga. Jadi, apa yang akan kita bicarakan? Apa nona punya topik? Jujur saja, aku tidak terlalu tahu-menahu apa yang para gadis perbincangkan saat bersama. Mungkin nona Zhang tahu?”
Haish, dia saja tidak tahu. Apa kalian tahu?
Zhang Yui Wei tersenyum kikuk dengan pandangan yang sedikit menunduk. “Yah, sepertinya kita berdua sama-sama tidak punya topik untuk dibicarakan. Baiklah, aku sebenarnya punya pertanyaan untukmu. Bisakah kau menjawabnya?”
Eh?
Xuan Yi terdiam sejenak. Melihat hal itu, Zhang Yui Wei tersenyum tipis dan melambai-lambaikan tangannya. “Anu .... jika tidak bisa menjawab juga tidak apa-apa,”
“Apa hubunganmu dengan kakak pertamaku—Zhang Jiu Zhi?”
“Eum ....”
Xuan Yi tampak tengah berpikir, kata-kata apa yang cocok untuk mengatakannya? Ia menimang-nimang rangkaian kata yang tepat dan menghela nafas.
“Anu .... jujur saja, aku juga tidak tahu,”
Tidak tahu?
Zhang Yui Wei jadi bingung sendiri. Karena penasaran, tentu saja ia akan bertanya pada yang bersangkutan. Namun, yang ditanya juga tidak tahu, lalu bagaimana dengannya?
Xuan Yi menggenggam tangannya sendiri dan melanjutkan perkataannya. “Aku .... tidak bisa mengingat apapun. Kau mungkin berpikir aku sedang bercanda, tapi aku memang tidak mengingat apa-apa. Jika aku ingin mengetahui sesuatu, ada Yilan yang akan menjawabnya. Namun, dia tidak mengatakan apapun saat aku bertanya tentang Zhang Jiu Zhi.”
Xuan Yi tersenyum simpul.
Jadi, intinya adalah, Xuan Yi kehilangan ingatannya? Apakah ia harus membantunya supaya mengingatnya kembali? Zhang Yui Wei melirik pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka. Yilan, pelayan Xuan Yi yang setia berdiri di sana sambil menunggu nonanya yang saat ini tengah menikmati sore. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Datar seperti tembok.
Sesaat kedua netra mereka saling terikat satu sama lain. Namun, Yilan kembali dengan posisi tadi—sedikit menunduk. Ia tak ingin berlama-lama menatap mata magenta yang sangat unik itu.
***
Jadi, ia harus bertanya pada Zhang Jiu Zhi sendiri jika masih ingin mengetahuinya? Zhang Yui Wei tak mendapatkan apapun dari Xuan Yi. Mereka akhirnya hanya berbincang tentang hal yang remeh.
Ia menatap Hua Hua yang tengah membereskan peralatan teh miliknya dan membawanya kembali.
“Hua Hua, apakah kau ada mengetahui sesuatu?” tanyanya menyelidik.
“Mengetahui apa?” tanya Hua Hua balik.
“Tentang hubungan kakak pertama dengan Xuan Yi.”
Hua Hua tersenyum kikuk mendengar hal itu. “Nona, kenapa menanyakan hal itu pada saya? Sekalipun para pelayan asyik bergosip, tapi saya juga tidak terlalu mempedulikan mereka. Jadi, saya juga tidak tahu akan hal itu.”
Hua Hua permisi ke belakang untuk membersihkan peralatan tehnya. Namun, langkahnya tiba-tiba saja berhenti dan menoleh, mendapati Zhang Yui Wei yang tengah memangku dagu dengan tangan sambil menatap ke arah lain dengan mata kosong.
“Mungkin nona tanyakan saja langsung pada tuan muda. Eh, kalau tidak salah, bukankah tuan muda Yang itu dekat dengan tuan muda? Mungkin—”
Zhang Yui Wei langsung menggebrak meja dengan girang. “Bingo!”
Ia menyalami Hua Hua dan mengguncangnya dengan sangat bersemangat kemudian pergi meninggalkan gadis pelayan itu. Ia akan pergi ke paviliun kakaknya, mungkin saja pria menyebalkan itu ada di sana. Jadi, ia bisa bertanya pada teman kakaknya itu.
Sementara Hua Hua hanya terdiam. Rasanya ia mendengar burung gagak yang berkicau dan angin sepoi-sepoi yang menerpanya. Apa itu bingo? Rasanya ia seperti orang linglung.
...🌾🌾🌾...