Travel In A Different World

Travel In A Different World
Ch. 073. Jangan Bersembunyi Seperti Tikus



“Mungkin nona tanyakan saja langsung pada tuan muda. Eh, kalau tidak salah, bukankah tuan muda Yang itu dekat dengan tuan muda? Mungkin—”


Zhang Yui Wei langsung menggebrak meja dengan girang. “Bingo!”


Ia menyalami Hua Hua dan mengguncangnya dengan sangat bersemangat kemudian pergi meninggalkan gadis pelayan itu. Ia akan pergi ke paviliun kakaknya, mungkin saja pria menyebalkan itu ada di sana. Jadi, ia bisa bertanya pada teman kakaknya itu.


Sementara Hua Hua hanya terdiam. Rasanya ia mendengar burung gagak yang berkicau dan angin sepoi-sepoi yang menerpanya. Apa itu bingo? Rasanya ia seperti orang linglung.


***


“Guru, lihat apa yang aku bawa! Bukankah ini sangat bagus?”


Lu Xiao Lan menghela nafas, lagi. Rasanya rambutnya jadi rontok—pusing melihat Lan Dao Dao yang setiap hari datang ke Guild sambil berteriak dan memanggilnya Guru. Ia ingin sekali cuti, namun juga tidak bisa seenaknya.


“Guru, lihatlah obat yang kubuat ini. Apa yang kurang dari pil ini?” tanya Lan Dao Dao sambil membawa beberapa butir pil dan menunjukkannya pada Lu Xiao Lan—walaupun gadis itu tidak memperhatikannya karena sedang fokus untuk membuat pil.


“Bisakah kau diam?” namun, percuma saja. Gadis kecil itu tak henti-hentinya mengoceh sedari tadi. Yang ia herankan, darimana asal isi kepalanya hingga menemukan banyak topik untuk dibahas?


“Guru—” langsung saja Lu Xiao Lan menyela kalimat yang belum terselesaikan itu. “Dan panggil aku Guru. Aku tidak menerima murid,”


Lan Dao Dao menggerutu. Tidak menerima murid? Ia sama sekali tidak menggubris kalimat itu. Biar saja tidak menerima murid, tapi ia akan berusaha untuk menjadi satu-satunya muridnya.


“Ya ya, Guru selalu mengatakan itu. Murid tidak keberatan jika tidak dianggap. Tapi, tolong ajari aku!” rengeknya.


Mengajarinya? Itu sama saja dengan memintanya untuk menjadi Gurunya. Ia benar-benar tidak ingin mengambil murid. Lagi pula, ia juga tidak membutuhkannya.


“Lakukan saja sesukamu, tapi aku tidak ingin mengajarimu apapun. Mintalah Ketua untuk mengajarimu saja,”


“Kenapa kau tidak mengajarinya saja, nona? dia sangat ingin menjadi muridmu. Apakah kau tidak akan memikirkannya dulu?” Lan Dao Dao tersenyum cerah—secerah senyuman seorang karyawan yang baru saja mendapatkan gajinya. Ia sangat bersemangat saat Ketua mendukungnya. Berkebalikan dengan Lu Xiao Lan yang wajahnya masam.


“Mereka ini sengaja berkomplot untuk memojokkanku,” gerutunya dalam hati.


“Tidak tidak. Aku tidak akan—”


DUOOR


Kretak


Praang


DOEEENG



“HUUAA!!”


Ketua dan Lan Dao Dao seketika berteriak saat melihat tungku pembuatan pil retak, lalu pecah menjadi berkeping-keping. Pil yang masih setengah jadi pun tercecer di lantai. Tadi sempat ada bunyi ledakan—namun tidak terlalu besar. Itu berasal dari pil yang meledak karena suhunya yang tak sesuai.


Kini, mereka merasakan akan ada krisis yang akan menimpa mereka. Keduanya menatap takut-takut pada Lu Xiao Lan yang wajahnya sudah sangat masam—seperti wajah saat tanggal tua—menoleh dengan tersenyum. Tentu saja senyum itu mempunyai arti lain.


“Anu .... itu, Guru ....” Lan Dao Dao berbicara dengan tergagap. Rasanya ia tak bisa berbicara dengan bahasa manusia yang baik dan juga benar. Dan juga jelas.


“Aku .... masih ada urusan. Ha-ha, sebaiknya, kau lanjutkan saja membuat pilnya.” Ketua langsung kabur secepat teman yang lari saat ditagih utang.


“Gawat!! Sepertinya Guru—”


“Haih, sudahlah. Salahku juga yang terlalu pelit dan menggunakan tungku kualitas rendah seperti ini.” gumam Lu Xiao Lan.


Lan Dao Dao yang tengah tertunduk—langsung menatap Lu Xiao Lan dengan wajah yang terkejut. Apakah dia tidak marah?


Sepertinya benar. Lu Xiao Lan mengumpulkan pecahan tungku yang tercecer cukup berjauhan supaya tidak ada yang menginjaknya dan terluka. Ia juga membereskan pil setengah jadinya.


“Guru, tanganmu terluka,” ucap Lan Dao Dao pelan.


Hah?


Lu Xiao Lan melirik tangan yang tadi digunakannya untuk menggenggam pecahan tungku—lalu menatap lantai yang sedikit ternoda oleh tetesan darahnya. Tangannya masih meneteskan darah walaupun tidak terlalu deras.


“Benarkah? Bahkan aku tak menyadarinya ....” Lu Xiao Lan bergumam sendiri lalu pergi untuk membersihkan luka di tangannya—tentunya setelah membereskan kekacauan di lantai. Sedang Lan Dao Dao hanya mengekor di belakangnya dengan wajah yang ditekuk—merasa bersalah. Namun, ia beruntung karena Lu Xiao Lan tak meledak.


CUURR


Lu Xiao Lan membersihkan lukanya dengan air yang mengalir—dan tentu saja bersih. Lan Dao Dao terus menatap Lu Xiao Lan yang biasa saja—tidak meringis sekalipun karena kesakitan. Bahkan ada pecahan tungku yang sangat kecil menusuk tangannya. Ia sendiri merasa ngeri saat Lu Xiao Lan dengan santainya mencabut benda yang menusuk itu dan membuangnya.


“Guru, biarkan aku yang membalut lukanya,” ucap Lan Dao Dao dengan bersungguh-sungguh. Lu Xiao Lan yang tengah menutup luka—dengan tanaman herbal yang telah ditumbuk—menoleh.


Ia tak keberatan jika gadis itu ingin membalut lukanya. Lan Dao Dao—dengan tangan yang seperti sudah terbiasa—dengan lihainya membalut lukanya dengan rapi.


Tidak ada lagi percakapan diantara keduanya.


Lu Xiao Lan bangkit dari posisi duduknya—berjalan meninggalkan Lan Dao Dao yang masih setengah berlutut di lantai. Gadis itu segera berdiri.


“Maaf, Guru. Aku malah mengacaukan pil yang kau buat. Aku bisa menggantinya. Jadi, ajari aku cara membuatnya. Bukan untuk menjadi Guruku, tapi untuk aku mengganti pilnya.”


Lu Xiao Lan tertegun sejenak mendengar penuturan yang mengejutkan itu. Tak perlu sampai sebegitunya juga. Ia juga bisa membuatnya ulang, tak perlu Lan Dao Dao untuk membuatkannya.


“Tidak perlu, aku juga tidak membutuhkan ganti rugimu.” Lu Xiao Lan berniat berkata dengan lebih lembut, namun ucapannya barusan itu terdengar ketus.


Keduanya tak lagi ada yang bicara. Dan lagi, Lu Xiao Lan memilih untuk pulang ke rumahnya. Bukan karena ia marah atas kejadian tadi, namun karena tubuhnya sudah cukup lelah dan ingin segera tidur di ranjang empuknya.


“Aku pergi dulu. Oh, satu lagi. Katakan pada seseorang untuk tidak menguping pembicaraan orang lain, itu perilaku yang sangat tidak sopan. Jika ada yang ingin disampaikan, katakan saja langsung. Jangan bersembunyi seperti tikus,”


JLEEB


Rasanya perkataan itu sedang menyindir dirinya. Memang sedari tadi ia bersembunyi di balik tembok—bukan pergi untuk urusan yang mendesak, karena memang tidak ada. Ia hanya mengarang alasan untuk bisa menguping.


Eh?


Lan Dao Dao melirik ke belakang—tempat Ketua sedang bersembunyi. Padahal sudah jelas kalau dia sudah ketahuan, tapi masih saja bersembunyi.


“Pria tua itu benar-benar ....”


...🌾🌾🌾...